4 Tips Tangani Anak Trauma Teror Bom dari Psikolog Cantik

34
Psikolog Keluarga, Tara de Thouars memberikan tips penanganan anak korban trauma. (Istimewa)

eQuator.co.id – Kondisi miris terjadi dalam ledakan teror bom di Surabaya dan Sidoarjo. Sebab anak-anak dilibatkan oleh pelaku dan tewas bersama orang tuanya. Belum lagi, korban sipil yang juga masih berusia anak pun jadi korban di antara jemaat gereja. Tentu anak-anak yang saat itu berada di lokasi kejadian akan merasa trauma melihat kejadian tersebut.

Psikolog Keluarga, Tara de Thouars memberikan tips kepada para orang tua untuk menangani anak-anaknya yang mengalami trauma atau syok atas ledakan bom. Jangan sampai trauma berkelanjutan dan berdampak buruk pada tumbuh kembang anak hingga dewasa.

Trauma ini juga bisa dimungkinkan dialami anak Indonesia yang tanpa sengaja melihat video maupun foto berkaitan teror bom di televisi maupun media lainnya.

“Trauma menimbulkan perasaan takut, cemas, flashback, bahkan untuk anak-anak reaksi yang biasa muncul adalah menangis, berteriak bahkan bertindak agresif,” kata Tara kepada JawaPos.com, belum lama ini.

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua dan lingkungan untuk menghilangkan trauma:

– Sebelum Menanggulangi Anak

Pastikan orang tua dalam keadaan emosi yang stabil agar dapat menolong. Karena orang tau yang panik dapat memicu anak bertambah panik dan takut. “Orang tua tenang anak akan terbawa tenang,” jelas Psikolog berparas cantik itu.

– Berikan Rasa Aman

Peristiwa trauma menimbulkan perasaan takut bahwa kejadian sama akan berulang. Berikan rasa aman, secara fisik di dekat mereka. “Berikan kata-kata positif dan keyakinan bahwa akan selalu ada orang yang melindungi mereka,” ujar Tara.

-Alihkan Rasa Takut

Caranya dengan mengajak melakukan kegiatan yan lebih menghibur seperti bernyanyi, mewarnai, menari. Hal ini baik untuk melampiaskan emosi dan mengalihkan ketakutan. “Bisa mengajak anak dengan kegiatan hiburan untuk mengalihkan rasa takutnya atas apa yang dilihatnya,” ungkapnya.

– Ajak Bicara

Ajak bicara apa makna yang ditangkap anak dari peristiwa itu. Tiap anak bisa menangkap dan memaknai suatu peristiwa berbeda-beda. “Temukan apa hal yang paling mengusiknya kemudian beri penjelasan mengenai fakta dan realitas yang ada agar pikiran butuk dapat diatasi,” tutupnya. (JawaPos.com/JPG)