Banjir Hanyutkan Jembatan di Bengkayang

Seorang Warga Dikabarkan Hilang

55
JEMBATAN HANYUT. Watman memperlihatkan jembatan yang hanyut diterjang banjir di Desa Bukit Serayan Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang, Jumat (12/1). Kurnadi-RK

eQuator.co.idBengkayang-RK. Hujan yang seharian mengguyur Kabupaten Bengkayang mengakibatkan sebagian wilalah tersebut banjir, Jumat (12/1). Tidak hanya itu, hujan sejak pukul 09.00 WIB hingga 21.00 WIB itu menyebabkan beberapa jembatan roboh dan hanyut.

Di Desa Doyot Kecamatan Lumar, banjir menggenangi rumah warga hingga mencapai 1,5 meter. Jembatan yang roboh diterjang banjir terjadi di Desa Cipta Karya Kecamatan Sungai Betung. Jembatan tersebut akses Bengkayang ke Singkawang. Sedangkan di Desa Bukit Serayan Kecamatan Samalantan, jembatan penghubung menuju Kecamatan Lembah Bawang hanyut.

Hujan dalam intensitas tingga dan lama tersebut membuat Sungai Semperak meluap. Derasnya air mengakibatkan jembatan kayu di daerah tersebut hanyut. Sehingga jembatan akses menuju Godang Damar Kecamatan Lembah Bawang putus.

Staf Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkayang, Watman, saat meninjau langsung kondisi jembatan Sungai Semperak yang hanyut terbawa banjir itu mengatakan, saat ini air sudah berangsur-angsur surut. “Dari pantauan kami, jembatan Sungai Semperak patah diterjang banjir. Apalagi memang kondisi kayu sudah rapuh, sehingga mudah patah,” katanya kepada Rakyat Kalbar, Jumat (12/1) malam.

Watman yang didampingi Kepala Desa Bukit Serayan, Resmi, tersebut mengatakan, walaupun jembatan hanyut, namun rumah warga tidak ada yang terendam. Pasalnya, rumah warga berada di posisi yang tinggi. “Fasilitas umum, jalan dan jembatan Sungai Semperak saja yang roboh dan hanyut,” jelas Watman.

Banjir yang terjadi kemarin diduga mengakibatkan One Simus (49) hanyut. Saat ini, warga Dusun Kawan Desa Suka Maju Kecamatan Sungai Betung Kabupaten Bengkayang sedang melakukan pencarian. Warga kelahiran Sungai Betung yang mengalami gangguan jiwa tersebut dilaporkan hilang sejak Kamis, ketika terjadi banjir bandang.

Kapolres Bengkayang AKBP Permadi Syahids melalui Kapolsek Sungai Betung IPTU Teguh Wiyono membenarkan adanya laporan orang hilang.

“Sejak dilaporkan hilang pada Kamis (11/1) kami terus melakukan pencarian di sepanjang alur Sungai Zabanex dengan menggunakan rakit yang terbuat dari drum plastik yang dibuat warga,” terangnya kepada Rakyat Kalbar, Sabtu (13/1)

Hingga berita ini diturunkan, pencarian masih berlangsung. Tidak hanya di sungai, pencarian juga dengan menyusuri hutan di belakang rumah korban. Namun One Simus belum juga ditemukan.

One Simus diketahui menghilang berdasarkan laporan adiknya, Susi.

Saat itu Susi mau mengantar sayur ke rumahnya, tapi melihat pintu rumah One Simus terbuka. Diperiksa ke dalam, One Simus tidak ditemukan. “Pencarian hari pertama bersama keluarga dan warga belum diketemukan, dilanjutkan pada hari ini,” kata Kiran, salah seorang warga yang ikut melakukan pencarian.

Dijelaskannya, pencarian akan terus dilakukan dari siang hingga malam. Dengan adanya kejadian ini, dia berharap semua warga lebih waspada ketika ada banjir. “Sebab hujan yang turun akhir-akhir ini tak dapat diprediksi. Banjir juga datangnya tiba tiba,” pungkas Kiran.

Hujan dengan intensitas di luar kewajaran juga mengakibatkan beberapa daerah di Kabupaten Kubu Raya banjir. Hujan, tak henti mengguyur selama tiga hari terakhir ini di antaranya berdampak di Komplek ASABRI Sungai Raya, Kubu Raya. Ratusan rumah di komplek tersebut tergenang dengan ketinggian sekitar betis orang dewasa.

Dijelaskan Ketua RT 08/RW 04 Mulyadi Sahudin, banjir terjadi sejak kemarin. Saat malam, air terus memasuki rumah warga hingga hari ini. Warga memilih untuk tidak mengungsi, sebab khawatir kemalingan. “Warga kami himbau untuk tetap tinggal di rumah karena bahaya pencurian yang semakin marak, selain itu banjirnya juga tidak terlalu tinggi sehingga masih aman,” ujarnya kepada Rakyat Kalbar, Sabtu (13/1).

Untungnya warga sudah mewaspadai terjadinya banjir. Rata-rata mereka membangun rumah dengan dua lantai. Hanya saja, barang-barang yang tidak bisa diangkat ke lantai dua berpotensi rusak, karena terendam. “Untuk wilayah yang paling parah itu di rumah warga di Gang Assari 2 itu sampai sepaha orang dewasa,” jelasnya.

Laporan: Kurnadi, Suci Nurdini Setiawati

Editor: Arman Hairiadi