Di Singkawang Banjir Sepinggang Orang Dewasa

Bencana Terjang Kawasan Pantai Utara Kalbar, Di Mempawah, Ketinggian Air Mencapai Semeter

BUKAN BENCANA BARU. Tagana Singkawang mengevakuasi korban banjir sepinggang orang dewasa di Pasar Baru, Singkawang Barat, Rabu (30/11). Menurut seorang warga, biasanya kalau sudah banjir begini mereka bisa seminggu terpaksa berdiam di Posko Bencana. Suhendra-Rakyat Kalbar

eQuator.co.id – Singkawang-Mempawah-RK. Menyusul kawasan timur Kalbar, wilayah pantai utara pun diterjang banjir. Di Kota Singkawang, tinggi air mencapai pinggang orang dewasa.

Warga yang mendiami Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, sampai harus dievakuasi  ke Posko Pengungsian di kantor lurah setempat,  Rabu (30/11). Di Pasiran, sedikitnya rumah-rumah di tiga rukun tetangga terendam banjir. Diantaranya RT 11 RW 04, RT 12 RW 04, dan RT 13 RW 05.

“Ada sekitar 20 rumah yang penghuninya kita evakuasi. Untuk jumlah Kepala Keluarga dan jiwa masih kita data,” ujar Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Singkawang, Zulfian Agus, di lokasi banjir.

Kata dia, tinggi air rata-rata mencapai 1,5 meter. Agus memprediksi debit air meningkat, sebab hujan masih terus mengguyur Kota Singkawang.

“Warga harus siap-siap apabila dilakukan evakuasi,” tuturnya.

Tim gabungan dari Tagana dan BPBD Singkawang yang menyisir pemukiman warga bahkan menemukan seorang wanita berusia 50 tahun lebih yang menderita sakit jantung. Dia segera dibawa menggunakan perahu karet.

“Perempuan itu tampak sudah sesak nafas,” terang Agus.

Setakat ini, banjir meliputi Pasar Baru, Jl. Kalimantan, Jl. Pasar Turi, Jl. Rawasari, Setapuk Kecil, dan Semelagi Kecil. Ita, salah seorang warga Pasar Baru yang dievakuasi mengatakan, air sudah naik sejak subuh.

“Kami akhirnya mengungsi karena untuk tidur saja sudah tidak bisa, rumah kami terkena banjir,” ujar ibu satu anak berusia 30 tahun itu.

Senada, warga lainnya, Yani. Menurut dia, ketinggian air meningkat pada pukul 02.00.

“Biasanya, kalau sudah banjir begini, satu minggu kami di Posko pengungsian baru bisa pulang,” bebernya. Ia berharap Pemkot Singkawang mau membangun rumah susun untuk mereka.

Dipaparkan Kepala Pelaksana BPBD Kota Singkawang, Burhanuddin, jumlah pengungsi yang berasal dari Pasar Baru mencapai 60 jiwa dan 20 KK. Sedangkan di kawasan Rawasari, Bukti Batu, Condong, dan Sungai Garam, belum ada yang mengungsi meskipun ketinggian air telah mencapai selutut orang dewasa.

“Kita siap apabila ada warga yang mau dievakuasi. Saat ini para korban banjir sudah diberi pertolongan, sudah diberi bantuan logistik seperti makanan dan minuman. Apabila ada pihak lain yang mau ikut membantu, kita siap untuk menerima bantuan,” tuturnya.

Tak hanya itu, Burhanudin pun mendapat laporan, lantaran cuaca yang memburuk, sebuah tongkang pengangkut muatan barang terhempas ke kawasan tepi pantai sekitar Pak Lotay dan Pasir Panjang, Kecamatan Singkawang Selatan pada Selasa (29/11) malam sekitar pukul 23.00.

“Memang benar ada kapal yang kandas lantaran ombak yang besar karena cuaca yang buruk. Karena air juga sudah naik, kapalnya bisa jalan lagi,” ungkapnya.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. “Memang cuaca saat ini kurang baik,” terang dia.

Camat Singkawang Selatan, Elmin, pun menuturkan bahwa angin kencang plus ombak tinggi menerjang sejumlah pondok di sekitar Pasir Panjang. “Ada sekitar lima pondok dekat pantai yang kena ombak. Bukan yang di daratnya, tapi pondok santai milik warga yang di depan, dekat bibir pantai,” jelasnya.

Sementara itu, puncak perayaan Robo-Robo di Kabupaten Mempawah tak dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat di sana. Sehari sebelum acara puncak, kemarin Rabu (30/11), sejumlah kawasan diguyur hujan deras selama belasan jam.

Pantauan Rakyat Kalbar di lapangan, titik-titik banjir yang menggenangi jalan hingga pemukiman warga yaitu di Kecamatan Anjongan, Kecamatan Mempawah Hilir, dan Kecamatan Mempawah Timur. Banjir terparah mencapai ketinggian semeter merendam ratusan rumah di Desa Pasir Palembang, Kecamatan Mempawah Hilir.

Kepala Desa Pasir Panjang, Deni Zuliansyah mengungkapkan, banjir yang menggenangi desanya terjadi karena mengguyur sejak magrib (Senin, 28/11) hingga Selasa pagi (29/11). “Total KK yang rumahnya terendam banjir sekitar 400 dari total keseluruhannya 923 KK,” ujarnya.

Dua dusun di wilayah itu yang terdampak banjir paling parah adalah Dusun Tengah dan Ketam Baru. Di sana ketinggian air mencapai semeter. “Banyak warga yang mengungsi saat ini, rata-rata mengungsi ke dataran yang lebih tinggi. Ada yang menumpang di rumah keluarga,” tuturnya.

Menurut Deni, belum ada bantuan dari pemerintah yang sampai ke desanya. “Jika dalam beberapa hari kedepan masih dilanda hujan berkepanjangan, maka kami akan bangun Posko untuk para korban banjir,” cetus dia.

Setakat ini, walaupun banyak yang mengungsi, belum ada warga yang melaporkan terkena gejala sakit ataupun dampak lainnya. Meski begitu, kerugian material akibat bencana ini sedang didata.

“Puluhan hektar lahan sayur mayur warga terendam banjir dan kemungkinan besar mereka gagal panen. Banyak hewan ternak kambing, ayam, mati karena tersapu banjir,” ungkap Deni.

Berdasarkan penuturan seorang warga RT3/RW5, Desa Pasir Palembang, Suwerdi, banjir yang merendam desanya baru kali pertama ini berdampak luar biasa. Sebelumnya, jika terjadi hujan berkepanjangan tidak separah banjir saat ini.

“Saya sudah lama tinggal di sini dan baru kali ini banjir sampai masuk ke rumah,” ucap pria berusia 31 tahun itu.

Ia menduga air yang menjadi bencana bagi desanya karena resapan air berkurang lantaran di ujung desa sudah banyak pembukaan lahan untuk sawit hingga ke bukit-bukit. “Mohon pemerintah daerah dapat memberikan bantuan kepada kami, terutama makanan, selimut, dan obat-obatan untuk jaga-jaga,” tandas Suwerdi.

 

Laporan: Suhendra dan Ari Sandy

Editor: Mohamad iQbaL