Biaya Tak Seharusnya Ditanggung Negara

Pencarian Korban dan Pesawat Lion Air Biaya Tak Seharusnya

19
PENYELAM GUGUR. Lyan Kurniawati (istri Syachrul Anto/Abu-abu) memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah suaminya yang meninggal dunia saat melakukan evakuasi bangkai pesawat Lion Air JT 610 di Kerawang sebelum dikebumikan, Sabtu (3/11). Dipta Wahyu/Jawa Pos

eQuator.co.id – Jakarta-RK. Seluruh biaya proses pencarian pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Jawa barat semestinya ditanggung manajemen perusahaan yang didirikan oleh Rusdi Kirana itu. Bukan malah ditanggung oleh Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Diberitakan RMOL (Jawa Pos Group), Pakar Asuransi Penerbangan Sofian Pulungan menegaskan, tak hanya biaya terkait upaya pencarian korban, biaya evakuasi bangkai pesawat komersil yang jatuh semestinya juga ditanggung penuh oleh maskapai penerbangan.
“Memang seharusnya biaya social rescue itu tidak dibebankan kepada negara, apalagi APBN,” tegasnya dalam diskusi bertajuk ‘Awan Hitam Penerbangan Kita’ di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (3/11).
Diakuinya, memang merupakan tugas dan kewajiban negara untuk melaksanakan eksekusi dari evakuasi dan penyelamatan. Namun pembebanan biayanya, tetap harus ditanggung maskapai penerbangan. Hal itu, katanya, disadari betul oleh seluruh maskapai penerbangan. Makanya, setiap maskapai penerbangan sudah tentu punya asuransi tentang itu.
“Asuransinya termasuk asuransi social rescue. Jadi berapapun biaya social rescue itu sepenuhnya ditanggung asuransi,” ujarnya.

Jadi kata dia, tidak ada dan tidak boleh APBN digunakan untuk membiayai social rescue ini. “Karena ini merupakan uang negara dan APBN,” pungkasnya.

Dijelaskannya, biaya bagi keluarga korban yang ingin mengunjungi tempat kejadian perkara (TKP) juga ditanggung maskapai Lion Air.
“BFI Center (lembaga keuangan) tahu kan itu semua biayanya di-cover oleh asuransi. Juga termasuk kalau keluarga ingin mengunjungi TKP-nya juga itu dibiayai oleh asuransi, biaya pendampingan psikologis juga,” ungkapnya.
Dia menyebut, bahwa batas paling atas asuransi yang bisa diklaim oleh maskapai dalam setiap kejadian adalah sebesar 750 juta dolar AS. Jumlah itu, sudah termasuk hampir semua keperluan selama proses pencarian dan evakuasi korban maupun bangkai pesawat yang jatuh. “TPI, Tugu Pratama Indonesia. Itu adalah perusahaan asuransi yang mengcover Lion Air,” jelas Sofian.

Sementara itu, seorang penyelam bernama Syachrul Anto meninggal dunia saat proses pencarian korban dan badan pesawat Lion Air PK-LQP di perairan Karawang, Jawa Barat.

Syachrul meninggal dunia, Jumat malam (2/11). Dia diketahui penyelam sipil yang berada di bawah Basarnas saat proses pencarian Lion Air PK-LQP.
Leader Indonesia Diving Rescue Team (IDRT), Bayu Wardoyo mengatakan, pihaknya bukan mengajukan diri, tapi ada di bawah koordinasi Basarnas. Dijelaskannya, Syachrul adalah penyelam handal dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dalam beberapa proses pencarian kecelakaan di laut, dia sering diikutsertakan.
Adapun kronoligis gugurnya Syachrul, pukul 22.10 WIB, Basarnas membawa pasien kecelakaan (Syachrul) ke RSUD Koja, Jakarta Utara. Syachrul adalah pasien kecelakaan yang tenggelam pada saat proses evakuasi korban Lion Air, dengan kondisi dalam keadaan tidak sadar, tidak ada respons, tidak ada denyut nadi, tidak ada napas. Pukul 22.30 WIB telah dilakukan pemeriksaan korban di IGD RS Koja dan nyatakan sudah meninggal.
Dokter RS menyarankan untuk dilakukan otopsi ke RSCM guna mencari penyebab pasti kematian. Akan tetapi dari Basarnas dan keluarga menolak. Karena ingin langsung dibawa keluarga untuk disemayamkan.
Penyebab gugurnya Syachrul menunggu informasi resmi dari Basarnas. Adapun jenazah almarhum sudah diterbangkan ke Surabaya bersama keluarga pada pagi tadi pukul 05.00 WIB.

“Yang mengurus semuanya ini Basarnas mulai dari dibawa ke RS Koja sampai ke kampung halamannya, dimakamin juga pakai cara Basarnas,” kata Bayu Wardoyo di Dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (3/11).

Ditambahkan Kepala Basarnas, Marsdya TNI M. Syaugi, bahwa Syahrul merupakan penyelam yang berkualitas tinggi, militan, senior, dan jam selam cukup tinggi. “Tapi kalau Tuhan menghendaki yang lain tidak ada satu pun yang mampu mencegahnya,” ucapnya.

Sebagai orang yang bertanggung jawab dalam upaya evakuasi ini, pihaknya turut berduka yang sedalam-dalamnya atas kepergian Syahrul. Ia pun memberikan apresiasi yang tinggi kepada alamarhum atas dedikasinya menjalankan tugas bangsa dan negara.
“Saya sebagai Kepala Basarnas turut berduka yang sedalam-dalamnya atas gugurnya pahlawan kemanusiaan dari tim relawan kita. Demi tugas bangsa dan negara, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada personel Indonesia Diver tersebut,” ungkapnya.
Perwira Tinggi TNI AU itu juga menjelaskan singkat kronologis saat almarhum melakukan penyelaman untuk mengecek korban di dasar laut. Mereka kemarin sore dengan dua penyelam turun ke dasar untuk melihat barang atau korban yang masih ada. Setelah itu satu pihak sedang mencari sesuatu, tiba-tiba menengok yang satu tidak ada. “Saat naik ke atas, ternyata sudah jauh dan ditemukan tim SAR, pingsan,” jelas Syaugi.
Hendrata Yudha, seorang instruktur selama dari IDRT yang juga ikut mengevakuasi korban Lion Air PK-LQP bersama alamarhum shock saat mengetahui secepat itu Syahrul meninggalkan seluruh rekannya di tengah tugas kemanusiaan.
“Dia memang pahlawan, walau baru ketemu di Tanjung Priok dan tiga hari di kapal, kami jadi akrab dengan macam-macam obrolan dan cerita pengalaman operasi SAR,” ungkap Hendrata dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (3/11).
Menurut dia, almarhum merupakan sosok yang taat ibadah. Sebagai seorang musim, almarhum tidak pernah meninggalkan salat lima waktu meskipun berada di tengah laut yang terkadang arah kiblatnya berubah-ubah. “Ibadah salatnya tetap dijalankan dengan baik, walau arah kapal sering mengubah arah kiblat,” ungkapnya.
Sore itu, sambung Hendrata, ketika azan magrib menggema, tak lepas matanya memandang tubuh almarhum ketika operasi penyelamatan nyawanya berlangsung di geladak kapal Victory.
“Ruangan Chamber itu, tentunya tidak terlalu sempit menampung tubuh dan dedikasi luar biasa yang ditunjukkan hari demi hari membantu Basarnas mengevakuasi jenazah penumpang Lion Air,” kenangnya.
Hendrata yang waktu itu akhirnya mendapat info bahwa denyut nadi almarhum berhenti, langsung meneteskan air mata.
“Saya, Ibenk dan Syatiri, semua kru tertunduk lesu, astagfirullah, innalilahi wa inna ilaihi raji’un. Tuhan lebih sayang kepada Bang Anto, dia pergi ke jannah keabadian di tengah aktivitas yang dicintainya,” demikian Hendrata.