Visi Nuklir Bung Karno

Oleh: Joko Intarto

36
SORGUM BATAN. Jto dan Ir. Bahrun dengan sorgum hasil budidaya Batan. JTO for RK
SORGUM BATAN. Jto dan Ir. Bahrun dengan sorgum hasil budidaya Batan. JTO for RK

eQuator.co.id – Memang ini salah kaprah. Setiap kali membahas nuklir, yang terbayang pasti bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Yang membuat Jepang bertekuk lutut pada Sekutu. Yang membuat Indonesia merdeka lebih cepat dari yang dijanjikan Jepang.

Dampak bom atom yang dijatuhkan dari pesawat tempur Sekutu itu memang mengerikan. Belum ada bom lain yang menimbulkan daya rusak sedemikian dahsyat. Mungkin bomnya ada. Tapi tak pernah diledakkan.

Dokumentasi dampak bom atom Nagasaki dan Hiroshima bisa ditemukan dengan mudah di internet. Cobalah googling. Pasti ketemu. Ada yang versi betulan. Ada juga versi hoax.

Sebenarnya, nuklir tidak melulu tentang bom. Nuklir memang bisa digunakan untuk membuat senjata. Tetapi nuklir juga bisa digunakan untuk membuat suatu bangsa lebih sejahtera. Bergantung pemimpinnya. Tujuannya. Dan teknologinya.

Beruntung saya berkesempatan singgah di kompleks perkantoran Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Lokasinya tak jauh dari Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sekitar 40 kilometer dari rumah saya, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Oleh Pak Heru Santosa, Kepala Bidang Promosi dan Produksi Media Pusat Diseminasi dan Kemitraan Batan, saya diajak berjalan kaki mengelilingi kantornya yang seluas 12 hektar itu. Pak Heru rupanya mengajak dua rekan kerjanya.

Pak Agus Rial, fungsional pranata humas dan Pak Dimas Irawan, kepala bidang diseminasi. Berenam kami menyusuri jalan beton untuk melihat berbagai proyek penelitian dan pengembangan nuklir di situ.

Selama dua jam, saya tidak menemukan bom nuklir. Yang saya lihat justru aneka tanaman pangan di kebun percobaan. Padi, jagung, sorgum, kedelai dan pisang.

“Ini bibit yang dimuliakan dengan memanfaatkan nuklir. Menggunakan teknologi iradiasi. Hasilnya bibit tanaman pangan berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional,” jelas Heru.

Saat ini, Batan telah menghasilkan banyak benih hasil iradiasi. Benih padi, misalnya, telah menjadikan Kabupaten Gowa sebagai salah satu lumbung padi nasional. Demikian pula di beberapa kabupaten di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten.

Batan hanya melakukan pemuliaan bibit. Hasilnya bisa dimanfaatkan publik yang ingin menyediakan benih untuk petani.

“Kami lembaga pemerintah yang bertugas melakukan riset dan pengembangan teknologi nuklir. Bukan perusahaan negara yang bertugas memasarkan hasil riset,” lanjut Heru.

Dari berbagai varietas padi, ada dua temuan baru yang menurut Pak Heru punya nilai istimewa. Pertama padi Sidenuk. Orang Jawa menyebutnya Sidenok. Kedua Panda Sari.

Sidenuk atau Sidenok adalah padi yang sangat produktif. Setelah tumbuh, bibit padi akan beranak banyak. Lebih banyak dari varietas lainnya. Otomatis hasil panennya meningkat. Selain itu, Sidenuk memiliki daya tahan tinggi terhadap serangan hama.

Varietas Sidenuk sudah diakuisisi PT Sang Hyang Seri. BUMN pangan itu akan memproduksi dan mendistribusikan secara eksklusif benih Sidenuk selama 10 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan benih nasional dalam rangka program ketahanan pangan.

Ada lagi benih padi Pandan Sari. Benih ini dimuliakan dari indukan padi Pandan Wangi Cianjur yang terkenal di seluruh dunia itu. Kelemahan Pandan Wangi, umur panennya lama. Bisa 6 bulan.

Karena masa tanamnya lama, banyak petani yang tidak tertarik. Siklusnya kurang sesuai dengan pola dua musim. Kecuali di Kawasan pegunungan yang hujannya sepanjang tahun.

Dengan teknologi nuklir melalui proses iradiasi, dihasilkan varietas baru Pandan Sari. Anakannya. Harum dan pulennya seperti Pandan Wangi. Umur panennya lebih pendek. Hanya 120 hari.

Yang juga istimewa, Pandan Sari tetap menghasilkan beras beraroma wangi. Ditanam di mana pun, hasilnya sama wanginya. Berbeda dengan induknya yang hanya menghasilkan beras wangi bila ditanam di tempat aslinya.

“Ini bisa menjadi terobosan untuk menghasilkan produksi beras asli Indonesia yang pulen dan wangi. Beras premium nasional untuk seluruh dunia,” papar Heru.

Selain padi, Batan juga telah menghasilkan banyak varietas kedelai. Ada kedelai putih untuk bahan baku tempe dan tahu.

“Jadi di dalam tempe yang kita makan, ada peran teknologi nuklir Batan di dalamnya,” seloroh Pak Heru.

Selain kedelai putih, ada pula kedelai hitam untuk kecap. Banyak perusahaan swasta nasional yang memproduksi kecap, telah memanfaatkan benih kedelai hitam hasil temuan Batan. Oleh perusahaan tersebut, benih diperbanyak untuk didistribusikan kepada para petani mitra masing-masing. Polanya inti–plasma.

Terkait dengan peluang itu, saya sengaja ke Batan mengajak dua orang teman. Pertama, Pak Bahrun. Seorang arsitek yang fokus dalam proyek pembangunan ramah lingkungan. Sekarang Pak Bahrun sedang mengembangkan integrated farming dengan sorgum sebagai tanaman utama. Proyeknya sudah berjalan di Nusa Tenggara Timur dan Bengkulu.

Selain Bahrun, saya juga mengajak Pak Cholil, seorang bankir. Pak Cholil dulu pernah menjadi direktur keuangan Bank Mandiri. Pada awal merger empat bank pemerintah (Bapindo, BDN, BBD dan Exim). Selanjutnya, Pak Cholil menjadi direktur keuangan Semen Gresik.

Sekarang Pak Cholil aktif dalam program pemberdayaan ekonomi pada kelompok masyarakat pedesaan. Salah satu proyek sosialnya saat ini adalah pemberdayaan ekonomi suku Badui luar. Di Lebak, Banten.

Pak Cholil juga aktif di ormas Syarikat Islam. Jabatannya wakil ketua bidang ekonomi. Satu kompartemen dengan Sandiaga Uno (sebelum menjadi Wakil Gubernur DKI) dan Andrinof Chaniago (setelah tidak menjadi Ketua Bappenas).

Dengan kehadiran dua teman tersebut, saya berharap ada gagasan baru untuk memanfaatkan hasil-hasil penelitian Batan dalam bidang pangan. Misalnya: penenaman bibit sorgum produksi Batan, menggunakan konsep Pak Bahrun, menggandeng suku Badui luar yang diinisiasi Pak Cholil.

Nuklir tidak selalu identik dengan bom dan sumber bencana. Nuklir tidak perlu ditakutkan. Apalagi nuklir Batan.

Nuklir Batan hanya untuk kesejahteraan. Nuklir Batan hanya digunakan untuk menghasilkan energi listrik, bibit pertanian, pakan untuk peternakan dan produk kesehatan. Bukan untuk senjata pemusnah massal.

Nuklir untuk kesejahteraan merupakan visi besar Presiden Soekarno, ketika meresmikan reaktor nuklir pertama milik Badan Tenaga Atom (sekarang Batan), 60 tahun lalu. Pertanyaannya, kapan Pemprov Kalimantan Barat akan memanfaatkan nuklir Batan? (jto)

 

*Admin www.disway.id, founder www.jagaters.id