Tidur Panjang atau Masih Bisa Bangkit dan Terbang?

Apa Kabar Elang Khatulistiwa?

73
Logo Persipon-net

Riuh di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak barangkali akan sulit terdengar tahun ini. Eforia kebangkitan Persipon seakan kembali mati menyusul laga-laga di Liga II yang kurang memuaskan tahun lalu. Muaranya, tak lain tak bukan, degradasi. Turun ke Liga III.

Achmad Mundzirin, Pontianak

eQuator.col.id – Syarif Abdurahman Alkadrie, pemerhati sepakbola Kalbar, sangat menyayangkan apa yang terjadi dengan Persipon pada tahun 2017. Namun, apa boleh buat, kenyataan seburuk apapun harus diterima.

Lagipula, asa masih ada. Elang Khatulistiwa diharapkan bangun dari tidur panjang. Bisa kembali bangkit dan terbang tinggi. Menurut Abdurahman, kedepannya para pengurus maupun manajemen Persipon yang ditunjuk untuk mengelola tim harus orang-orang yang benar sesuai dengan kebutuhan.

“Bukan sekedar mencari nama atau keuntungan pribadi. Ini tidak boleh terjadi karena Persipon adalah milik Kota Pontianak jadi harus dijadikan perhatian serius. Orang-orang yang diberikan kesempatan untuk mengurus nanti, harus benar-benar mau berbuat dan kerja maksimal dalam kebersamaan membangun Persipon kedepan,” paparnya Rakyat Kalbar, Sabtu (3/3).

Soal dukungan pemerintah, ia meyakini ada. Asalkan saja keseriusan ditunjukkan oleh orang yang diberikan kesempatan mengelola. Contohnya saja, sekarang ini sudah direncanakan pembangunan kandang Persipon oleh Pemkot Pontianak. Yang bekerja sama dengan pihak Universitas Tanjungpura (Untan).

“Jadi yang dibutuhkan itu adalah sosok pengurus yang benar-benar punya itikad untuk membangun, tidak selalu mengeluh, serta tidak mencari kesalahan orang lain,” terang Abdurahman.

Pemain lokal, ditegaskannya, punya potensi bagus. Yang menjadi catatan Abdurahman adalah manajemen persepakbolaan Pontianak tidak membangun sistem kompetisi berjenjang. Alhasil, pemain yang ada di klub-klub Kota Pontianak tidak terpantau dengan baik. Sedangkan bagus tidaknya seorang pemain merupakan hasil dari pembinaan klub.

“Bagaimana klub akan termotivasi untuk benar-benar serius jika dalam pembinaannya tidak ada kalender kompetisi yang jelas?” tanya dia.

Belum lagi, lanjut Abdurahman, harus ada sarana dan prasana pembinaan para pemain sepakbola. Dalam rangka pembinaan di setiap klub sepakbola yang ada di bawah naungan PSSI Pontianak.

Tanpa kalender kompetisi yang benar-benar terencana dan didukung para pihak terkait, sulit menemukan pemain berbakat. Abdurahman mencontohkan, begitu ada kompetisi kelompok umur yang rutin digelar oleh Dispora Kota Pontianak, malah tidak ada tindak lanjut dari asosiasi untuk mengakomodir atlet ke suatu wadah agar bisa dibina jangka panjang.

“Padahal dari situlah cikal bakalnya lahir generasi untuk dijadikan pemain Persipon,” jelasnya.

Kemudian, ada juga Delta U-15 yang sampai mewakili Kalbar ke ajang nasional di Piala Suratin. “Anak-anak itu punya potensi yang bagus, tapi nyatanya tidak mendapatkan perhatian serius dari para pemegang jabatan,” ungkap Abdurahman.

Ia berharap, para pengurus dan tim pelatih menggunakan pemain yang sesuai kebutuhan. Bukan karena kedekatan kalau benar-bebar ingin memajukan Persipon.

“Pemerintah juga diharapkan menugaskan tim pemantau jika ada membantu anggaran melalui APBD. Agar benar-benar digunakan sesuai kebutuhan, saya yakin pemerintah pasti support asalkan yang ngurus benar-benar serius dan transparan ke publik,” tutupnya.

Di sisi lain, Pelatih Persipon tahun 2017, Inyong Lolombulan, punya catatan tersendiri ketika melatih klub sepakbola kebanggaan Kalbar itu pada kompetisi Liga II. Yakni evaluasi secara menyeluruh, baik itu dari manajemen, pelatih, hingga pemain.

“Semuanya harus dipersiapkan dengan matang dan membutuhkan waktu,” terang Inyong.

Ia merasa begitu sulit melatih saat Liga II itu. Waktu yang diberikan untuk mempersiapkan tim sangat mepet. Hanya ada 15 hari saja menjelang pertandingan kandang maupun tandang.

“Kalau turnamen mungkin bisa. Tapi ini kompetisi. Jujur, untuk seorang pelatih, sangat dalam posisi sulit saat itu,” bebernya.

Kata Inyong, minimal waktu untuk mempersiapkan sebuah tim sepakbola mengikuti kompetisi adalah dua bulan lamanya. “Dalam hal ini, saya tidak ingin menyalahkan. Melainkan harus dievaluasi secara menyeluruh, termasuk saya selaku pelatih,” pinta dia.

Diakuinya hasil tidak memuaskan pada Liga II tahun 2017 lalu itu membuat Persipon harus terdegradasi ke Liga III Nasional. Ia meminta maaf untuk hal ini.

“Menjelang kompetisi ini, semuanya harus dibenahi, semuanya yang sudah-sudah biarkan berlalu. Mari membuka mata untuk maju kedepan lebih baik lagi,” ajak Inyong.

Tapi, untuk berkompetisi ke Liga III Nasional, Inyong menyatakan, terlebih dahulu Persipon harus mengikuti Piala Indonesia yang berlangsung pada April mendatang. Itu diwajibkan dalam regulasi yang diberlakukan PSSI.

“Jika tidak mengikuti Piala Indonesia yang diikuti oleh peserta Liga I, II dan III, maka Persipon tidak akan mengikuti kompetisi Liga III Nasional pada Agustus mendatang,” tukasnya.

Jika dipercayakan atau diamanahkan kembali untuk melatih Persipon, ia siap. Tentunya dengan evaluasi dan pembenahan.

Soal pemain, Inyong mengatakan bahwa ada yang mesti dipertahankan maupun dicoret. Yang benar-benar berkualitas tentunya harus dipertahankan.

“Selanjutnya melakukan seleksi kembali dan terbuka untuk mencari pemain lokal yang berkualitas. Sisa kekurangan, barulah kita cari pemain luar,” timpalnya.

Kalau perlu, seratus orang yang ingin bergabung dilakukan seleksi. “Jika memang berjodoh kita akan bertemu kembali, saya juga kangen dengan suporter, kangen para pemain dan kangen melatih Persipon,” pungkas Inyong.

Kebangkitan Elang Khatulistiwa tokh tetap ditunggu-tunggu pecinta sepakbola Kalbar. Sarmili, salah seorang mantan pemain tahun 90-an dan mantan Ketua Suporter Persipon, menyebut Persipon sudah membaik. Namun memang ada plus dan minusnya.

Dikatakan Sarmili, jika di tahun 90-an saat dirinya membela Persipon, eforia supporter begitu luar biasa. Lapangan PSP tidak pernah sepi.

“Setiap berlaga, pecinta sepak bola selalu mendukung. Tak pernah kita ditinggalkan,” ungkapnya.

Mantan pemain belakang itu merasa bangga dapat membela Persipon. “Persipon bukanlah tim yang tidak pernah berlaga di tingkat nasional, kompetisi bergengsi. Melainkan sangat sering, bahkan juga pernah melawan tim luar negeri,” ujar Sarmili.

Tapi, seleksi pemain dulu luar biasa ketat. Sehingga muncul yang berkualitas.

“Dulu kita itu sudah semangat dan sangat bangga dengan cukup membela Persipon,” terangnya. “Yah, ada beda dulu dan sekarang, sekarang Persipon sudah lebih baik, dan kita berharap semakin baik lagi,” imbuh dia.

Ia menyatakan diri sebagai salah satu pemain ke-12. Selalu dan selalu memberi dukungan dan semangat kepada Persipon.

“Kita bangunkan Elang Khatulistiwa,” ajak Sarmili.

Namun tentunya, manajemen Persipon harus menunjukkan keseriusan. Sebab, soal pemain, sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Lantaran banyak bakat-bakat sepakbola di Kalbar.

“Lakukan seleksi pemain terbuka, ketat dan cari bibit pemain untuk membela Persipon. Saya rasa Pontianak masih banyak pemain yang memiliki kompetensi,  termasuk Kalbar pada umumnya,” timpalnya.

Selain itu, ia berharap seluruh mantan pemain Persipon untuk berkumpul dan menyumbangkan pikiran. “Persipon adalah tempat mengabdikan, tempat menjaga kemajuan sepakbola kota kita tercinta,” pungkas Sarmili.

 

Laporan: Achmad Mundzirin

Editor: Mohamad iQbaL