Diduga Separuh Narkotika Negara Ini Berasal dari Jiran, Malaysia Sengaja Loloskan untuk Hancurkan Indonesia?

Ilustrasi.NET

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Penangkapan Narkotika dari Malaysia dalam jumlah besar yang lolos dari border jiran itu ke Kalbar mencuatkan tanda tanya besar. Apakah Malaysia sengaja?

“Dengan sering tertangkapnya kasus penyeludupan Narkoba asal Malaysia ini, saya kayaknya yakin lebih dari separuh Narkoba yang ada di Indonesia berasal dari Malaysia,” ujar Walikota Pontianak, Sutarmidji, Selasa (19/4).

Yang teranyar, tentu saja, tangkapan Polres Bengkayang dan Sambas dalam rajutan Operasi Berantas Sindikat Narkoba (Bersinar) 2016 sebanyak 27 Kg sabu-sabu. “Kita perlu memberi peringatan kepada pihak Malaysia terkait keamanan mereka, apakah memang sengaja membiarkan,” seru pemilik akun Twitter @BangMidji ini.

Ia menduga adanya pembiaran bahkan kerja sama terselubung antara petugas Malaysia dengan pedagang Narkotika agar barang haram tersebut bisa masuk ke Kalbar. “Atau jangan-jangan produksi di sana dilindungi untuk dibawa ke kita. Karena banyak kasus penyeludupan Narkoba ini lolos dari pantauan keamanan Malaysia, namun tertangkap oleh aparat kita,” ulas Midji.

Sejauh ini, lanjut dia, penangkapan yang dilakukan pihak Malaysia khususnya di tapal batas nyaris tak pernah dipublikasikan. Padahal penyelundupan itu benar-benar ada.

“Pemberantasan Narkoba inikan merupakan satu misi internasional, kenapa sepertinya mereka terkesan membiarkan. Mungkin ada tujuan mereka untuk merusak generasi kita,” tuturnya, merujuk Perang Candu yang dilancarkan Inggris untuk menguasai China dua abad lalu.

Daerah pertama yang disasar sindikat narkotika tentu kawasan perkotaan, dalam hal ini salah satunya Kota Pontianak yang dia pimpin. Agar kehancuran Indonesia tak terjadi, walikota dua periode ini berharap ada langkah khusus menyikapi hal tersebut.

ADA PENGGUNA, YA

ADA PENGEDARNYA

Senada, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pontianak, AKBP Agus Sudiman. Ia tidak menampik maraknya peredaran Narkoba di Kota Pontianak.

“Selama masih banyak pengguna dan pengawasan di beberapa titik rawan tidak dilakukan, tentu pengedar tidak akan menghentikan suplainya,” paparnya.

Menurut Agus, jaringan pengedar Narkotika tersusun rapi. Hal tersebut merupakan salah satu kendala dalam menggasak sindikat tersebut. “Memang kendala dalam pengungkapan Narkoba itu selalu putus jaringannya. Untuk melindungi level big boss-nya, pengedar kecil kerap safety alias tutup mulut. Banyak beralibi menyiasati dan menyamarkan siapa di atas mereka,” tandas dia.

OPERASI BERSINAR BERAKHIR

Sementara itu, hari ini, Polda beserta jajaran Polres 14 kota/kabupaten di Kalbar mengakhiri periode Operasi Bersinar 2016. Tak sedikit yang berhasil ditangkap (lihat grafis) dalam sebulan terakhir sejak dimulainya Operasi Bersinar pada 21 Maret 2016.

Hingga 17 April lalu, polisi sudah meringkus ratusan tersangka Narkoba di Kalbar. “Jika ditotalkan, ada sekitar 119 tersangka, baik itu bandar, pengedar, kurir (jaringan internasional Malaysia-Indonesia), termasuk para pemakai,” ungkap Kapolda Brigjen Pol Arief Sulystianto melalui Pejabat Sementara (PS) Kabid Humas AKBP Badarudin.

Barang bukti yang disita polisi dari awal Operasi Bersinar dimulai adalah Narkoba jenis sabu sebanyak 17,2 Kg, ekstasi 34 butir, dan ganja 10 gram. “Sebelumnya hanya 2, 28 ons sabu saja. Mengingat tanggal 17 April kita mengungkap sindikat internasional, akhirnya jumlah sabu yang berhasil kita amankan 17,2 Kg sabu,” paparnya.

Dalam Operasi Bersinar, untuk mengungkap penyalahgunaan Narkotika, jajaran Polda tidak hanya melakukan penyelidikan. Tetapi juga melibatkan masyarakat.

“Kita berterima kasih kepada masyarakat yang berperan aktif memberikan informasi kepada kita. Ini salah satu wujud masyarakat memerangi Narkoba,” ujar Badarudin.

Bandar, pengedar, dan kurir, dijerat Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. “Sedangkan untuk para pemakai yang tercatat 51 orang, dilakukan asessment maupun pembinaan, penyuluhan, dan sosialisasi, tentang Narkoba. Kita berkoordinasi dengan BNNP untuk direhabilitasi,” tegasnya.

Hanya saja, perburuan terhadap pelaku Narkotika, ia melanjutkan, tidak berakhir meski Operasi Bersinar besutan Kapolri selesai pada Rabu 20 April 2016. “Kita tetap terus menindaklanjuti hasil dari Operasi Bersinar ini, angka peredaran Narkoba di Kalbar harus terus ditekan,” tandas Badarudin.

Laporan: Gusnadi dan Achmad Mundzirin

Editor: Mohamad iQbaL