Warga Kalbar Jangan Terprovokasi Medsos

FKUB Sesalkan Teror di Medan

123
KETERANGAN PERS. Pengurus FKUB Kalbar memberikan keterangan pers di sekretariatnya Jalan Sutomo Pontianak, Selasa (30/8). ISFIANSYAH

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Peristiwa bom bunuh diri di Medan, Sumatra Utara disesalkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalbar.

Para tokoh agama Kalbar itu menyampaikan pernyataan sikap dan imbauan, sehubungan dengan peristiwa penyerangan dan percobaan peledakan bom bunuh diri di Gereja Santo Yosep Medan, Minggu (28/8) lalu.

Pernyataan sikap itu disampaikan pengurus FKUB Kalbar, Ketua Umum Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag, Wakil Ketua I Aries Mawardi (Katolik), Wakil Ketua II Ir. Putu Dupa Bandem (Hindu), Sekretaris FKUB Pdt Daniel Alpius, M.Th (Protestan) dan Wakil Sekretaris Suryanto, Bsc, SH (Konghucu) di Sekretariat FKUB Kalbar, Jalan Sutomo Pontianak, Selasa (30/8).

Wajidi menilai, tindakan pelaku bom bunuh diri itu bisa merusak hubungan tatanan kerukunan umat beragama. Meski kejadian itu di Medan, namun bisa berdampak ke daerah lainnya.

Poin penting dari pernyataan sikap FKUB, diantaranya meminta polisi dan aparat penegak hukum lainnya untuk mengungkap secepatnya, kemudian menindak tegas pelaku. “Kami meminta agar pelaku ditindak tegas secara professional, sesuai aturan dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia,” tegas Wajidi.

FKUB mengajak, sekaligus mengimbau tokoh dan umat beragama di Kalbar agar tetap tenang, serta tidak terpengaruh provokasi di media social (Medsos) mengenai peristiwa itu. Semua pihak harus menyerahkan sepenuhnya dan percaya kepada aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus ini.

“Kami juga mengajak seluruh umat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama, agar situasi dan kondisi tetap aman dan damai,” kata Wajidi.

Wakil Ketua I Aries Mawardi meminta semua pihak ikut menjaga keamanan. Dia mengingatkan, jangan ada yang merasa wilayahnya cukup aman. Sebab, ada saja pihak yang tidak suka, sehingga berupaya membuat kericuhan.

“Jangan takut terhadap terorisme dan radikalisme. Mari bersama-sama menjaga keamanan di daerah kita,” ajaknya.

Wakil Ketua II Putu Dupa Bandem mengaku sudah 41 tahun tinggal di Kalbar. Selama itu, Kalbar sangat kondusif. Putu mengajak agar masyarakat jangan terprovokasi terhadap hal-hal yang memicu konflik.

“Hal yang terjadi di Kalbar bukan berlatarbelakang agama. Jadi seperti pernyataan sikap FKUB, serahkan semuanya kepada aparatur hukum,” tegas Putu.

Wakil Sekretaris Suryanto juga meminta masyarakat jangan mudah terprovokasi dengan informasi yang masuk kepadanya. Perlu deteteksi dini dan kewaspadaan dari aparat serta masyarakat, terhadap pihak-pihak yang tidak senang dengan kedamaian.

Terpisah, Wakil Gubernur Drs. Christiandy Sanjaya, SE, MM mengatakan, teror bom tidak hanya mengancam satu tempat ibadah, tetapi juga kawasan lainnya. Termasuk masjid, gereja dan tempat ibadah lainnya. Dia mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap ancaman.

“Teror itu datang secara tiba-tiba. Masyarakat harus waspada. Mari bersama-sama menjaga ketertiban dan keamanan di Kalbar,” ungkap Christiandy.

Christiandy juga mengingatkan masyarakat, jangan mudah terprovokasi. Termasuk dengan kasus teror bom di Gereja Katolik Santo Yosef di Jalan Dr Mansyur, Medan.

“Jika terprovokasi, maka berdampak pada pembangunan Kalbar. Justru kita dituntut waspada dengan kejadian ini,” pesannya. (fie)