Virus Rabies Serang Otak Sentia

47
DIRAWAT. Sentia Resa, bocah yang terjangkit virus rabies saat menjalani perawatan di kamar isolasi ruang perawatan anak RSUD Sekadau, Selasa (10/10). ABDU SYUKRI

Kita juga minta tim vaksin untuk segera bertindak melakukan vaksinasi di daerah yang diduga tersebar rabies,” Aloysius, Wakil Bupati Sekadau.

eQuator.co.id–Sekadau-RK. Kesehatan Sentia Resa kian memburuk. Bocah perempuan lima tahun itu terjangkit virus rabies, setelah digigit anjing yang dipelihara orangtuanya sendiri.

Bali, 49, dan istrinya Yuliana Sewan, 43, ditemani kerabatnya Abi Kusno yang juga Sekretaris Desa (Sekdes) Sunsong hanya bisa pasrah melihat kondisi Sentia yang kian memburuk. Pihak keluarga hanya bisa berharap ada keajaiban atas kesembuhan Sentia.

“Malam ini kondisinya makin memburuk,” ujar Abi Kusno, paman Sentia kepada Rakyat Kalbar via selularnya, Rabu (11/10) malam.

Menurut Abi, sejak malam sebelumnya, kondisi keponakannya sudah kritis. “Batuknya sudah bercampur darah. Tadi siang kami coba panggil Pastor untuk mendoakan kesembuhannya,” sambung Abi.

Plt Direktur RSUD Sekadau, Henry Alpius membenarkan apa yang dikatakan Abi. Dia mengatakan, pasien dari Sunsong tersebut datang dengan kondisi sudah parah. Menurut diagnosa dokter, Sentia positif rabies dan sudah menyerang ke otaknya.

“Menurut anamnesa, sudah tiga minggu kena gigitan kedua. Kata bapaknya (pasien, red) dua, tiga hari kemarin baru memburuk dan dibawa ke rumah sakit,” ujar Henry.

Henry menjelaskan, saat datang ke rumah sakit kondisi Sentia sudah semakin menurun, karena sudah radang otak. Tim RSUD Sekadau berusaha semaksimal mungkin merawat pasien agar stabil.

“Mau dirujuk ke RSUD dr Soedarso Pontianak, tapi agak berat. Kondisinya semakin memburuk. Kami juga sudah koordinasi dengan pihak RSUD Soedarso dan diminta memperbaiki kondisinya di Sekadau dulu,” jelasnya.

“Kami juga tidak bisa banyak menolong, karena memang kondisinya sudah terlambat sekali. Berbeda jika awalnya digigit anjing, langsung diberikan vaksin anti rabies (VAR), mungkin bisa menolong awalnya,” sambung Henry.

Bila baru saat ini diberikan vaksin anti rabies (VAR), kata Henry, menurut dokter sudah terlambat sekali. Namun tim RSUD Sekadau masih menangani pasien untuk bantuan hidupnya.

“Tergantung kondisi pasien. Kalau bertahan kondisinya membaik. Tapi kalau pasien tidak mampu, ya memburuk,” jelasnya.

Henry menegaskan, tim medis RSUD Sekadau fokus penanganan pada pasiennya. Mereka juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) terhadap kondisi tersebut. Kendati demikian, pihak RSUD berupaya maksimal dalam merawat pasien.

“Mengingat kondisi pasien saat ini. Kami berikan pilihan kepada keluarga, karena kondisi napas saja sudah tidak bagus, kami maksimalkan perawatan di rumah sakit melihat perbaikannya,” ungkap Henry.

Henry juga mengimbau masyarakat, apabila terkena gigitan anjing agar segera melapor agar bisa ditangani. Dia juga meminta masyarakat proaktif dan tidak membiarkan terlalu lama bila terkena gigitan anjing.

“Jangan sampai berminggu-minggu baru dirawat. Usaha pengobatan yang sudah terlambat, mungkin akan lain ceritanya jika cepat ditangani,” ungkapnya.

“Ini sangat kami sayangkan. Padahal, beberapa waktu lalu ada pelayanan ke Sunsong tapi tidak ketahuan. Bila terkena gigitan cepat lapor. Apabila ada anjing yang menggigit, sebaiknya dimusnahkan untuk mencegah gigitan-gigitan lainnya,” tutur Henry.

Wakil Bupati Sekadau Aloysius, SH, M.Si langsung memerintahkan jajarannya segera bertindak, setelah mengetahui penyakit yang diderita Sentia. “Sudah kita sampaikan ke instansi terkait untuk mengambil langkah-langkah cepat,” tegas Aloy.

Dia meminta agar masyarakat tetap waspada dengan ancaman penyebaran rabies. “Kita juga minta tim vaksin untuk segera bertindak melakukan vaksinasi di daerah yang diduga tersebar rabies,” ujar Aloy.

Seperti diberitakan Rakyat Kalbar, Rabu (11/10), Sentia Resa harus dirawat intensif di ruang isolasi perawatan anak RSUD Sekadau sejak Selasa (10/10) pagi. Bocah perempuan ini sakit setelah digigit anjing di rumahnya, dua pekan lalu.

“Saya lupa tanggal pastinya. Tapi anak saya itu digigit anjing sekitar dua minggu lalu,” tutur Bali, ayah kandung Sentia dijumpai Rakyat Kalbar di ruang perawatan anak RSUD Sekadau, Selasa (10/10) sore.

Tim medis RSUD Sekadau memutuskan untuk langsung merawat inap Sentia yang baru dibawa orangtuanya ke RSUD Sekadau. Ini dilakukan karena kondisi Sentia kritis. Dia kerap berteriak dan sulit diajak komunikasi. Tim medis terpaksa mengikat kedua tangannya ke bangsal karena ingin berontak.

“Suaranya juga berubah lain. Sejak tadi malam (kemarin malam, red) dia gelisah dan berubah suaranya seperti itu,” ujar Bali.

Bali menceritakan kronologis anaknya digigit anjing. Tragisnya, anjing yang menggigit Sentia merupakan anjing piliharaan mereka sendiri. “Saya itu punya dua anak anjing yang baru lepas susu (selesai masa menyusui, red). Yang satu sudah mati, yang satu saya pelihara,” beber Bali.

Namun, kejanggalan mulai terlihat pada anjing yang dia pelihara. Anjingnya mulai mengejar kucing sehingga Bali memutuskan untuk merantainya menggunakan rantai bekas rantai sepeda.

Namun saat hendak merantai, anjing tersebut berontak dan lepas dari tangan sang ayah. Secara tiba-tiba anjing itu menyerang dan menggigit punggung belakang Sentia yang tengah duduk di pintu depan.

“Saya di teras. Anjing lepas dan langsung gigit anak saya. Setelah gigit itu, saya tangkap lagi dan saya rantai,” kenang Bali.

Keesokan paginya, lanjut Bali, anjing tersebut ditemukan mati dengan tali rantai terlilit di lehernya. Celakanya, bangkai anjing itu malah dimakan oleh tetangga Bali. “Beberapa hari setelah digigit itu, baru anak saya demam. Saya bawa ke Puskesmas di Rawak (Kecamatan Sekadau Hulu, red). Anak saya disuntik dan diberi obat. Tapi saya bawa pulang ke kampung lagi,” tuturnya.

Namun kemarin malam, bocah tersebut menunjukkan gejala berbeda. Sentia gelisah dan bertindak berbeda dari anak lainnya. “Waktu dibawa ke kampug, kami obati dengan obat kampung. Maklum anak saya ini tidak ada BPJS. Baru tadi kami bawa ke sini,” jelasnya.

Laporan: Abdu Syukri
Editor: Hamka Saptono