Terima Kasih Mal

45

Saya suka mal. Silakan toko-toko online semakin banyak. Tapi, bagi saya, tidak ada yang bisa menggantikan fungsi mal. Apalagi di Indonesia.

Azrul Ananda

eQuator.co.id – Saya harus menyampaikan disclaimer dulu di awal: Saya bukan pakar mal. Saya seperti banyak pembaca, kalau ada waktu lowong sering jalan-jalan di mal bersama keluarga.

Ada dua alasan kenapa sekarang saya mau iseng menulis soal mal. Pertama, baru-baru ini ada orang bertanya kepada saya. Dia seorang tokoh terkenal. Dia bertanya, dengan begitu mudahnya belanja online, dengan semakin banyaknya toko online, sampai kapan mal masih dibutuhkan?

Apalagi, sekarang di Amerika sedang cukup ramai berita mal-mal atau department store besar menutup lokasi. Sampai muncul tulisan di beberapa media, sampai kapan mal-mal atau department store itu bisa bertahan di masa mendatang?

Alasan kedua, saya begitu bangga dan bahagia ketika mal terbesar di Indonesia, Pakuwon Mall, baru saja dibuka di Surabaya pekan lalu (22/2). Saya pikir, nulis soal mal deh, mumpung ada momen.

Sekali lagi, seperti kebanyakan orang kota di Indonesia, saya doyan ke mal. Saya sudah doyan ke mal sejak mulai menginjak remaja (karena waktu masih kecil belum ada mal di Surabaya).

Bukan selalu untuk belanja atau makan. Karena dulu kuliah jurusan marketing, saya suka ke mal untuk ”studi buyer behavior”. Maksudnya, people watching alias lihat-lihat tingkah laku orang di mal. Wkwkwkwk…

Tentu saja, tanpa belanja atau makan, kegiatan studi buyer behavior saja tidak cukup untuk menghidupi sebuah mal. Harus ada perputaran uang lebih dari sekadar bayar parkir.

Kembali ke pertanyaan pertama: Sampai kapan mal dibutuhkan? Untuk menjawab itu, rasanya kita harus membedakan habit di Amerika dengan di Indonesia, bukan?

Apa yang bagus di Amerika belum tentu baik di sini. Apa yang gagal di sana bisa jadi sangat berhasil di sini.

Kalau di Amerika, hampir pasti orang ke mal benar-benar untuk belanja. Rata-rata hidup orang di sana begitu sibuk, tidak punya waktu untuk killing time dengan jalan-jalan di mal.

Makan di mal juga lebih mahal daripada masak sendiri di rumah. Dan kalau acara khusus makan bersama akan dilakukan di rumah makan khusus, bukan di mal. Malah acara khusus makan bersama lebih sering dilakukan di rumah. Memasak untuk orang banyak lebih bernilai daripada mentraktir orang banyak di restoran.

Mengantar anak main? Juga tidak ke mal. Karena ada begitu banyak taman bermain yang luas dan indah dengan berbagai fasilitas.

Nonton bioskop? Juga tidak di mal. Banyak bioskop melekat di mal, tapi sangat banyak yang berdiri sendiri terpisah dari mal.

Semua fakta kehidupan di Amerika itu tinggal dibalik 180 derajat, maka itulah yang berlaku di Indonesia. Mal, di Amerika, fungsinya sekadar mengakomodasi toko dan orang untuk belanja. Mal, di Indonesia, adalah civic center. Tempat orang untuk bertemu, bersama, bersosialisasi, dan beraktivitas.

Entah berapa banyak kenangan indah kita tercipta di mal. Kencan pertama dengan pacar, kebahagiaan bersama anak-anak yang masih kecil, makan bersama mertua, atau mungkin sewot ketika dompet terkuras karena menuruti permintaan pacar dan anak…

Di Indonesia, dengan habit yang ”dibina” begitu lama dan terus dibina oleh pengusaha-pengusaha mal, mungkin fungsi mal tidak akan pernah tergantikan. Dan kalau membaca artikel-artikel tentang semakin banyaknya mal atau department store besar yang tutup di Amerika, rata-rata juga tidak menyalahkan online atau apa. Analisisnya tetap menunjukkan bahwa malnya yang harus bisa beradaptasi dengan environment baru.

Jenis tenant-nya harus pas. Mix atau kombinasi tenant-nya harus pas. Dan lain sebagainya. Intinya, ”rasanya” harus pas. Seperti bioskop tetap bertahan (bahkan makin populer) walau film semakin mudah ditonton secara digital.

Tentu saja itu mudah untuk dikatakan, sulit untuk diterapkan. Tapi sama saja seperti persaingan jualan pecel, bukan? Semua pakai nasi, semua pakai peyek, semua pakai sayur dan saus kacang. Yang ”menang” adalah yang entah bagaimana kombinasi semuanya pas.

Beli online memang mudah dan kadang mengasyikkan. Saya sendiri termasuk yang rajin ngeklik barang. Namun, ini biasanya untuk kebutuhan-kebutuhan hobi, membeli barang-barang spesifik alias niche yang sulit didapatkan dengan cepat di toko tradisional.

Kalau barang yang umum seperti baju sehari-hari, ya tetap lebih sreg datang dan mencoba langsung. Seperti orang mencari pasangan lah.

Kalau beli baju online, kita hanya bisa melihat dan mengamati permukaan yang ditampilkan. Tidak bisa mencoba dan memakai.

Kencan online kan juga sama. Kita hanya bisa melihat dan mengamati permukaan yang ditampilkan. Tidak bisa…(ehm!).

Anyway, ini Indonesia, bukan Amerika atau negara maju Barat lain. Ya, bisnis mal akan terus ada tantangannya. Tapi, semua bisnis juga akan selalu ada tantangannya. Tidak ada yang baru.

Sebagai pengunjung rutin mal, saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pengusaha mal. Terima kasih telah menjadikan mal Anda bukan sekadar tempat untuk belanja. Anda telah menyediakan tempat bagi saya untuk mengalami banyak pengalaman menyenangkan.

Tempat saya dulu pacaran. Tempat saya makan bersama teman dan kerabat. Tempat saya sekarang meluangkan quality time bersama anak. Terima kasih! (*)

Facebook Comments