Bangun Komitmen Pemilu Berintegritas dan Tangkal Hoaks

Bawasalu Kalbar Gandeng HCC Kalbar Sosialisasikan Pengawasan Pemilu di Bengkayang

17
PEMATERI. Ocsya Ade CP perwakilan HCC Kalbar menyampaikan materi tentang bagaimana melawan dan mendeteksi hoaks dalam acara sosialisasi pengawasan tahapan Pemilu di Aula Enggang Hotel Lala Golden, Kabupaten Bengkayang, Rabu (10/10)—Kurnadi/RK

eQuator.co.idBengkayang-RK. Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu) Provinsi Kalimantan Barat memberikan sosialisasi pengawasan tahapan Pemilu kepada sejumlah pihak terkait di Aula Enggang Hotel Lala Golden, Kabupaten Bengkayang, Rabu (10/10) sekitar pukul 09.00 Wib. Dalam sosialisasi yang bertema ‘Membangun Komitmen Bersama untuk Pemilu yang Berintegritas di Kabupaten Bengkayang’ ini, Bawaslu menjadikan Hoax Crisis Center (HCC) Kalbar untuk memberikan materi tentang melawan dan mendeteksi hoak alias berita bohong.

Ada sekitar 80 orang yang hadir dalam kegiatan selama sehari itu. Seperti Komisioner Bawaslu Kalbar Koordinator Divisi Sengketa Hawad Sriyanto, Komisioner Bawaslu Kalbar Koordinator Divisi SDM Syarifa Aryana Kasmawayana, Komisioner Bawaslu Kalbar Koordinator Divisi Hukum Faisal Riza, Komisioner Bawaslu Kabupaten Bengkayang Evi Flavia, Komisioner Bawaslu Bengkayang Yopi Cahyono.

Kemudian Komisioner Panwaslu Kecamatan (Panwascam) terdekat yakni Bengkayang, Teriak, Sungai Betung. Termasuk Lurah Sebalo, Tokoh; Masyarakat, Keagamaan, Pemuda dan Masyarakat serta Pramuka. Seperti biasa, acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan mars Bawaslu.

“Anggota pengawasan Pemilu jumlahmya sangat terbatas. Oleh karena itu kami mengajak seluruh lapisan masyarakat mengawasi jalannya Pemilu ini,” ucap Komisioner Bawaslu Kalbar, Koordinator Divisi Sengketa Hawad Sriyanto usai membuka kegiatan.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mengawasi potensi adanya black campaign dan mengawasi awasi Alat Peraga Kampanye (APK) yang tidak sesuai peraturan KPU.

Komisioner Bawaslu Kalbar, Syarifa Aryana Kasmawayana dalam kegiatan ini ,emaparkan tugas Bawaslu yang diantaranya menyangkut pengawasan, pencegahan dan penindakan.

“Dalam pengawasan Pemilu, tentunya kami dari Bawaslu perlu kerja sama semua lapisan masyarakat untuk mencegah adanya pelanggaran pelanggaran Pemilu. Peserta kegiatan juga akan diajarkan bagaimana mendeteksi dan menangkao hoaks,” ujarnya.

Dalam berkampanye, sambung dia, para peserta Pemilu harus membuat STTP dari kepolisian serta melaporkan nama tim kampanye berdasarkan peraturan KPU. “Kami tekankan, awasi dan laporkan apabila menemukanmoney politik. Bagi peserta kampanye atau calon baik calon anggota DPRD kabupaten/kota, DPRD Provinsi, DPR RI, DPD RI dilarang berkampanye di rumah ibadah dan netralitas ASN harus terjaga,” pintanya.

Senada dengan Komisioner Bawaslu Kalbar Koordinator Divisi Hukum Faisal Riza. Ia juga memaparkan materi mengenai bagaimana menjadi seorang pengawas Pemilu sesungguhnya. Dalam penyampaian meteri ini, Faisal juga mencoba mengetes bagaimana seorang pengawas Pemilu dengan ilustrasi mengawasi sebuah media yang memerlukan kejelian.

Sesi terkahir, Ocsya Ade C, salah seorang Tim Research (Peneliti) HCC Kalbar menyampaikan materi tentang bagaimana mendeteksi dan menangkal hoaks. Pada sesi ini, para peserta tampak antusias dan bersemangat untuk mempelajari dan mempraktikan materi yang diterima.

“Materi yang saya sampaikan tentang Lawan Hoaks di Tahun Politik. Dimana dalam kegiatan ini saya mengedepankan agar peserta bisa mendeteksi dan melawan hoaks yang selama ini menjadi musuh besar kita dari segala aspek,” ujar Ocsya.

Ia melanjutkan, tujuannya juga untuk menciptakan dunia yang lebih melek informasi. Maka, untuk mencapainya, membutuhkan kerja sama SDM antihoaks dan teknologi.

“Peserta-peserta ini lah yang nantinya harus menjadi SDM yang mumpuni untuk mendeteksi dan melawan hoaks. Ya, mereka bisa mengawalinya di lingkungan keluarga. Karena, tak sedikit sesama keluarga atau golongan bisa bertengkar gara-gara hoaks,” terangnya.

Ia melanjutkan, hoaks memang harus diperangi. Karena jika dibiarkan bisaberpotensi memicu konflik horizontal, membuat terjal jurang pemisah antara elemen masyarakat, menebalkan sikap curiga, menipiskan toleransi.Hoaks kesehatan juga dapat merenggut nyawa banyak orang. Hoaksfinansial membuat ekonomi masyarakat rusak. “Hoaks ini jugabertentangan dengan norma agama melawan norma hukum. Maka mari kita bersama katakan perang terhadap hoaks,” ajaknya.

Dalam kegiatan ini, Ocsya hanya diberi waktu selama dua jam untuk menyampaikan materi. Diakhir-akhir kegiatan, peserta tampak bersemangat seakan ingin menambah waktu untuk belajar lebih jauh tentang hoaks. (Kur)