Belum Tersentuh Bantuan, Warga Makan Kelapa dan Pisang

Kisah Jawa Pos Menembus Donggala Utara, Wilayah Terisolasi Pascagempa

JALAN ALTERNATIF. Warga menumpang pick up melintasi jalan alternatif trans Sulawesi, kecamatan Sindue, Donggala, Sulteng, Rabu (3/10). Haritsah Almudatsir-Jawa Pos

eQuator.co.id – Donggala bagian utara berjarak 62 kilometer dari Kota Palu. Dalam kondisi normal, jarak menuju kawasan pantai barat Sulteng itu bisa ditempuh dalam 1–2 jam. Namun, sejak gempa Jumat (28/9), wilayah tersebut sulit ditembus. Karena jalan utama trans-Sulawesi menuju wilayah itu terputus. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Agus Dwi Prasetyo dan Haritsah Almudatsir yang menelusuri kawasan terisolasi tersebut lewat jalur alternatif.

”Tidak bisa ke sana, jalan terputus,” kata seorang warga Kota Palu saat kami tanya arah menuju Kabupaten Donggala bagian utara kemarin pagi (3/10). Sejenak kemudian warga lain menimpali.

”Katanya sih sudah bisa, arahnya ke sana. Tapi, tidak tahu juga ada yang bisa antar kita (baca: kamu, Red),” ujar pria bertubuh besar itu sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah utara.

Kami pun memutuskan berjalan kaki ke arah yang ditunjuk warga tadi. Sembari berharap ada tumpangan yang mengantarkan kami ke sana. Pukul 08.00 Wita, perjalanan ke arah utara Kota Palu itu kami awali dari Posko Penanggulangan Bencana Gempa Sulteng di Markas Korem 132 Tadulako di Jalan Sudirman, Palu.

Hampir setengah jam berjalan, tak ada satu pun kendaraan pikap yang kami hentikan ”paksa” yang menuju Donggala. Namun, mereka tetap mau memberikan tumpangan. Setidaknya sampai tujuan yang mendekati Donggala. Tumpangan pertama mengantarkan kami dari Jalan Yos Sudarso sampai perempatan Tawelei, Kota Palu. Berikutnya, kami nggandol truk polisi sampai Pelabuhan Pantoloan.

Pelabuhan tersebut dijaga ketat polisi dan tentara. Sebab, beberapa kali warga sempat berupaya merangsek masuk ke objek vital itu untuk membongkar paksa kontainer-kontainer di area pelabuhan. Mereka mencari makanan. Namun, nafsu warga kemarin dapat diredam. Aparat mengizinkan mereka membawa pulang bahan makanan, antara lain ikan cakalang beku, dengan syarat: harus antre.

Di jalan raya depan Pantoloan, kendaraan yang menuju arah Donggala makin jarang. Dalam setengah jam, tidak sampai lima kendaraan bak terbuka yang melintas di depan pelabuhan peti kemas terbesar di Palu itu. Kami pun memutuskan beristirahat di sebuah warung, tak jauh dari Pantoloan. Warung tersebut hanya menyediakan mi rebus dan mi goreng instan.

Setelah beristirahat, kami kembali mencari tumpangan. Sebuah kendaraan Toyota Hilux melintas di hadapan kami beberapa saat kemudian. ”Ayo kalau mau menumpang. Saya mau ke pantai barat,” ujar Rudianto, sopir mobil satu gardan itu.

Tanpa pikir panjang, kami pun bergegas naik kendaraan milik pria asal Morowali tersebut. Dia hendak memastikan kondisi keluarganya di Desa Batusuyagoo, Kecamatan Sindue Tombu Sabora, Donggala, tidak menjadi korban gempa.

Dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari Pantoloan ke perbatasan Kota Palu-Kabupaten Donggala. Jalur itu sangat sepi. Hiruk pikuk kendaraan yang melintas di jalan trans-Sulawesi tersebut tak sesibuk di Kota Palu.

Awalnya perjalanan kami tak menemukan hambatan. Tapi, sesampai di Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Donggala, perjalanan kami menyusuri jalan utama itu dialihkan. Mobil tak bisa meneruskan perjalanan melalui jalur tersebut. Sebab, beberapa ruas jalan tertutup timbunan longsor. Semua kendaraan lantas diarahkan lewat jalur alternatif.

Di situlah kendala menuju Donggala mulai terasa. Sebab, saat tiba di ruas Desa Ape Maliko-Desa Tibo, perjalanan kembali dialihkan ke jalur alternatif. Lebarnya tak sampai 3 meter. Sebagian besar badan jalan beralas tanah. Debu beterbangan ketika jalan itu dilintasi kendaraan.

Tak hanya sampai di situ, kendaraan juga harus menyusuri Sungai Tibo. Kedalaman sungai tersebut memang hanya sekitar lutut orang dewasa. Namun, arusnya cukup kencang. Tidak semua kendaraan bisa melewati sungai itu. Contohnya mobil Toyota Avanza yang kami temui. Kendaraan itu terpaksa menepi di bibir sungai lantaran mesinnya kemasukan air.

Keluar dari Sungai Tibo, kendaraan yang kami tumpangi kembali menyusuri jalan tanah berbatu. Di tengah perjalanan, beberapa warga setempat menghentikan kendaraan kami. Mereka minta sumbangan seikhlasnya. Namun, caranya agak sedikit memaksa dan ketus. Rudianto pun merogoh sakunya dan mengambil duit Rp 10 ribu. Lalu menyerahkannya ke salah seorang warga.

Sekitar 40 menit kami menembus jalur ekstrem itu. Kemudian kembali masuk ke ruas trans-Sulawesi. Di sepanjang perjalanan, posko-posko pengungsi berderet-deret. Rumah-rumah penduduk hancur berserakan akibat gempa. Namun, kondisinya tidak separah di Kota Palu.

Pukul 11.30, kendaraan yang kami tumpangi akhirnya tiba di Batusuyagoo. Desa itu sangat lengang. Tak banyak kendaraan berlalu-lalang. Mayoritas rumah juga tampak sepi lantaran telah ditinggalkan penghuninya. Mereka mengungsi ke bukit-bukit karena takut kembali ke rumah. Di antaranya ke Bukit Tinggalapusu dan Tompo. Pengungsian di bukit itu paling ekstrem dibanding lainnya.

Betapa tidak, untuk menuju ke sana, kami harus melewati jalan bebatuan sepanjang 3 kilometer yang begitu terjal. Dan sungai dangkal berarus kencang. Mirip Sungai Tibo yang kami lewati sebelumnya. Hanya, bedanya, sungai menuju area pengungsian di tengah perkebunan kelapa dan cokelat itu tidak selebar di Tibo.

Ada tiga posko di area perbukitan itu. Dihuni ratusan warga yang mayoritas rumahnya hancur akibat gempa. Satu posko di Bukit Tompo cukup besar dibanding lainnya. Ada 15 tenda terpal yang ditempati ratusan warga. Sebanyak 22 di antaranya berusia di bawah lima tahun (balita).

Yang mengenaskan, sejak gempa Jumat lalu, mereka belum pernah merasakan nasi. Sebab, tak ada penjual beras di desa tersebut. Kalaupun ada, jaraknya cukup jauh. Dan menghabiskan banyak bahan bakar. ”Di sini bensin tidak ada, itu susahnya,” kata petugas desa setempat Lutfin.

Alhasil, mereka hanya mengandalkan kelapa muda dan pisang untuk mengganjal perut. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak sampai bayi berusia di bawah 1 tahun juga terpaksa mengonsumsi makanan itu untuk menyambung hidup. ”Kalau air di sini masih ada, tapi kami butuh makanan,” ujar Yusuf Rahim, tokoh desa yang dituakan di kelompok pengungsi tersebut.

Sampai saat ini mereka belum terjamah bantuan petugas penanggulangan bencana. Baik dari pemda maupun pusat. Kebutuhan logistik sementara ditanggung bersama secara swadaya. Para pria memetik kelapa dan pisang. Sedangkan ibu-ibu mengolah bahan makanan itu sekadarnya.

Tak ada listrik di pengungsian paling jauh dari Kota Palu tersebut. Begitu pula sinyal telepon. Namun, Yusuf tak mau ketinggalan informasi. Dia masih punya radio baterai untuk meng-update perkembangan bencana Sulteng. Termasuk update berita dari BNPB di Jakarta. ”Mereka bilang Donggala Utara belum bisa terjamah, tapi sebenarnya bisa. Asal mereka mau saja,” cetus Lutfin.

Lutfin berharap pemerintah segera memberikan bantuan dengan datang ke lokasi terdampak di desa tersebut. Terutama logistik, obat-obatan, dan susu untuk anak. ”Kalau saya makan kelapa setiap hari tidak masalah, tapi tidak dengan anak saya,” ujar Rasmi, salah seorang pengungsi.

Anaknya yang berusia 1 tahun 7 bulan kini mengalami demam tinggi karena kedinginan dan kekurangan makanan. Begitu pula ibu mertuanya. Mereka bertahan di pos pengungsian di Bukit Tinggalapusu. (Jawa Pos/JPG)