Dibutuhkan Perjuangan 20 Orang, Evakuasi Wanita Berbobot 350 Kg

0
PENUH PERJUANGAN. Belasan orang membantu proses evakuasi Titi Wati ke RSUD dr Doris Sylvanus, Jumat pagi (11/1). Denar/Kalteng Pos

eQuator.co.id – PALANGKA RAYA-RK. Titi Wati alias Titin akhirnya bisa ke luar rumah. Manusia terberat di Kalteng tersebut dievakuasi dari kediamannya Jalan G Obos XXV Palangka Raya menuju RSUD dr Doris Sylvanus. Proses mengangkat pasien obesitas seberat sekitar 3,5 kintal itu berlangsung dramatis. Menarik perhatian masyarakat sekitar.

Sejak Kamis malam (10/1), Faedi suami Titin gelisah menunggu pagi. Bagaimana tidak, Jumat (11/1) adalah hari sang istrinya harus dibawa ke rumah sakit. Kekhawatirannya semakin memuncak ketika dibincangi Kalteng Pos, kemarin sore sekitar pukul 04.00 WIB.

“Jujur mas, kami sangat panik dan tidak tenang jelang evakuasi. Sesekali juga saya melihat istri saya dan terus mencoba untuk tenang dan bersabar,” kata Faedi di RSUD dr Doris Sylvanus, kemarin.

Awalnya Faedi mencoba menenangkan diri. Namun, saat tim evakuasi telah berkumpul, ia seolah kian tidak tenang dengan suasana batin yang gundah gulana. Tim evakuasi mempersiapkan diri diantaranya dengan membuat tandu dari kayu selebar sekitar 100 cm sepanjang 200 cm lebih. Tim evakuasi dan petugas rumah sakit mulai mengeluarkan Titin.

Diawali dengan berdoa bersama. Perempuan 37 tahun itu mulai berupaya meraih tandu yang terbuat dari kayu dengan bergerak seorang diri. Perlahan-lahan dia mendekati tandu. Kaki kanannya diletakkan pertama di atas tandu. Tumpuan dua tangan dan kakinya, bergerak perlahan dan kemudian berada di atas tandu. Sementara tim evakuasi hanya mengikuti pergerakan Titin.

Setelah memastikan berada di atas tandu, tim evakuasi kemudian menggotong wanita dengan bobot yang hampir mencapai 350 kg tersebut, keluar melalui pintu dan kusen jendela yang sudah dibobol.

Sekitar 20 orang berjibaku menggotong ibu satu anak tersebut. Dengan terus berusaha menahan keseimbangan, Titin dinaikkan ke pikap. Dari sini, proses evakuasi berjalan mulus. Sesekali tim evakuasi terhenti bergerak dan menjaga keseimbangan. Dengan waktu yang terbilang cukup singkat, Titin berada sempurna di atas kendaraan.

Dengan sigap tim evakuasi mengantarkan Titin ke rumah sakit. Arak-arakan kendaraan dan buyi sirene menggema sepanjang perjalanan. Persis depan Rumah Asrama Haji, mobil yang membawa Titin tiba-tiba terhenti.

Titin mengalami sesak napas. Namun dengan peralatan yang telah disediakan, kondisi tersebut dapat diatasi. Perjalanan kembali dilanjutkan.

Rombongan melewati Jalan G Obos induk menuju Jalan Imam Bonjol, kemudian masuk Jalan Suprapto, Jalan Soetomo, dan masuk melalui pintu belakang rumah sakit melalui ruang VIP I.

Kedatangan rombongan sontak membuat pengunjung dan keluarga pasien terkejut. Tak sedikit yang hanya sekedar melihat dan ada juga yang ingin mengabadikan momen tersebut.

Titin tampak gugup dan menutup wajahnya dengan kain, saat dibawa masuk menuju ruang Edelweis, kamar nomor 25. Situasi lingkungan rumah sakit pun tampak heboh.

Setelah beberapa saat, Titin kemudian berada di dalam kamar. Ia lebih memilih tidur di atas dua kasur lantai yang disediakan, dengan pertimbangan agar lebih bebas bergerak, ketimbang berada di atas ranjang berkekuatan 400 kg yang disediakan pihak rumah sakit.

“Awalnya saya memang tidak tidak menyetujui untuk dioperasi, karena trauma. Bagaimana tidak, ada beberapa keluarga kami yang meninggal pascaoperasi. Itu yang membuat saya takut,” ungkap Faedi.

Namun berkat pendekatan dan penjelasan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit, dirinya kemudian mengiklaskan sang istri untuk menjalani operasi. “Saya memang berusaha untuk tetap tenang, walaupun anak saya bersama keluarga lainnya tak tahan meneteskan air mata,”jelas Faedi.

Proses evakuasi berjalan aman dan lancar. Muncul satu harapan besar agar bobot istrinya dapat berangsur normal dan proses operasi berjalan lancar dari awal hingga akhir nanti.

“Terimakasih semua tim yang tekah membantu. Dia (Titin) sempat mengalami sesak napas dan nadinya juga cepat, karena mungkin dia gugup dan efek dari pergerakan yang dilakukannya,” kata Wakil Direktur Pendidikan dan Kemitraan RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya dr Theodorus Sapta Atmadja.

Langkah pertama setelah dirawat, pihaknya masih melakukan pemantauan karena baru mobilisasi dari rumah. Selanjutnya melakukan pemeriksaan penunjang untuk persiapan persyaratan tindakan bariatric.

“Kita harus melakukan pemeriksaan darah rutin, fungsi ginjal, fungsi hati, lemak dan lain-lain. Itu adalah suatu persyaratan untuk melakukan tindakan bariatrik,” jelas dr Theo kepada media di depan Ruang Edelweis.

Pihaknya berharap tidak ada kontraindikasi mutlak yang dapat menyebabkan operasi tidak bisa dilangsungkan. Mudah-mudahan akan berjalan dengan baik sejak awal hingga akhir.

Persiapan yang dilakukan kurang lebih 5-7 hari sebelum melaksanakan proses operasi. Selain itu saat keluar dari rumah sakit nanti, berat badan tidak langsung menurun. Tetapi diharapkan dapat berangsur menurun hingga 15-20 kg selama 1 bulan.

Peralatan yang ada di ruangan Titin juga sudah lengkap termasuk alat pacu jantung dan lain-lain, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. “Kondisinya sudah stabil dan mulai berangsur normal paska evakuasi hari ini (kemarin),” pungkasnya. (Kalteng Pos/JPG)