Tarian Tradisional yang Pemainnya Tak Mesti Warga Tionghoa

Di Balik Aksi Akrobatik Barongsai

197
BETULKAN BARONGSAI. Yudi menyelesaikan perbaikan barongsai di bengkel barongsainya, Sabtu (6/2). JPG

Aksi barongsai, selalu menjadi tradisi yang menarik dalam menyambut perayaan Tahun Baru Imlek. Bukan hanya warga etnis Tionghoa, masyarakat umum lainnya juga antusias menyaksikan aksi akrobatik yang disuguhkan pemain barongsai.

Kristina Natalia Abast, Palu

Besok, 8 Februari, masyarakat Tionghoa akan merayakan Tahun Baru Imlek. 2016 merupakan Tahun Monyet Api, unsur elemen api ini banyak menyimpan misteri. Api dijadikan simbol energi yang besar dan kuat bagi orang-orang bershio monyet. Mereka akan berusaha untuk jadi pemenang dan berkeinginan agar prestasi mereka selalu diakui.

Berdasarkan informasi dihimpun Radar Sulteng di media sosial menyebutkan, bahwa 2016 berujung pada tahun apapun bisa terjadi. Jika ingin selamat dan sukses dalam hidup, maka sebaiknya menghindari kegiatan kelompok yang bersifat memprovokasi sesuatu, ikut dalam politik, revolusi ataupun diskriminatif. Juga diminta ekstra hati-hati dalam memilih teman, kelompok, atau komunitas.

Tahun 2016 adalah waktunya untuk kelompok bisnis yang dianggap beresiko, dimana benih-benih kesuksesan yang tidak direncanakan akan tercapai. Jalankan semua ide dan penemuan Anda, tanpa harus melihat masa lalu. Di sisi lain, selain pernak pernik berwarna merah dengan tulisan-tulisan Mandarin, perayaan Imlek tidak lah lengkap rasanya tanpa kehadiran barongsai.

Barongsai adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa yang memiliki sejarah ribuan tahun. Di Sulawesi Tengah, khususnyaKota Palu, atraksi barongsai sering dimainkan, bukan hanya saat Imlek, kadang-kadang pada acara pembukaan sebuah toko, masuk rumah baru, dan beberapa adat suku Tionghoa lainnya.

Yang memainkan, matanya tidak sipit, kulit tak juga putih, bahkan tidak punya darah Tionghoa. Mereka adalah pemain barongsai yang cukup lama ada di Sulteng. Bukan hanya Sulteng yang jadi lokasinya beratraksi, juga beberapa wilayah seperti Makassar dan Manado pernah mereka jelajahi.

Arif adalah pelatihnya. Pria berumur 40 tahun ini bukan orang Tionghoa. Sejak 2007 sudah melatih pemain barongsai.

Sabtu (6/2), hari yang sibuk buat Arif. Tak hanya melatih, ia ikut tampil bersama timnya pada acara Imlek sekolah milik Yayasan Karunadipa. Sambil sesekali melemparkan senyum, Arif bercerita mengapa pemain barongsai di Kota Palu bukan dari kalangan Tionghoa.

Kata pria yang tak lama lagi masuk usia paruh bayah itu, ada sekitar 20 karyawan yang direkrutnya menjadi pemain barongsai ataupun pemain musiknya. Mereka berasal dari beberapa suku yang ada di Indonesia. “Ada yang memang orang Tionghoa tapi hanya ada beberapa orang. Lainnya Suku Makassar, ada Kaili, Jawa, dan suku lainnya,” ujarnya.

Pria yang dikenal tegas namun baik hati di lingkungannya ini menjelaskan bahwa menjadi seorang pemain barongsai tidaklah mudah. Bukan hanya latihan khusus, namun juga dibutuhkan keseriusan dan jiwa mencintai budaya Tionghoa.

“Kalau tidak mencintai, bagaimana caranya mereka bisa tertarik untuk jadi pemain barongsai?” tanyanya sambil kembali tersenyum.

Meski bicaranya terburu-buru karena ada panggilan untuk foto bersama, Arif masih melanjutkan ceritanya, bagaimana anak-anak binaanya menjadi sangat hebat seperti sekarang ini. Menjadi seorang pemain barongsai juga perlu latihan bela diri.

Pasalnya, dalam beratraksi, pemain akan mengeluarkan jurus-jurus yang terbilang cukup ekstrim. Bukan hanya lompat sana lompat sini, namun juga sesekali menampilkan atraksi melawan penjahat. Dalam sebulan, Arif dan kawan-kawan bisa menerima panggilan sampai dua atau tiga kali. (*/Radar Sulteng/JPG)