Features

Dari Bara Api hingga Bangku Sekolah, Honda Temani Perjuangan Afi

Admin Fb
Bagikan WhatsApp
eQuator.co.id – PONTIANAK – Bagi sebagian orang, sepeda motor hanyalah alat transportasi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun, bagi Lioe Fui Tjung (59), atau yang akrab disapa Afi, sepeda motor Honda memiliki makna jauh lebih dalam. Di atas dua roda itulah, ia menggantungkan harapan keluarga, menjemput rezeki, hingga berpacu dengan waktu demi membantu sesama.

Sejak pagi ketika matahari mulai menyapa Kota Pontianak, Afi telah bersiap meninggalkan rumah. Sebagai buruh bangunan, pekerjaan yang dilakoninya menuntut tenaga dan ketekunan. Panas terik, debu, dan beratnya pekerjaan fisik telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah surut: tekadnya untuk memberikan kehidupan dan pendidikan yang layak bagi ketiga buah hatinya.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Afi membuktikan bahwa penghasilan sebagai buruh bangunan tetap bisa menjadi jalan untuk memperjuangkan masa depan anak-anaknya. Rupiah demi rupiah yang diperolehnya dari hasil bekerja disisihkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak-anaknya.

Baginya, pendidikan merupakan bekal berharga yang dapat membuka peluang kehidupan lebih baik bagi generasi berikutnya.

Dalam perjuangan panjang itu, sebuah Honda Blade keluaran tahun 2009 menjadi teman setianya. Sepeda motor tersebut setiap hari membawanya menempuh perjalanan hingga puluhan kilometer, menyusuri jalanan Kota Pontianak untuk mencari nafkah.

Usianya memang tak lagi muda. Begitu pula sepeda motor yang dikendarainya. Namun, keduanya seolah memiliki kesamaan: tetap tangguh menjalani hari demi hari.

Tiga Generasi Motor Honda, Satu Cerita Kesetiaan

Kedekatan Afi dengan Honda bukanlah cerita yang baru dimulai beberapa tahun belakangan. Sejak dekade 1990-an, ia telah mempercayakan mobilitas sehari-harinya kepada sepeda motor berlambang sayap mengepak tersebut.

Honda Astrea Grand menjadi kendaraan pertamanya pada era 1990-an, ketika motor legendaris itu begitu populer di tengah masyarakat. Kemudian pada 1999, Afi beralih menggunakan Honda Astrea Impressa.

Hingga akhirnya, pada 2009, pilihannya jatuh kepada Honda Blade yang masih setia menemaninya sampai sekarang.

Berganti model dan melewati berbagai fase kehidupan, satu hal tidak berubah: kepercayaannya terhadap ketangguhan sepeda motor Honda.

Menurut Afi, keawetan mesin, kemudahan memperoleh suku cadang, serta biaya perawatan yang terjangkau menjadi alasan utama dirinya terus memilih Honda.

“Saya akui dari dulu sepeda motor Honda ini sangat awet, sparepart-nya terjangkau, mudah didapat. Intinya jangan lupa ganti oli saja agar mesinnya terjaga. Motornya enggak rewel!” ujar Afi saat ditemui eQuator.co di kediamannya.

Baginya, motor yang tangguh bukan semata-mata soal kenyamanan berkendara, melainkan juga kepastian untuk tetap bisa bekerja.

Sebab, ketika kendaraan menjadi tumpuan mencari nafkah, keandalan mesin memiliki arti besar bagi keberlangsungan ekonomi keluarga.

Honda Blade miliknya pun tidak hanya digunakan untuk perjalanan menuju tempat kerja. Motor yang sama turut menjadi andalan saat mengantar anak sekolah, berbelanja kebutuhan rumah tangga, hingga menjalankan berbagai aktivitas keluarga.

Dari perjalanan mencari upah hingga mengantarkan anak menuntut ilmu, Honda Blade menjadi saksi bisu perjuangan seorang ayah yang tak pernah berhenti berusaha.

Ketika Deru Mesin Berpacu dengan Kobaran Api

Namun, kisah Afi tidak berhenti pada perjuangannya sebagai kepala keluarga.

Di balik kesehariannya sebagai buruh bangunan, pria berusia 59 tahun itu ternyata memiliki kepedulian sosial yang begitu besar. Selama sekitar 20 tahun, ia mengabdikan sebagian waktu dan tenaganya sebagai relawan di Pemadam Kebakaran Gotong Royong (UPKGR).

Di tengah kesibukan bekerja dan tanggung jawab terhadap keluarga, Afi tetap berusaha hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

Bagi Afi, menjadi relawan pemadam kebakaran bukan tentang mendapatkan imbalan ataupun pengakuan. Pengabdian itu tumbuh dari kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang sedang menghadapi musibah.

“Sudah 20 tahun bergabung di UPKGR. Ikut bergabung semua karena alasan kemanusiaan, bisa menolong sesama, apalagi musibah kebakaran. Itu sudah tanggung jawab kita bersama,” ungkapnya.

Setiap kali terjadi kebakaran, Afi berusaha mengambil peran sesuai kemampuannya.

Tak jarang, panggilan kemanusiaan datang ketika dirinya masih berada di lokasi pekerjaan. Dalam situasi seperti itu, Honda Blade kembali menjadi andalannya untuk segera menuju tempat kejadian.

Jika tidak sempat berangkat bersama mobil pemadam, ia akan menyusul menggunakan sepeda motor kesayangannya.

“Biasa pakai mobil pemadam, tapi sering pakai motor kalau sudah tertinggal. Karena saya bekerja, jadi langsung menyusul di tempat terjadinya kebakaran. Motornya laju, sehingga bisa tepat waktu dan pastinya hemat bensin,” tutur Afi.

Di sinilah Honda Blade memiliki peran yang berbeda dalam kehidupan Afi.

Pada pagi hari, motor itu mengantarkannya mencari nafkah. Pada kesempatan lain, kendaraan yang sama membawanya menjalankan panggilan kemanusiaan.

Dari jalanan menuju lokasi pembangunan hingga perjalanan menyusul tim pemadam kebakaran, roda Honda Blade terus berputar mengiringi dua tanggung jawab besar yang dijalaninya: menghidupi keluarga dan membantu sesama.

Jika api menjadi ancaman bagi harapan sebagian orang, Afi justru memilih mendekatinya untuk membantu menyelamatkan harapan tersebut.

Di Balik Kerasnya Pekerjaan, Ada Cita-Cita Anak yang Diperjuangkan

Menjalani kehidupan sebagai buruh bangunan tentu bukan perkara mudah. Penghasilan yang bergantung pada pekerjaan, kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan, serta biaya pendidikan ketiga anak menjadi tanggung jawab yang harus dipikul Afi.

Meski kondisi ekonomi keluarganya terbatas, ia tidak menjadikan keadaan sebagai alasan untuk menyerah.

Dengan bekerja keras setiap hari, Afi mampu mengupayakan pendidikan bagi anak-anaknya. Baginya, setiap tetes keringat yang jatuh di tempat kerja menyimpan harapan agar masa depan ketiga buah hatinya menjadi lebih baik.

Honda Blade yang menemaninya sejak 2009 pun seolah menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.

Motor itu mungkin tak bisa berbicara. Namun, jika setiap kilometer perjalanannya dapat berkisah, tentu ada begitu banyak cerita tentang kerja keras, pengorbanan, dan kasih sayang seorang ayah di sepanjang jalan yang pernah dilaluinya.

Kesederhanaan hidup tidak membuat Afi kehilangan kepedulian terhadap orang lain. Di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri, ia masih menyisihkan tenaga untuk masyarakat yang tertimpa musibah.

Sebuah pengabdian yang menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus membatasi besarnya kepedulian seseorang.

Kepercayaan yang Berlanjut kepada Anak

Kecintaan Afi terhadap Honda kini juga diteruskan kepada generasi berikutnya.

Selain Honda Blade yang telah digunakan selama belasan tahun, keluarganya memiliki satu unit Honda BeAT Street yang dibelikan Afi untuk menunjang aktivitas pekerjaan anak pertamanya.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Pengalaman panjang menggunakan berbagai model Honda membuat Afi percaya terhadap efisiensi bahan bakar serta ketangguhan kendaraan tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

“Sama dengan motor sebelumnya, motor matik punya anak saya juga bagus, hemat bensin dan pastinya tidak gampang rusak, karena memang betul-betul kami jaga,” katanya.

Afi juga mengungkapkan rasa senangnya setelah mendapatkan manfaat dari program ganti oli gratis yang diselenggarakan Honda.

Bagi keluarga yang mengandalkan kendaraan untuk beraktivitas dan bekerja, perhatian terhadap perawatan sepeda motor seperti itu memiliki arti tersendiri.

“Kemarin kami dapat ganti oli gratis program dari Honda. Saya sangat senang. Terima kasih Honda karena selalu hadir membersamai kami,” pungkasnya.

Lebih dari Sekadar Kendaraan, Honda Menjadi Bagian dari Perjalanan Hidup

Dari Honda Astrea Grand pada era 1990-an, Astrea Impressa pada 1999, hingga Honda Blade sejak 2009, perjalanan Afi bersama Honda telah melewati berbagai babak kehidupan.

Di balik kendaraan yang terus menemaninya, tersimpan kisah seorang ayah yang bekerja keras untuk pendidikan anak-anaknya, seorang suami yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus relawan yang tetap peduli terhadap keselamatan masyarakat.

Di usia 59 tahun, Afi masih menjalani hari-harinya dengan semangat yang sama: bekerja, mengabdi, dan terus bergerak.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa sebuah perjalanan tidak selalu diukur dari seberapa jauh seseorang telah menempuh jalan, melainkan dari seberapa besar perjuangan dan manfaat yang dibawanya sepanjang perjalanan itu.

Sebab, bagi Afi, Honda bukan sekadar kendaraan untuk mengejar rezeki. Di atas dua roda itulah, ia menjemput harapan bagi keluarga dan bergegas hadir saat sesama membutuhkan pertolongan.

Dari bara api hingga bangku sekolah, roda pengabdian Afi terus berputar bersama Honda. (Ova)