Benarkah BBM Satu Harga Merugikan Pertamina?

Tatkala BUMN ‘Balapan’ Merugi (1)

48
KILANG MINI TWU. Seorang petugas memeriksa kilang mini PT Tri Wahana Universal (TWU) yang sudah tidak menerima pasokan minyak mentah sejak 16 Januari 2016, di Bojonegoro, Jawa Timur. ADRIANTO-INDOPOS
KILANG MINI TWU. Seorang petugas memeriksa kilang mini PT Tri Wahana Universal (TWU) yang sudah tidak menerima pasokan minyak mentah sejak 16 Januari 2016, di Bojonegoro, Jawa Timur. ADRIANTO-INDOPOS

MENTERI Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, selalu menyatakan tahun 2018 ini tidak ada lagi perusahaan negara yang boleh rugi. Tahun lalu, Rini menyebut ada 12 BUMN yang rugi. Namun kenyataannya, masih banyak BUMN yang merugi. Apa saja?

DERI AHIRIYANTO, JAKARTA

eQuator.co.id – PT Pertamina (Persero) mengaku mengalami kerugian sebesar Rp 5,5 triliun. Ini disebabkan oleh penyaluran Solar dan Premium. Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar mengatakan, kerugian tersebut terjadi pada periode Januari hingga Februari 2018.

“Total loss kita sampai Februari ini, total kerugian Solar yang paling gede. Di Premium kan sudah mencapai dua bulan nih Januari, Februari Rp 5,5 triliun,” kata Muchamad Iskandar di DPR, April lalu.

Ia menambahkan, kerugian sebesar Rp 5,5 triliun tersebut bila dilihat secara keseluruhan hanya berjumlah Rp 3,9 triliun. Sebab, kerugian itu dikurangi dengan keuntungan penjualan BBM non subsidi.

“Rp 3,9 triliun itu nett kita rugi karena ditambah yang untung-untung non BBM, non PSO-nya kan ada yang untung kan. Sehingga kerugian totalnya jadi Rp 3,9 triliun,” ungkapnya.

Iskandar menambahkan, kerugian Pertamina di tahun ini lebih besar dibandingkan tahun lalu. Namun ia enggan menyebutkan angka kerugian tersebut.

“Oh lebih gede. Hampir dua kali lipat,” jelasnya.

Bagaimana dengan kebijakan BBM Satu Harga? Benarkah ikut menyumbang kerugian Pertamina? Program yang digulirkan Presiden Jokowi itu, juga  ramai diperbincangkan berbagai pihak karena dianggap menggerus keuangan Pertamina.

Lantas benarkah perusahaan milik negara itu rugi karena menjalankan tugas yang tujuannya salah satunya untuk menciptakan Keadilan Sosial tersebut?

Corporate Secretary PT Pertamina Syahrial Muchtar menegaskan, tugas yang diberikan pemerintah  tidak membuat perusahaan BUMN tersebut kolaps. Perusahaan milik negara itu bahkan masih bisa meraup keuntungan. Penjelasan yang berbeda dengan penjelasan Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar sebelumnya.

“Jadi Pertamina sampai saat ini masih meraup keuntungan. Tidak merugi. Keuntungan Itu adalah hasil konsolidasi seluruh unit usaha Pertamina,” ujar Syahrial, kepada INDOPOS (Jawa Pos Group), di kantornya, Rabu (16/5) pekan lalu.

Disinggung adanya penugasan BBM satu harga dari pemerintah, yakni untuk premiun Rp 6.450, Syahrial mengaku tidak ada masalah. Dan tidak mengganggu konsolidasi keuangan perseroan.

“Jadi BBM satu harga tetap kita jalankan. Bahkan kita masih bisa mengumpulkan keuntungan,” ujarnya.

Buktinya, lanjut Syahrial, selama kuartal pertama 2018, kinerja keuangan PT Pertamina masih untung. Masih positif. “Kenaikan harga minyak dunia juga tidak berpengaruh terhadap kinerja,” pungkasnya.

Sementara itu, External Communication Manager PT Pertamina Arya Dwi Paramita juga menyampaikan kinerja perusahaan. Bahkan  Pertamina dapat menyerahkan dividen Rp 8,57 triliun, pada tahun buku  2017.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Pertamina yang dilaksanakan pada awal bulan Mei di Jakarta menyetujui laporan pendapatan 2017 yang telah diaudit naik 18 persen. Yakni menjadi USD 42,96 miliar, dibandingkan pendapatan audit 2016 sebesar USD 36,49 miliar.

“Pertumbuhan pendapatan dipicu oleh naiknya penjualan minyak mentah dan produk baik di dalam negeri maupun ekspor,” jelasnya.

Di sisi lain, Plt. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam keterangan pressnya mengatakan, pada 2017 Pertamina telah menjalankan Program BBM Satu Harga di 54 titik sesuai yang ditargetkan oleh Pemerintah. Untuk tahun 2018, perseroan menargetkan untuk menjalankan BBM Satu Harga di 67 wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur darat dan laut. Hingga April 2018, sudah terdapat 4 titik yang melaksanakan program BBM 1 Harga.

“Tahun 2017 telah dilalui dengan cukup baik. Tahun ini akan menjadi tahun yang penuh tantangan bagi Pertamina. Sebagai BUMN migas, Pertamina akan menjalankan perannya dalam distribusi BBM, menjaga availability, affordability dan accessibility ke seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Nicke.

Ia menambahkan,  tahun 2017 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi Pertamina. Profil keuangan perseroan masih dipengaruhi oleh tren kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar.

“Sepanjang 2017, perusahaan tetap berupaya menjaga kinerja keuangan yang positif meskipun terdampak oleh dinamika harga minyak dunia,” ujarnya.

Pertamina, lanjut Nicke, fokus menjalankan komitmen proyek strategis dan meningkatkan efisiensi di segala lini. “Sehingga Pertamina tetap dapat mencatatkan kenaikan pendapatan perseroan,” jelasnya.

Sepanjang 2017, realisasi rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price, ICP) mencapai USD 51,17 per barel. Asumsi ICP berdasarkan Rencana Kerja Perseroan 2017 adalah USD 48 per barel.

Selain itu juga ada kenaikan  produksi migas sekitar 7 persen, dari 650 MBOEPD (ribu barel minyak ekuivalen per hari) pada tahun 2016 menjadi 693 MBOEPD pada tahun 2017. Pertumbuhan hulu migas ini dipengaruhi oleh produksi dari Banyu Urip dan naiknya produksi ladang luar negeri Pertamina.

Pertamina pun mampu meningkatkan produksi panas bumi (geothermal) menjadi 3.900 GWh, atau naik 27 persen dibanding tahun 2016 sebesar 3.043 GWh. Hal ini disebabkan beroperasinya PLTP Ulubelu Unit 3 dan Unit 4, serta Kamojang.

Pada pengolahan minyak, Perusahaan pun mampu menjaga tingkat kinerjanya. Dimana hasil produk bernilai tinggi (yield valuable product) meningkat 1 persen menjadi 78,1 persen pada 2017. Sementara pada 2016 sebesar 77,7 persen. Volume produk bernilai tinggi (volume valuable product) menjadi 253,4 MMBbl (juta barel) pada tahun 2017.

Sedangkan pada sektor pemasaran, volume penjualan konsolidasi tercermin penurunan tipis 1 persen, dari 86,84 juta KL pada 2016 menjadi 85,88 juta KL pada 2017. Dari total volume tersebut, volume Premium Penugasan dan Jawa Madura Bali (Jamali) pada 2017 mengontribusi 12,31 juta KL, naik 12 persen dari periode sebelumnya. Sedangkan, penjualan LPG PSO naik 2 persen menjadi 11,21 juta KL.

Tingkat Kesehatan Perusahaan mencapai skor total 88,52, dengan rincian aspek keuangan skor 65,00, operasional 12,52, dan administrasi 11,00 sehingga perusahaan termasuk dalam kategori sehat (AA).

“Kinerja HSSE dan GCG telah terealisasi dengan baik, dimana Pertamina meraih 11 PROPER EMAS dan PROPER HIJAU sebanyak 71. Score assessment GCG 2017 mencapai 91,97,” pungkasnya. (INDOPOS/JPG)