Ajak Masyarakat Kenakan Busana Melayu

MANDI SAFAR. Wakil Bupati Kayong Utara, H Effendi Ahmad bersama Kapolres Kayong Utara, AKBP AsepIrpan Rosadi mengikuti proses mandi safar di Desa Telok Melano KecamatanSimpang Hilir, Rabu (7/11). Kamiriludin-RK

eQuator.co.id – SukadanaRK. Wakil Bupati Kayong Utara, H Effendi Ahmad mengajak masyarakat untuk kembali membudayakan penggunaan baju melayu dalam setiap kegiatan. Hal ini disampaikannya pada perayaanMandi Safar Rabu (7/11) di Desa Telok Melano, Kecataman Simpang Hilir.

“Mari kita membudayakan kembali memakai baju melayu dalam setiap kegiatan, kita dapat memulainyaketika ada acara perkawinan di dalam keluarga dan acara lainnya,” ajak Wakil Bupati.

Acara Mandi Safar yang dilaksanakan Desa Telok Melano bekerjasama dengan Kecamatan SimpangHilir dan Dinas Pendidikan, dihadiri Kapolres Kayong Utara AKBP Asep Irpan Rosadi, Anggota DPRDKKU, Kepala OPD dilingkungan Pemkab KKU serta Masyarakat Kecamatan Simpang Hilir yang tumpahruah di Lapangan Voli Telok Melano.

Wakil Bupati Kayong Utara hadir mengenakan baju Melayu berwarna hijau. Begitu juga KapolresKayong Utara yang menggunakan baju dinas dengan dilengkapi tanjak dan kain khas melayu.

Acara dimulai dengan mendengarkan lantunan ayat suci Alquran dan pembacaan shalawat. Kemudianmendengarkan tausiyah yang langsung disampaikan Wakil Bupati.

Dimulai dengan mengucapkan pantun,H Effendi Ahmad mengajak masyarakat untuk senantiasa melestarikan budaya yang baik serta berserahdiri kepada Allah Swt.

Usai mendengarkan tausiyah, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Setelah itu, WakilBupati bersama tamu yang hadir melakukan kirab dan pawai budaya menuju dermaga Telok Melano untuk melaksanakan ritual Mandi Safar.

Sesampainya di sana, ratusan masyarakat yang telahmenunggu acara puncak ini tampak terlihat senang dan ikut berdoa. “Dengan mengucap bismilah, rangkaian acara mandi safar ini saya buka,” tutur Wakil Bupati sembari memukul gong.

Usai diresmikan Wakil Bupati, masyarakat kemudian melakukan ritual mandi di Sungai Telok Melano.

Hasnawi, Ketua Panitia Kegiatan, kepada koran ini menjelaskan, bahwa salah satu upacara adat di Telok Melano adalah tradisi Mandi Safar. Tradisi ini telah turun temurun dilakukan olehmasyarakat karena dipercaya sebagai upaya menolak bala di bulan Safar.

Safar dipercayasebagai bulan yang banyak mengandung bahaya. Oleh karenanya, Mandi Safar ditujukan untukmembersihkan diri agar terhindar dari bahaya tersebut. “Hari Rabu minggu terakhir di bulan Safar

menjadi hari yang penting dalam tradisi Mandi Safar,” jelasnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara, Jumadi Gading menuturkan,kegiatan ini merupakan ajang silaturahmi masyarakat utuk mempererat rasa persatuan guna

melestarikan budaya yang ada.

“Di dalam ritual mandi safar ini, biasanya masyarakat menggantungkandaun andung, yang telah ditulis ayat Alquran yang kemudian diikat di hulu air yang mengalir. Barulahmereka mandi,” tutur Jumadi.

Terkait keinginan Wakil Bupati melestarikan pemakaian baju Melayu, menurut jumadi, BidangKebudayaan telah menyusun Raperda Pelestarian Kesenian dan Budaya Daerah yang mana didalamnya telah mengakomodir hal tersebut.

“Semoga Raperda ini, tahun depan dapat diketok paluDPRD. Sehingga penggunaan baju Melayu dapat dilestarikan terutama pada hari kerja di PemkabKayong Utara,” harap Jumadi.

 

Reporter: Kamiriluddin

Redaktur: Andry Soe