Happy Wednesday

Tak Lulus SMA, Azrul Ananda Justru Lulus Cum Laude di Amerika

Admin Fb
Bagikan WhatsApp

Kisah perjalanan pendidikan Azrul Ananda dari peserta program pertukaran pelajar di Kansas, hidup sendiri di Amerika pada usia 17 tahun, menghadapi krisis moneter 1997, hingga melihat putranya melanjutkan kuliah di kampus yang dulu menjadi impiannya.

JAKARTA — “Saya tidak pernah lulus SMA.”

Kalimat itu menjadi pembuka kisah Azrul Ananda dalam empat tulisan berseri berjudul “Saya Tidak Lulus SMA” yang dimuat di blog pribadinya, Happy Wednesday.

Kalimat itu sekilas terdengar seperti cerita tentang kegagalan pendidikan. Namun, justru dari sanalah perjalanan pendidikan penuh liku Azrul Ananda dimulai.

Pernyataan “Saya tidak pernah lulus SMA” memang bukan gimmick. Faktanya demikian. Putra Dahlan Iskan itu memang hanya pernah duduk di bangku SMA selama satu tahun, yakni ketika mengikuti program pertukaran pelajar di Ellinwood High School, Kansas, Amerika Serikat, pada 1993–1994. Saat itu, ia berangkat dari Indonesia setelah menyelesaikan SMP, pada usia 16 tahun.

Azrul berangkat ke Amerika Serikat melalui program pertukaran pelajar. Ceritanya dimulai ketika ia masih duduk di kelas 3 SMP di Surabaya.

Saat itu, orang tuanya berusaha mencari jalan agar Azrul dan adiknya bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Ayahnya, Dahlan Iskan, yang bekerja di dunia jurnalistik, memiliki kekhawatiran terhadap kondisi pekerjaannya yang penuh risiko. Namun, kondisi ekonomi keluarga ketika itu belum memungkinkan untuk begitu saja mengirim anak ke luar negeri.

Azrul yang saat itu berusia 15 tahun kemudian mengikuti proses seleksi sebagaimana diminta orang tuanya. Ia menjalani tes tertulis bahasa Inggris dan wawancara. Tanpa persiapan khusus, Azrul justru lolos.

Pada Juli 1993, beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-16, ia berangkat ke Amerika Serikat sebagai salah satu dari sekitar 80 siswa Indonesia yang mengikuti program pertukaran pelajar. Ia menjadi peserta termuda kedua dalam rombongan tersebut.

Setelah menjalani orientasi di Amerika, para peserta pertukaran kemudian disebar ke berbagai negara bagian. Azrul mendapat penempatan di Kansas, negara bagian yang berada di tengah Amerika Serikat.

Ia kemudian tinggal bersama keluarga John dan Chris Mohn di Ellinwood, sebuah kota kecil di Kansas. Keluarga tersebut memiliki koran lokal, Ellinwood Leader, sekaligus aktif di dunia pendidikan. John mengajar English dan Journalism di Ellinwood High School, sedangkan Chris mengajar bahasa Spanyol dan melatih Quiz Bowl.

Selama mengikuti program pertukaran pelajar, Azrul banyak belajar dari keluarga John dan Chris Mohn. Ia bahkan menjadi bagian dari tim jurnalistik sekolah. Ia bekerja sebagai fotografer dan layouter serta meliput berbagai kegiatan sekolah, termasuk tim basket Ellinwood High School.

Pengalaman itulah yang kemudian ia sebut sebagai salah satu benih DBL.

Setelah satu tahun, Azrul kembali ke Indonesia. Namun, kepulangannya tidak otomatis membuat perjalanan pendidikan menjadi sederhana.

Azrul dihadapkan pada pilihan sulit. Jika kembali masuk SMA di Indonesia, ia harus mengulang dari kelas 10. Ayahnya sendiri meminta Azrul kembali ke Amerika karena kondisi keluarga ketika itu belum sepenuhnya aman.

Pada usia 17 tahun, Azrul kembali ke Amerika dan harus mencari sendiri jalan untuk melanjutkan pendidikan.

Ia tiba di Sacramento, California, dan tinggal sendirian di sebuah apartemen yang nyaris kosong. Tidak ada internet, belum ada telepon seluler, dan biaya menelepon Indonesia sangat mahal.

Setelah itu, ia mendatangi Departemen Pendidikan Sacramento untuk mencari jalan agar tetap bisa bersekolah.

Karena bukan penduduk California, bukan warga negara Amerika, tidak memiliki orang tua atau wali di sana, dan tidak menemukan SMA swasta yang mau menerimanya sebagai siswa internasional, pilihan pendidikan Azrul saat itu tampak sangat terbatas.

Namun, Departemen Pendidikan Sacramento mencarikan jalan keluar.

Azrul menjalani assessment test dan dinilai memiliki kemampuan akademis serta kemampuan bahasa Inggris yang cukup untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Dari situlah muncul gagasan agar ia tidak kembali ke SMA, tetapi langsung mengambil jalur pendidikan tinggi melalui junior college atau juco.

Juco inilah yang kemudian menjadi jembatan.

Azrul mengikuti sekolah bahasa Inggris selama sekitar enam bulan sebelum akhirnya, pada musim gugur 1995, resmi masuk Sacramento City College jurusan Bisnis.

Ia menyelesaikan dua tahun pendidikan dengan GPA 3,81 dari maksimal 4,00. Nilai TOEFL-nya juga meningkat hingga 630. Secara akademis, jalan menuju universitas terkemuka di Amerika Serikat terbuka.

Namun, datang persoalan lain: krisis moneter 1997.

Nilai dolar Amerika melonjak dari sekitar Rp3.000 menjadi lebih dari Rp17.000. Banyak mahasiswa Indonesia di Amerika yang tidak lagi mampu meneruskan pendidikan dan terpaksa pulang.

Azrul sendiri harus mengubah rencana pendidikannya. Dua universitas yang sebelumnya menjadi target—University of California, Berkeley, dan University of Kansas—akhirnya dilepas.

Azrul memilih tetap di Sacramento dan melanjutkan pendidikan di California State University, Sacramento, atau Sac State, yang biaya kuliahnya jauh lebih terjangkau.

Untuk menghemat biaya hidup, ia tinggal bersama tiga teman Indonesia. Ia juga bekerja di kafetaria kampus sebagai pelayan, kasir, kitchen helper, dan pencuci piring. Penghasilan tambahan diperoleh dari jual-beli koleksi mainan melalui eBay serta mengerjakan esai bahasa Inggris untuk mahasiswa internasional lain.

“Life must go on!” katanya.

Azrul kemudian menyelesaikan pendidikan di Sac State pada 1999. Ia bahkan lulus Cum Laude.

Fakta bahwa dirinya tidak pernah lulus SMA semakin tidak relevan.

Menariknya, ada satu momen yang sangat personal pada hari wisuda. Azrul mengenakan toga dengan jins bolong-bolong dan sepatu skate butut.

Pakaian tersebut bukan sekadar gaya. Jins dan sepatu itu adalah perlengkapan kerjanya ketika bekerja di kafetaria kampus—saat mengelap meja, mencuci piring, bahkan pernah masuk ke kontainer sampah untuk mengambil bak sampah yang terjatuh.

Ternyata, bertahun-tahun kemudian, perjalanan itu seperti menemukan titik sambungnya.

Pada Agustus 2026, putra pertama Azrul, Ayrton, resmi menjadi mahasiswa University of Kansas. Ia mendapatkan scholarship dan mengambil jurusan Media Arts di bawah School of Journalism.

University of Kansas merupakan salah satu kampus yang dahulu menjadi impian Azrul, sebelum krisis moneter membuatnya memilih jalan lain.

Hampir tiga dekade setelah Azrul berangkat ke Amerika tanpa ijazah SMA, kini putranya melanjutkan pendidikan di kampus yang pernah menjadi salah satu impian sang ayah -dengan membawa ijazah SMA.(*)