Banyak Musibah di Indonesia, Tjhai Chui Mie Ajak Perbanyak Doa

Kotak Hitam Tetap Dicari dengan Alat Lebih Canggih

19
DISEMAYAMKAN. Jenazah Martono, korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, disemayamkan di Yayasan Tanjung Bhakti Suci Sakok, Singkawang, Sabtu (11/10). SUHENDRA-RK

eQuator.co.idSingkawang-RK. Musibah tak dinyana, malang tak dapat ditolak, nasib tak bisa disangka. Hendak mengantar mertuanya ke Bangka Belitung, warga Pasar Turi Singkawang, Martono, ikut menjadi korban jatuhnya Lion Air JT 610 pada Senin, 29 Oktober 2018, lalu.

Seorang diantara 181 penumpang dan 8 awak yang meninggal dalam kecelakaan tersebut telah disemayamkan di Yayasan Tanjung Bhakti Suci Sakok, jalan Padang Pasir, kecamatan Singkawang Selatan, Sabtu (10/11). “Waktu itu dia mau antar mertuanya ke Bangka Belitung, dan sekitar pukul 10 lewat, saya dapat kabar dari Jakarta, anak saya menjadi korban,” ujar Tjhin Tji Fan, ayah korban.

Afan, karib ia disapa, langsung berangkat ke Jakarta bersama seorang anaknya yang lain. Ia dijemput dari hotel tempatnya menginap, kemudian dibawa ke RS Polri.

“Bolak balik selama tujuh hari dan baru sampai di sini (Singkawang,red) hari ke delapan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kondisi tubuh korban yang berusia 36 tahun itu sudah tidak utuh. “Tinggal tangan, kaki, dan badan sedikit,” terang Afan.

Martono meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Masing-masing berusia enam dan lima tahun. Martono merupakan anak pertama dari delapan bersaudara pasangan Afan dan Phang Oi Khian.

”Anak saya dulu kerja di Jakarta sekitar 17 tahun, dan kemudian baru lima tahun membuka usaha bengkel motor di Jakarta,” jelas Sang Ayah.

Kemudian, Martono mendapat jodoh di Jakarta. Menantu Afan tersebut berasal dari Bangka Belitung.

“Istri, anak saya, sebenarnya mau datang ke pemakaman suaminya, tapi karena dia trauma dengan pesawat, maka dia tidak dapat datang ke sini,” terang Afan. Ia menambahkan, tidak mendapat firasat apapun terkait tragedi yang dialami anaknya.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menjenguk korban. Pemkot Singkawang turut berduka cita atas tewasnya Martono.

“Saya baru tahu kemarin bahwa ada warga Singkawang, ini berita yang menggagetkan kita semua, tapi ini semua sudah terjadi dan kita hanya bisa berdoa agar arwahnya diterima di sisi Tuhan yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Ia berharap keluarga yang ditinggalkan dapat diberi ketabahan dan kekuatan. ”Kita berharap pihak Lion kedepan lebih baik lagi, dan tidak ada lagi korban,” harap Chui Mie.

Diakuinya, saat ini memang banyak musibah yang terjadi di Indonesia. “Seperti kebakaran, gempa, dan lainnya, mari kita perbanyak doa supaya tidak ada lagi musibah, khususnya di Kota Singkawang,” ajaknya.

OPERASI SAR

LION AIR DITUTUP

Sementara itu, setelah dua kali diperpanjang, operasi SAR (search and rescue) kecelakaan pesawat Lion Air tersebut ditutup secara terpusat kemarin (10/11). Meski demikian, Kantor SAR Jakarta dan Bandung masih bisa melakukan operasi.

Kabasarnas M Syaugi menjelaskan, tim SAR Jakarta dan Bandung akan bersiaga dan melaksanakan penyisiran di Last Know Positioning (LKP) dan pesisir Pantai Tanjung Pakis, Karawang. Dia menambahkan, penutupan terpusat operasi ini dilakukan setelah melakukan analisa menyeluruh. Tolok ukurnya, kata Syaugi, adalah korban.

“Sejak siang kemarin (Jumat, 9/11, Red) hingga siang ini (kemarin siang, Red), tim SAR sudah tidak menemukan korban lagi. Karena itulah, operasi SAR secara terpusat, saya nyatakan ditutup,” kata Syaugi.

Dalam pelaksanaan operasi hari ke-13 kemarin, tim penyelam yang beroperasi di tiga titik penyelaman, sudah tidak lagi menemukan bodypart korban. Dalam operasi hari ini, Basarnas mengerahkan 40 penyelam Basarnas Special Group (BSG).

Mereka melakukan penyapuan dengan anchor point Kapal Baruna Jaya I pada radius 250 meter persegi. Sedangkan alur yang digunakan meliputi tiga unit KN SAR dan empat perahu karet. Sedangkan tim yang beroperasi di permukaan air, termasuk tim yang melakukan penyisiran dari Perairan Karawang hingga Tanjung Pakis juga nihil.

”Selama 13 hari, tim SAR telah berhasil mengevakuasi 196 kantong jenazah yang telah diberi label oleh tim DVI dan telah diserahkan ke RS Polri Kramat Jati,” ungkapnya.

Ditemui pada saat yang sama Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan terima kasih karena Basarnas telah membantu mencari salah satu dari black box atau kotak hitam. ”Kami belum tahu Sampai kapan pencarian ini bisa kami lakukan. Tentunya juga kami harus juga nantinya berpikir masalah biaya karena biaya pencarian,” ujarnya.

Pencarian black box melibatkan banyak pihak dan peralatan. Bantuan dari luar negeri pun dilakukan. ”Salah satunya yang kemarin kita datangkan juga hari Jumat kita obat kan pinger finder yang lebih lebih mutakhir dan paling sensitif.Namun sampai hari ini kita masih belum bisa menemukan posisi di mana CVR atau black box yang satu lagi,” imbuhnya.

Kedepan, KNKT akan menggunakan beberapa kapal yang dilengkapi dengan ROV yang lebih besar dan canggih. Kecanggihan tersebut menurut Soerjanto dikarenakan ada empat kamera dan ada side scan sonar. ”Yang paling penting ada equipment baru yang on boat yaitu sub-bottom proviling yang bisa mendeteksi benda-benda di dalam lumpur sampai kedalaman 4 meter,” bebernya.

Namun hal tersebut tidak bisa dilakukan cepat. Sebab perlu diinstal di kapal yang membutuhkan waktusekitar 2 sampai 3 hari.

 

Laporan: Suhendra, JPG

Editor: Mohamad iQbaL