Atlet IESPA Kalbar Batal Berangkat Fornas NTB, Dwi Susanto: Fungsi Kormi Kalbar Apa? ‎*Konon, Anggaran Kormi Kalbar 2025 Lebih dari Rp1 Miliar

‎‎eQuator.co.id-Pontianak. Atlet Esport Kalimantan Barat batal ikut Festival Olahraga Nasional (Fornas) 2025. Ditenggarai karena tidak mendapat dukungan riil dari Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Kalbar.

“Terkait Fornas di NTB, Kormi hanya memberikan rekomendasi, dan aparel ke Induk Organisasi Olahraga (Inorga),” beber Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ikatan Esport Indonesia (IESPA) Kalbar, Dwi Susanto, di Pontianak, Jumat (18/7).

lanjut ia, persyaratan untuk mengambil atribut harus menunjukkan tiket pesawat atau kapal. Yang artinya Kormi tidak memberikan dukungan dana untuk IESPA memberangkatkan atletnya.

“Sebagai salah satu Inorga yang tergabung dalam Kormi, kami bertugas melakukan penjaringan, menyiapkan kompetisi, serta membina untuk mendapatkan atlit, dan itu sudah kita lakukan,” tutur Dwi.

Informasi yang didapat eQuator.co.id dari sumber yang dapat dipercaya, anggaran yang didapat Kormi dari Pemprov Kalbar pada 2025 mencapai lebih dari Rp1 miliar. Namun, Dwi melanjutkan, sangat disayangkan, apa yang telah dilakukan IESPA Kalbar, baik itu pembinaan, penjaringan atlit, yang dinilai sudah cukup matang terhambat dari sisi anggaran.

Belum jelas apa indikator yang digunakan pengurus Kormi dalam menyalurkan anggaran ke Inorga. Pengurus IESPA Kalbar hanya diberikan rekomendasi dan atribut.

“Untuk support, transportasi, dan akomodasinya kita tidak didukung, jika IESPA sebagai Inorga yang berkewajiban melakukan pembinaan dan penjaringan atlit juga harus membiayai atlit untuk mengikuti Fornas NTB, lalu fungsi Kormi sendiri apa?” tanya Dwi.

Menurutnya, atlit binaan IESPA Kalbar sudah siap untuk berangkat. Terkait Fornas, pihaknya sudah menerima undangan dari Kormi. Undangan yang dilayangkan berisikan pengambilan atribut perlengkapan dan rekomendasi dengan syarat melampirkan tiket pesawat atau tiket kapal para peserta.

“Jadi ini jelas Kormi tidak menyiapkan untuk akomodasi dan transportasi bagi atlit Inorga, dengan begitu IESPA tidak mengikuti agenda Fornas NTB, sebab tidak bisa mengirimkan atlit kita,” ungkap Dwi.

Dijelaskan ia, saat ini, terdapat 10 atlit dan official yang tergabung di IESPA. Melihat kondisi yang terjadi, Dwi berharap Kormi dapat melakukan tugas dan fungsinya kepada Inorga.

“Sebab tidak elok rasanya jika Inorga yang menjaring serta membina atlit kemudian dibebani juga dengan tugas menyiapkan transportasi akomodasi untuk para atlitnya,” sindirnya.

Sambung Dwi, tentu kita melihat kekecewaan atlit yang sudah siap berangkat dan telah melewati seleksi untuk mengikuti Fornas. “Ternyata gagal berangkat hanya karena tidak adanya fasilitas transportasi akomodasi,” pungkasnya. (ova/miq)