Angin Kencang Bikin Was-was, Selalu Teriak Ketakutan

Berharap Bantuan, Nek Ramlah Tinggal Sendirian di Pondok yang Nyaris Roboh

MEMPRIHATINKAN. Kondisi pondok Nek Ramlah yang hampir roboh di RT 005/RW 005 Dusun Nirwana Desa Sungai Kakap Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya, Minggu (16/9). Andi Ridwansyah-RK

Tinggal di rumah yang nyaman merupakan impian setiap orang. Apalagi bagi seorang jompo. Di sisa umurnya, sudah selayak menjalani kehidupan yang lebih tenang.

Andi Ridwansyah, Sungai Kakap

eQuator.co.id – Di RT 005/RW 005 Dusun Nirwana Desa Sungai Kakap Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya terdapat sebuah pondok. Dihuni seorang jompo. Dia akrab disapa Nek Ramlah.

Wanita 74 tahun itu hidup sebatang kara. Dia harus dihadapkan dengan beban pikiran yang begitu pelik. Tak hanya berpikir bagaimana cara meneruskan hidup. Untuk memenuhi kebetuhan hidupnya sehari-hari.

Ia juga dihadapkan dengan masalah tempat tinggalnya yang  nyaris roboh. Bertahun-tahun ia tinggal di pondok tersebut. Itu pun di lahan milik orang lain yang bersimpati dengan keadaan Nek Ramlah.
Pondok beratap daun nipah. Begitu pula dengan dinding-dindingnya. Sepertinya di pondok ini lah, Nek Ramlah akan menghabiskan masa hidupnya. “Belasan tahun suami saya meninggal. Di sini lah saya tinggal,” ucap Nek Ramlah kepada Rakyat Kalbar, Minggu 16/9).

Nek Ramlah memiliki empat orang anak perempuan. Semuanya sudah menikah. Masing-masing dikarunia anak. “Cucu saya ada 13 orang,” katanya.

Malang bagi Nek Ramlah. Anak-anak yang diharapkan keadaannya pun tak jauh berbeda dengan dirinya. Bahkan ada kondisi keluarga anaknya yang jauh lebih parah.
Atas itulah Nek Ramlah memilih hidup sendiri. Sebatangkara  meneruskan hidupnya. Meskipun sesekali anaknya datang memberikan perhatian seadanya.

Dulu Nek Ramlah masih dapat tersenyum. Kondisi pondoknya tampak teduh. Atap cerah berwarna hijau.

Kini atap pondok Nek Ramlah tak hijau lagi. Sudah berwarna  coklat. Menyusul usianya yang semakin renta.
Pondok Nek Ramlah tampak kusam dan reot. Pintunya tidak dapat dikunci lagi. “Tak bisa dikunci lagi pintu ni, dah condong (miring),” lirihnya.
Tempat tinggal Nek Ramlah tak dapat lagi melindunginya dari hujan. Apalagi hujan di malam hari, dia bakan tak bisa tidur. Atap sudah bocor semua. Air hujan akan membasahi lantai-lantai lapuk pondoknya. “Jadi dikasi ember-ember lah menampung air dari atap yang bocor,” terangnya.
Lokasi pondok Nek Ramlah tidak jauh dari laut. Sering dia harus merasakan kencangnya tiupan angin yang datang. Hingga satu persatu atap pondok Nek Ramlah harus direlakan berterbangan.

“Kadang kalau angin kencang, macam diangkatnya rumah ni. Kita tinggal sorang, kadang berteriak lah kite. Allahuakbar, kata saya,” ceritanya.
Di setiap sisi tongkat pondok Nek Ramlah tempati sudah rapuh. Tak kuat menahan beban terlalu banyak.

“Rumah ni kalau hanya berdua nanggar (masih bisa) lah. tapi kalau lebih, bisa roboh,” jelasnya.
Nek Ramlah punya keinginan kuat, agar gubuk kecilnya itu dapat segera diperbaiki. Namun himpitan ekonomi  membuat Nek Ramlah hanya bisa pasrah. Dia berharap,

uluran para dermawan untuk membantu renovasi pondoknya yang sudah hampir roboh itu. “Kita pengen dapatkan bantuan dari pemerintah betolkan (perbaiki) rumah, biar tak basah dan tak roboh,” harapnya.

Nek Ramlah sadar usianya tak lagi muda. Dirinya tidak dapat berbuat apa-apa untuk meneruskan hidup. Jangankan bekerja, berjalan saja dia sudah tak kuasa. “Berjalan pun tak mampu, kalau turun dari rumah pakai tongkat bambu,” ungkapnya.

Begitu pula ketika sakit. Dia hanya bisa coba bertahan dan melawan deritanya itu. Lantaran tidak ada biaya untuk berobat.

Nek Ramlah sering mengeluhkan isi hatinya kepada para tetangga. Juga beberapa kali menyampaikan deritanya kepada RT setempat. Agar mendapatkan bantuan pemerintah. Namun belum mendapatkan respon positif.
“Selama ini tak pernah saya dapat bantuan. Padahal saya janda dan tak bisa kerja,” ucap Nek Ramlah Sedih.

Putri sulung Nek Ramlah, Ida Jafar hanya bisa pasrah dengan keadaan yang dialami ibunya. Pasalnya, kehidupan perempuan 50 tahun ini tak jauh beda dengan ibunya.

“Saya mau bicara apa lah. Mau ngambek dia. Keadaan saya pun sama dengan dia. Rumah pun tak berdinding,” paparnya kepada Rakyat Kalbar, Senin (16/9).
Andai rumah miliknya dalam keadaan baik, Ida ingin sekali merawat ibunya. Namun keinginannya itu belum bisa ia tunaikan. “Mau saya bawa ke rumah, lantainya pun sabut kelapa dan bocor juga,” ucapnya.

Ida keseharianya bekerja sebagai buruh tani. Untuk menafkahi keluarga dan pendidikan anaknya saja tak sanggup. Dirinya hanya bisa berharap ibunya segera mendapat perhatian pemerintah.

Pondok Nek Ramlah dibangun di lahan milik Hamzah. Pria ini meminjamkan tanahnya lantaran prihatin dengan kondisi Nek Ramlah. Sudah seharusnya di usia Nek Ramlah sekarang bisa hidup tenang. Tidak banyak pikiran. “Apalagi dia seorang janda. Jangan bekerja berjalan pun sudah tidak mampu,” kata Hamzah.

Dia pun menceritakan awal mula Nek Ramlah mendirikan pondok di lahannya. Saat itu, Nek Ramlah minta izin tinggal di tanahnya. “Saya kasihan lihat dia, kita izinkan dan perhatikanlah semampu sebagai warga,” kisahnya.
Selama ini, Nek Ramlah hidup dari belas kasihan warga sekitar. Misalnya membagi makanan. Begitu pula ketika sakit ringan, warga masih bisa berikan obat. “Hanya sebatas itu lah yang mampu kita berikan,” sebutnya.
Namun  permasalah pondok Nek Ramlah yang hampir roboh, warga kesulitan membantu. Persoalannya sama, faktor ekonomi. “Kalau angin kencang, biasanya dia (Nek Ramlah) berteriak ketakutan. Kita pun kadang kasihan melihatnya,” kenangnya.
Menurutnya, Nek Ramlah sering meminta bantuan warga agar pondoknya yang miring dibetulkan. Namun kondisi pondok tersebut sudah rapuh. “Seandainya dipaksakan ditolak (dorong) agar tegak, bisa-bisa semuanya menjadi roboh,” tuturnya.
Tidak ada jalan lain, selain melakukan renovasi. Agar rumah tersebut cukup layak guna Nek Ramlah melanjutkan kehidupannya. Dia berharap pemerintah memberikan bantuan demi memperbaiki rumah Nek Ramlah yang hampir roboh. “Karena setau saya belum pernah ada bantuan yang dia dapatkan selama ini,” tutup Hamzah.
Ketua RT 005/RW 005 Dusun Nirwana Desa Sungai Kakap, Abdul Razak mengaku tidak ingin ada warganya yang mengalami kondisi seperti Nek Ramlah. Pihaknya sudah mendata Nek Ramlah dan mengusulkan kepada pemerintah. “Namun data yang kita masukan itu ada tahapanya,” ujarnya.

Dia sudah mengajukan kepada pemerintah program bedah rumah Nek Ramlah. Namun terbentur aturan. Diantaranya harus di tanah milik sendiri. “Ini yang menjadi masalah,” jelas Razak. Kalau program bedah rumah tak didapat Nek Ramlah, dia berharap ada donatur yang dapat memberikan bantuan.

Senada disampaikan Kepala Desa Sungai Kakap, Hendri Otavia. Tak ada anggaran desa yang dapat dialokasikan untuk perbaikan rumah warganya itu. Walau ada anggaran dana desa.

“Namun tidak ada aturan yang memberi kewenangan kepala desa menyalurkan sebagian dana desa untuk perbaikan rumah kumuh di wilayahnya,” paparnya.

Beberapa rumah kumuh di Desa Sungai Kakap sudah didata. Untuk mendapatkan program bedah rumah. Namun kendalanya banyak warga tidak memiliki tanah. “Sementara syaratnya harus memiliki tanah,” tuntas Hendri.

Bantuan yang diharapkan sepertinya akan terealisasi. Ditemui Rakyat Kalbar, Kepala Bidang Sosial pada Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Kubu Raya Muhammad menuturkan akan memberikan bantuan segera mungkin kepada Nek Ramlah. Namun menggunakan dana pribadi dari iuran pegawai Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kubu Raya. “Melibatkan instansi terkait untuk renovasi rumah,” janjinya.

Langkah itu diambil lantaran pihaknya tidak memiliki anggaran untuk membantu renovasi rumah warga Kubu Raya. Program bedah rumah kata dia, biasanya dari Dinas PUPR. Itu pun syaratnya harus punya tanah, tidak bisa menumpang. “Sedangkan yang bersangkutan tidak memiliki tanah, sehingga kita akan menginisiasi bantuan lewat instansi terkait,” lugasnya.
Tidak hanya itu, pihaknya akan segera memberikan BPJS Kesehatan kepada Nek Ramlah.”BPJS juga akan kita berikan kepada yang bersangkutan agar memudahkan dia berobat ke dokter,” demikian Muhammad. (*) 

 

Editor: Arman Hairiadi