Wakafkan Diri untuk Olahraga Indonesia

44
Raja Sapta Oktohari/Chef de Mission

eQuator – Jauh sebelum Olimpiade Rio De Janeiro digelar 2016, Kemenpora telah menunjuk Raja Sapta  Oktohari menjadi Chef de Mission (CdM) atau ketua tim Indonesia yang berangkat ke ajang olahraga terbesar sejagat tersebut.

Okto, panggilan karibnya pun langsung bergerak cepat menyiapkan segala sesuatunya. Bagi dia, menjamin atlet nyaman cukup penting agar pada hari pelaksanaan Olimpiade nanti fokus dan motivasi atlet semakin berlipat.

Dia menegaskan, dalam olahraga prestasi, berbeda dengan saat dirinya menggeluti tinju. Masuk ke balap sepeda dengan menjadi ketua umum ISSI, kemudian ditunjuk menjadi CdM, makin memantapkan hati Okto untuk mewakafkan dirinya untuk olahraga Indonesia. Karena itu, dia langsung siap berlelah-lelah ria, menyiapkan program agar atlet bisa maksimal karena didukung kenyamanan di Olimpiade nanti. Berikut petikan wawancara JPNN dengan Okto yang ditemui, Kamis (3/12) di Jakarta.

+Anda sudah resmi menjadi CdM Indonesia untuk Olimpiade 2016, apa yang anda siapkan?

-Ketika saya diberikan amanah ini, saya langsung mencari informasi dari CdM yang lalu dan juga CdM-CdM yang sudah pernah memimpin Indonesia di Multi event, seperti SEA Games, Asian Games, bahkan Olimpiade yang dulu-dulu.

+Siapa saja mereka? 

-Yang intens ya ke Pak Erick (Thohir/CdM Olimpiade 2012), Pak Ahmad Sutjipto (CdM Asian Games 2006) dan juga yang lain saya komunikasi sama mereka.  Mereka pelakunya, mestinya mereka sangat tahu ketika mereka melaksanakan sebagai CDM.  Nah, masalah yang selalu muncul itu karena anggaran terlambat, anggaran kurang. Untuk ini, saya perlu kominikasi dan minta komitmen pemerintah.

+Masukan mereka bagaimana?

-Intinya, kepentingan CdM di Olimpiade adalah memberikan layanan atlet semaksimal mungkin, agar mereka tampil prima di sana. Jangan sampai justru tim-tim CdM yang mendampingi malah jadi beban. Tapi, mulai sekarang sampai delapan bulan ke depan, harus memberikan dukungan yang maksimal, untuk melipatgandakan motivasi atlet. Saya juga pelajari, teknis, nonteknis, seperti kamar hotel. Saya dapat masukan dari Pak Erick agar tim (CdM) tak besar sehingga kinerja efektif.

+Kalau gambaran Pak Okto sendiri seperti apa? Sudah adakah gambaran tim itu dan mau ngapain aja?

-Saya bikin tim 12, untuk bantu CdM siapkan kebutuhan para atlet agar memudahkan atlet di sana. Kami sudah cari hotel, apartemen dan apapun yang bisa membuat atlet nyaman. Opsi menyewa rumah mungkin juga kami siapkan, kami akan maksimal. Agar atlet merasa senyaman mungkin.

Kalau ada spesial request beberapa cabor, kami akan datangi cabor yang potensi masuk, kami akan tanya apa yang harus dilakukan oleh kami agar menambah kenyamanan mereka. Ini bentuk layanan kami ke mereka. Biarlah nanti CdM dan timnya yang capek, yang penting atlet fokus.

+Delapan bulan ke depan apa yang akan dilakukan agar layanan dan dukungan ini semakin maksimal? 

-Olimpiade ini prestis, ajang tingkat tertinggi di dunia, gak ada lagi olahraga yang lebih tinggi. Awareness, kepedulian, bahkan kebanggaan atlet Indonesia tampil di Olimpiade harus dibangkitkan lagi.

+Caranya sudah dipikirkan atau sudah diprogramkan pak? 

-Untuk awareness, saya akan tingkatkan sosialisasi, agar masyarakat sadar, ada anak bangsa dari Indonesia di event olahraga terbesar di dunia. Kami juga akan lakukan roadshow, aktivitas menuju Olimpiade ditambah. Nanti kami akan libatkan EO-EO, bikin penggalangan dana dengan mengundang pengusaha untuk ikut andil demi nama bangsa, mengajak motivator dan olimpian untuk memberikan semangat, menambah dukungan.

Ini jadi hajatan besar Indonesia, untuk mengembalikan kejayaan olahraga Indonesia dan membangkitkan rasa bangga masyarakat kepada atlet yang bisa tampil di Olimpiade. Harus disadari, memang kepedulian itu semakin rendah. Tepuk tangan saja untuk atlet sendiri pelit sekarang. Untuk itu, dengan Olimpiade ini kami harus bangkitkan nasionalisme dan rasa bangga itu. Ini akan menjadi test case, karena 2018 kita tuan rumah Asian Games 2018.

+Dengan CdM, berarti saat ini kesibukan berlipat, selain mengurus bisnis, mengurus tinju, mengurus balap sepeda, apakah masih tetap bisa semangat mengerjakan semuanya?

-Kalau tinju, itu kan tinju pro, itu bisnis. Kalau bicara CdM dan balap sepeda (ISSI), ini hal baru karena banyak instrumen  negara terlibat. Kemenpora, KOI, KONI, Satlak. Semua berkepentingan, apalagi saya juga harus memulai dari nol, karena ada dinamika khususnya di sepeda. Ini justru yang membuat saya tertantang, termotivasi.

Karena itu, saya bilang kalau saya rela mewakafkan diri saya untuk olahraga Indonesia. Ini menjadi komitmen saya, karena saya juga lahir dari keluarga olahraga. Keluarga saya Karate. Tujuannya, untuk bisa ikut andil membangkitkan prestasi Indonesia.

+Selain tenaga itu, bentuk lain wakaf untuk olahraga itu seperti apa?

-Tak perlulah yang lain saya bicarakan, gak baik. Yang pasti saya support penuh untuk olahraga Indonesia. Jangan hanya ngomong cinta olahraga, tapi tidak ada hal konkret yang dibuat. Mudah-mudahan semangat ini juga dilakukan para pecinta olahraga lain. Jangan bilang cinta olahraga, tapi tidak mau memulai untuk melakukan sesuatu untuk olahraga Indonesia. Jangan hanya mengkritisi, bikin sekecil apapun, mau jadi pengurus, konsultan, commissier atau juri atau apapun itu.

+Nah, ini sekarang ada ancaman dinamika di olahraga akan muncul lagi, bagaimana menyikapinya pak? 

-Ya itu harus ditahan, semua pihak harus bisa menahan diri. Sebenarnya itu tak akan terjadi kalau di olahraga tujuan kita bukan jabatan, bukan kekuasaan, bukan juga anggaran. Tujuannya semata prestasi Indonesia. Semakin tinggi dinamika, semakin rendah prestasi.

Semua permasalahan ini, banyak muncul karena komunikasi yang kurang. Padahal perlu harmonisasi. Olahraga itu setengah seniman, perlu harmonisasi dengan sistematis yang terpadu sehingga hasilnya prestasi.

Re-editing: Andry Soe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here