Biaya Operasional Tinggi, Harga Tiket Pesawat Susah Turun

Ilustrasi : Internet

eQuator.co.id – JAKARTA-RK. Sepertinya tak mudah untuk mewujudkan harapan masyarakat yang menginginkan harga tiket pesawat kembali terjangkau. Sebab, menekan harga tiket ketika biaya operasional tidak turun sama saja membuat potensi rugi pelaku penerbangan semakin besar.

Ketua Penerbangan Berjadwal atau Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Bayu Sutanto menyebutkan bahwa sejak 2016 belum ada kenaikan tarif batas atas maupun batas bawah. Padahal, pelaku maskapai telah menanggung cost operasional yang selalu naik setiap tahun.

’’Komponen biaya seperti avtur, kurs USD, biaya bandara, dan navigasi sudah naik cukup besar,’’ ujar Bayu seperti dikutip Jawa Pos, Jumat (25/1).

Sebelumnya, Ketua Umum INACA Ari Askhara menjelaskan, harga avtur saat ini berada di USD 65–USD 70 per barel. Kondisi nilai tukar USD yang fluktuatif membuat maskapai semakin terbebani biaya fuel. Menurut Askhara, harga tiket penerbangan domestik bisa lebih fleksibel jika komponen biaya operasional diturunkan. Tentu saja hal tersebut perlu peran regulator untuk berdiskusi lebih intens dengan operator.

’’Kalau masyarakat minta turun harga sedangkan harga komponen tidak turun, maskapainya rontok,’’ tutur Dirut PT Garuda Indonesia Tbk itu.

Di sejumlah aplikasi pemesanan tiket, harga penerbangan domestik memang masih tinggi. Tarifnya berada di atas beberapa waktu sebelumnya yang terbilang cukup terjangkau. Bahkan, di sejumlah rute domestik malah lebih murah tujuan internasional.

Di tengah mahalnya tarif tiket, di saat bersamaan sebagian maskapai merilis bagasi berbayar. Lion Air, Wings Air, dan Citilink memastikan penyesuaian tarif bagasi. Lion Air dan Wings Air memberlakukan bagasi berbayar pada Selasa lalu (22/1) setelah dua minggu sosialisasi. Citilink rencananya menerapkan tarif bagasi berbayar mulai akhir Januari 2019.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menilai, penerapan bagasi berbayar membuat low-cost carrier (LCC) menjadi lebih mahal daripada full-service seperti Garuda dan Batik Air.

Menurut Alvin, bukan tidak mungkin dengan harga LCC yang melambung tinggi, masyarakat melakukan perbandingan harga sehingga memilih menggunakan maskapai full-service. ’’Itu akan menjadi masalah bagi penurunan penumpang kelas ekonomi maskapai LCC di masa mendatang,’’ terangnya.

VP Corporate Secretary PT Garuda Indonesia Tbk Ikhsan Rosan menyatakan, tiket yang dijual telah mengikuti aturan tarif batas atas dan bawah. ’’Kami menjual sesuai range yang diberikan regulator,’’ ungkapnya kemarin.

Dia menepis adanya dugaan kartel dan monopoli pasar setelah mengambil alih operasional Sriwijaya Air. Sebab, kedua maskapai berada di segmen berbeda.

Garuda di segmen full-service dan Sriwijaya Air merupakan LCC. Menurut dia, LCC sebenarnya diperkenankan mengenakan tarif bagasi. ’’Bagasi tidak menjadi bagian dari layanan yang harus dikeluarkan LCC. Kalau full-service, memang layanannya termasuk bagasi,’’ urainya.

Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati menuturkan, sebenarnya tidak masalah bagi maskapai untuk menerapkan tarif bagasi, asalkan tiket pesawat juga turut menyesuaikan atau lebih rendah.

’’Basis perhitungannya itu ada komponennya. Selama ini ketika bagasi tersebut ditagih lagi kepada konsumen, bukan berarti gratis. Tapi sudah di cost-kan ke biaya tiket. Jadi, ketika bagasi tidak dimasukkan lagi ke dalam biaya tiket, otomatis struktur biaya tiket berubah,’’ imbuhnya.

Meski begitu, maskapai tidak bisa semena-mena menetapkan tarif. Pemerintah selaku regulator harus memonitoring. ’’Karena sekarang struktur industri di penerbangan udara cenderung monopoli atau oligopoli,’’ ucapnya.

Jadi, jika tidak ada pengaturan, akan cenderung terjadi penentuan harga sepihak dan membuat struktur pasar tidak sehat. (Jawa Pos/JPG)