Banyak yang Mengonsumsi Bajakah, Efeknya Beda-Beda

Diburu, Dijual Bebas dengan Harga Fantastis

MEMBAWA BERKAH. Seorang penjual tanaman bajakah mempersiapkan barang dagangannya dadakan di sebuah pasar tradisional Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Agustus lalu. Kabar tentang akar tumbuhan bajakah yang mampu menyembuhkan penyakit kanker menjadi viral membawa berkah tersendiri bagi para pedagang bajakah. (DENAR / KALTENG POST)

eQuator.co.id – Sejak jadi viral, akar bajakah ramai diburu. Tanaman obat warisan leluhur itu jadi ladang bisnis liar. Mulai dari pinggiran jalanan, hingga jejaring internet. Mereka ramai-ramai menawarkan bajakah. Klaimnya menjanjikan, obat antikanker.

Terik matahari panas menyengat siang itu, Kamis (22/8), menyertai perjalanan Radar Sampit menuju Seranau, Kecamatan Mentaya Seberang. Wilayah itu hanya bisa dijangkau menggunakan kapal penyeberangan dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dari Dermaga Sampit.

Di Seranau, didapati informasi tempat tinggal seorang seniman, pengrajin ukiran kayu di wilayah itu. Diperolehlah informasi, pria itu juga menjual bajakah. Pencarian berakhir ketika sampai di hamparan potongan kayu berukuran sekitar 5 cm di halaman rumah seniman itu.

Pria berjanggut putih dengan alis yang juga memutih, berkacamata, lengkap dengan peci, mendatangi. Haitami. Demikian pria itu disapa. Viralnya bajakah jadi peluang bisnis bagi Haitami. Dia mulai melakoni bisnis baru itu.

”Awalnya tak ada niat berjualan, tetapi karena ada yang meminta tolong dicarikan, saya bantu. Ada lima sampai enam orang datang ke hutan Seranau dan selalu salah, bukan jenis bajakah yang dimaksud. Akhirnya saya turun tangan memutuskan berjualan (bajakah) yang baru satu minggu ini berjalan,” ujar Haitami.

Pria yang memiliki enam anak ini lalu mengajak Radar Sampit berburu bajakah ke hutan. Sambil berjalan, dia menjelaskan, bajakah diambil dari bahasa Dayak. Menurutnya, bajakah yang umumnya beredar ada tiga, yakni bajakah tunggal kalawit, bajakah kuning, dan bajakah tuba.

”Ketiga jenis bajakah inilah yang sering ditemui di hutan Seranau,” ujar lelaki yang akrab disapa Atai ini.

Ketiga jenis bajakah itu, lanjutnya, umumnya tumbuh di lahan gambut dan memiliki khasiat beragam. Bahkan, ada bajakah yang dapat dijadikan racun untuk membunuh ikan.

”Bajakah tuba ini yang berbahaya, karena biasa digunakan untuk mematikan ikan agar proses pencarian ikan lebih cepat. Dikhawatirkan kalau masyarakat salah mencari dan mengonsumsi bajakah bisa diare,” ujarnya.

Atai mengatakan, bajakah yang disebut-sebut bisa mengobati kanker ada dua kategori. Keduanya sama-sama tumbuh di rawa-rawa. Ada jenis akar yang tumbuh dengan paparan sinar matahari langsung, ada pula akar yang tidak.

Keduanya, lanjut Atai, merupakan jenis akar-akaran yang hidupnya menggantung dan meliuk-liuk dari pohon satu ke pohon lainnya. Perbedaannya terlihat pada tekstur batang, lebar daun, dan tulang sirip daun.

Atai menjelaskan, akar yang biasa tumbuh dengan paparan sinar matahari langsung, bentuk akarnya persegi dan kulit arinya keras. Memiliki pucuk berwarna merah, serta memiliki daun lebih lebar dengan warna hijau tua. Sedangkan akar yang tidak terkena sinar matahari langsung, akarnya bertekstur lebih lunak, memiliki daun lebih lembut dan berwarna hijau muda.

”Akar yang menggantung ini umumnya apabila ditebas (dibelah) akarnya dapat mengeluarkan air yang jernih dari tengah-tengah batang akarnya. Biasanya, dari saya kecil, kalau ke hutan diminum langsung untuk mehilangkan haus,” ujarnya seraya menebas akar bajakah dan meminta Radar Sampit meminumnya.

Rasanya sebenarnya segar, seperti layaknya air di mata air. Hanya saja, cuaca panas saat itu membuat sekujur tubuh berkeringat, sehingga air yang ditampung di telapak tangan, bercampur dengan rasa asin.

”Airnya yang ini sedikit keluarnya, karena batang akarnya kecil. Kalau yang lebih besar lagi, airnya melimpah dan rasanya segar,” ucapnya sambil melihat Radar Sampit mencoba air yang keluar dari pertengahan batang akar tersebut.

Dia melanjutkan, ada pula yang sudah dikenal secara turun-temurun, yakni akar kuning yang berkhasiat mengobati liver. ”Sebenarnya jenis akar-akaran itu banyak. Ratusan jenisnya. Ada yang untuk perempuan melahirkan, menggunakan minimal 12 jenis akar-akaran. Ada pula akar kuning yang bisa mengobati sakit liver,” ujar pensiunan ASN guru ini.

Atai mengaku mengetahui jenis akar-akaran dari orang tuanya. Tanaman itu sudah menjadi tradisi untuk dikonsumsi. Namun, dia mengaku tak tahu bajakah tunggal kalawit (di Palangka Raya dikenal dengan kalalawit atau bajakah tampala umumnya), bisa menyembuhkan kanker.

Sembari bercerita, kami terus menyusuri hutan yang tak jauh dari rumahnya. Panas matahari membuat keringat terus bercucuran.

”Sejak muda saya ini sudah biasa berjalan kaki. Berpetualang,” ucapnya sambil tersenyum ringan.

Dia menunjukkan berbagai jenis akar yang dimaksud. Akar itu bergelantungan. Berkelok-kelok. Atai lalu membelah sebuah akar yang menggantung di atas. Ada pula yang sudah sampai ke permukaan tanah.

Akar yang sudah menyentuh tanah dibelah. Tak ada air yang keluar, sedangkan akar yang masih menggantung ketika dibelah mengeluarkan air bening dan nampak jernih.

”Coba minum, tak apa-apa. Kalau saya haus saat di hutan, memangkas akar ini untuk diminum airnya,” ujarnya.

Selama hampir satu jam lebih berjalan menyusuri hutan, dia menegaskan bajakah akan kembali tumbuh meski ditebang. Atai memperlihatkan tunas baru bajakah yang tumbuh setelah sekitar lima bulan lalu ditebang.

”Saya membantah kalau akar bajakah akan punah. Saya sudah pernah mengambilnya sekitar lima bulan lalu, tetapi tidak habis sampai ke akarnya dan tumbuh lagi pucuknya menjadi 10 batang. Jadi, bajakah ini tidak akan pernah punah dan terus berkembang, asalkan tidak dibabat habis sampai ke akar tanahnya dan jangan sampai dieksploitasi,” ujarnya.

Kendati demikian, Atai mendukung kebijakan Gubernur Kalteng Sugianto Sabran membatasi perdagangan bajakah agar tak keluar daerah. Hal itu agar tanaman itu tak punah apabila dieksploitasi besar-besaran.

”Jangan sampai ada yang mengeksploitasinya. Saya sendiri berjualan tidak hanya memikirkan keuntungan materi, tetapi lebih kepada permintaan masyarakat yang ramai mencari bajakah,” ujarnya.

Meskipun belum terbukti secara klinis, dia berharap siapa pun yang mencari akar bajakah bisa terus menjaga kelestariannya. Jangan sampai dipangkas habis. ”Tumbuhan akar-akaran ini adalah anugerah dari Allah SWT yang patut kita syukuri. Bagaimana cara kita mensyukurinya? Dengan menjaga kelestarian dan jangan hanya mengutamakan keuntungan semata, tetapi diberikan dengan ikhlas kepada warga yang tidak mampu dan yang benar-benar membutuhkan,” katanya.

DICARI ORANG

Sejak dua bulan lalu, tak terhitung sudah orang yang datang pada Atai mengeluhkan penyakitnya. Mereka juga ingin mencoba racikan pengobatan dari bahan asli akar bajakah.

”Dua bulan lalu sering sekali orang datang. Sehari bisa 10 orang datang, tetapi sekarang sudah berkurang,” ujar pria kelahiran Pangkalan Bun 19 Agustus 1953 ini.

Banyaknya orang ingin membeli bajakah, membuatnya berpikir untuk menjual bajakah bukan seperti batang kayu yang dijual kebanyakan orang, tetapi dalam bentuk potongan berukuran sekitar 4 cm.

”Saya jualnya yang begini, tidak menjual batangan, karena dilarang pemerintah,” ucapnya.

Atai lalu menunjukkan proses pengolahan bajakah hingga berbentuk kemasan. Akar bajakah yang diambil dari hutan, satu per satu kulit luar batangnya dibersihkan hingga yang tampak hanya kulit ari.

”Setelah itu, batangnya dipotong-potong seukuran 4 cm, kemudian dicuci dan dijemur,” ujarnya.

Proses penjemuran dilakukan selama 3-5 hari, tergantung cuaca. Setelah bajakah dinyatakan kering, tanaman itu siap dikemas dalam wadah plastik transparan seberat 500 gram yang dijual dengan harga Rp  150 ribu.

Kehadiran bajakah di hutan Seranau juga direspons baik Camat Seranau, Eddy Hidayat Setiadi. Dia berharap bajakah yang tumbuh di wilayah itu benar-benar jenis bajakah yang dipercaya mampu mengobati penyakit kanker.

”Tentu saya ikut senang. Mudah-mudahan bajakah yang di sini benar-benar jenis bajakah yang viral dan bias mengobati penyakit kanker,” ujar Eddy.

Banyaknya jenis akar bajakah membuatnya ragu. Apabila masyarakat kurang pemahaman dan pengetahuan, bisa membahayakan penggunanya. ”Jenis bajakah kan banyak. Kalau salah, bisa terkena bajakah yang beracun. Itu bisa berbahaya,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat Seranau ada beberapa orang yang menjual bajakah dengan harga beragam. Dia tak melarang usaha warga itu, namun mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan bajakah.

”Saya harapkan masyarakat di Seranau yang juga menjual bajakah bijak mengambil atau memanfaatkannya agar kelestarian lingkungan tetap terjaga,” pungkasnya.

BISNIS LIAR

Viralnya bajakah dimanfaatkan sejumlah kalangan untuk menambah penghasilan. Tanaman obat warisan leluhur itu jadi ladang bisnis liar. Mulai dari pinggiran jalanan, hingga jejaring internet. Mereka ramai-ramai menawarkan bajakah. Klaimnya menjanjikan, obat antikanker.

Maraknya perdagangan bajakah masih berlangsung hingga kemarin. Di situs online buka lapak, bajakah dijual dengan harga beragam, mulai dari Rp 25 ribu – Rp 1,2 juta, tergantung beratnya. Bajakah seberat 1 kg yang dijual seharga Rp 1,2 juta per kg, telah laku terjual kepada 29 orang.

Tak hanya di dalam negeri. Pedagangan bajakah juga terjadi hingga luar negeri. Tanaman itu dijual di situs eBay (web lelang daring yang memungkinkan orang-orang dari seluruh dunia melakukan jual dan beli berbagai barang dan jasa) seharga 125 dolar per 1 kilogram (Rp 1.785.714,29).

Meski sudah mengeluarkan kebijakan larangan pengiriman bajakah keluar Kalteng, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng tak berdaya menertibkan perdagangan liar  bajakah itu. Dalam regulasi berupa surat edaran yang ditandatangani Sekda Kalteng Fahrizal Fitri, pemerintah meminta kepada semua pihak, terutama kabupaten dan kota untuk mengawasi peredarannya.

Artinya, jangan sampai obat herbal yang diklaim mampu menyembuhkan kanker payudara itu disalahgunakan karena kurangnya pengawasan dari pihak terkait. ”Karena viralnya bajakah, masyarakat yang ingin menggunakan sepertinya tidak pikir panjang secara bijak. Selama ada label bajakahnya, langsung dibeli. Inilah yang membuat pemerintah meminta diawasi. Selain untuk mengatasi pengiriman, juga sebagai upaya agar tidak salah konsumsi,” kata Fahrizal.

Meski demikian, lanjut Fahrizal, pemerintah tidak mampu membatasi, bahkan menghentikan perdagangan bajakah, khususnya yang dijajakan di toko online. Pemerintah hanya bisa mengimbau agar masyarakat bijak menggunakan obat herbal yang tengah viral tersebut.

Pasalnya, kata dia, bajakah sekarang masih tahap penelitian untuk memastikan secara ilmiah kandungan di dalamnya. Surat edaran tersebut hanya untuk meningkatan pengawasan yang dilakukan kabupaten dan kota, terutama menghindari eksploitasi besar-besaran.

”Kami hanya bisa mengimbau, mengingat bajakah tersebut masih diteliti oleh lembaga-lembaga terkait. Jadi, karena pengawasannya sulit, pemerintah hanya bisa mengimbau untuk tetap bijak. Jangan sampai salah konsumsi,” ujarnya.

Erni Diagana, pedagang bajakah di Palangka Raya yang ditemui Radar Sampit mengatakan, untuk mengambil kayu bajakah ada ritual khusus. Tidak boleh sembarangan. Itu dimaksudkan agar petuah bajakah benar-benar mujarab menjadi obat berbagai penyakit, seperti kanker, tumor, dan atau penyakit lain.

Menurutnya, bajakah yang digunakan untuk obat kanker adalah kalalawit. Memiliki kandungan phenol dan antibacterial, serta ekstrak gambir yang dipercaya memiliki kandungan katekin yang tinggi.

Katekin disebut bisa mencegah penyakit jantung, kelebihan berat badan, dan membantu pembentukan kolagen. Selain itu, bajakah kalalawit juga diklaim mengandung senyawa fenolik, flavonoid, tannin, dan saponin.

”Cara menggunakannya tak boleh sembarangan. Bajakah dibersihkan terlebih dahulu, direbus menggunakan air yang stabil dan cukup. Itu pun hanya bisa digunakan dua kali rebusan. Mencari dan mendapatkannya tak sembarangan. Ada ritualnya. Bukan asal tebang dan potong,” katanya.

Ada pula bajakah tuwe. Jenis itu, kata Erni, mengandung racun. Sering digunakan untuk membunuh ikan atau untuk racun panah.

Untuk membedakan bajakah tuwe dan kakalawit, jelasnya, terlihat dari daunnya. Bajakah tuwe tidak memiliki semacam kuku, sementara kalalawit ada bagian seperti kuku. Selain itu, warnanya agak berbeda walaupun sepintas nyaris sama.

”Pokoknya jangan sembarangan dikonsumsi. Kalau salah konsumsi atau berlebihan, tentu tidak baik. Bisa bikin drop. Sebab, apa pun yang dikonsumsi berlebihan memang tidak baik. Bisa overdosis juga dan lemas,” kata wanita berumur lebih setengah abad ini.

MALAH PUSING

Bajakah yang mendadak populer tak hanya diburu para penderita kanker. Warga biasa yang masih sehat pun penasaran ingin mencoba khasiat tanaman obat itu.

Ani, misalnya, ibu rumah tangga ini mencoba air rebusan bajakah. Dia berharap bajakah juga bisa untuk menjaga stamina agar tak cepat lelah. Bajakah yang diperoleh dari seorang keluarganya pun langsung dicoba.

”Awalnya coba meminum langsung dari batangnya. Tapi, air yang keluar sedikit,” tutur Ani.

Ani bersama sepupunya mencoba cara lain. Kayu bajakah itu dipotong kecil, lalu direbus. Airnya bening. Padahal, kayu yang dia peroleh berwarna merah, sama seperti yang disebut-sebut sebagai bajakah. Rebusan air itu lalu diminum. ”Kami minum masing-masing setengah gelas,” kata Ani.

Efek bajakah di luar dugaan. Dia justru merasa pusing. Hal yang sama dirasakan sepupunya. ”Seperti orang mabuk. Apa karena baru dan masih bergetah, kami juga tak tahu. Itu yang saya rasa,” katanya, seraya menambahkan, dia sakit kepalanya berlangsung sekitar empat jam.

Radar Sampit mencoba sendiri air rebusan bajakah. Malam hari. Warnanya seperti teh. Rasanya agak kelat. Sedikit pahit, namun tak lengket di lidah. Setelah meminumnya, tak ada efek apa pun. Namun, keesokan paginya, badan terasa lebih segar dibanding sebelumnya. (Radar Sampit/JPG)