Tak Segera Ditangani, Pasien DBD Akhirnya Meninggal

38
PEMBARINGAN TERAKHIR. Di atas tilam tampak ada tulisan nama Zahratussyifa Binti Muhammad, anak berumur empat tahun yang meninggal dunia akibat DBD di Gang Anugrah 1 Jalan Tebu, Pontianak Barat, Rabu (17/1). Maulidi Murni-RK

eQuator.co.idPontianak-RK. Zahratusyifa, bocah berusia hampir empat tahun meninggal dunia akibat mengidap Demam Berdarah Dengue (DBD). Ia menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Soedarso, Rabu (17/1).

Zahratussyifa merupakan anak pasangan Muhammad dan Hairiyah, warga Gang Anugrah 1 Jalan Tebu, Pontianak Barat. Pasutri ini harus merelakan kepergian sang buah hati tercintanya. Di balik kepergian anak tunggal mereka, ada kisah pelayanan rumah sakit yang dikeluhkan pihak keluarga.

Muhammad, saat dikunjungi dikediamannya usai beberapa jam mengkebumikan Zahratussyifa, Rabu (17/1), di rumah duka masih berkumpul sanak keluarga Muhammad. Bahkan kasur tempat Zahratussyifa terbaring untuk terakhir kalinya belum dikemas. Di atas tilam tersebut ada tulisan nama Almarhum.

Diceritakan Muhammad, pada awalnya sang istri menderita demam pada Rabu (10/1) siang. “Si kecil (Alm. Zahratussyifa) bilang sama mamanya, itu lah mama tu suke main ujan-ujan, demam kan,” kata Muhammad menirukan perkataan mendiang anaknya.
Keesokan hari, istrinya sudah merasa baikkan. Hanya saja, hari itu gantian Zahratussyifa mengalami demam. Sang ayah berpikir kalau buah hatinya itu terjangkit mamanya. “Kite kire demam jangkit mamanya. Kita kasi obat, panasnya mulai turun,” kisahnya.
Jumat, kondisi Zahratussyifa agak mendingan. Aktivitasnya juga stabil, mau nonton, makan dan duduk. Hanya kondisinya saat itu sedikit melemah. Tapi suhu tubuhnya tidak panas, juga tak dingin.

Sabtu, sang anak masih bisa berjalan-jalan. Bersama keluarga, almarhum dibawa sang ayah pergi ke Desa Bakau Kabupaten Mempawah untuk menghadiri hajatan keluarga. Sorenya balik lagi ke Kota Pontianak.  “Saat saye hendak mengembalikan mobil, dia sempat bertanya, Yah (ayah) mau kemana, saya jawab mau antar mobil. Untuk apa, janganlah besok kan mau dipakai agik, tempat nikah kemarin,” ujar Muhammad kembali menirukan perkataan sang buah hati.

Minggunya, Muhammad ada acara kumpul keluarga di rumahnya. Namun saat itu, anaknya tersebut terbaring di dalam kamar. Tidak tidur, namun baring seharian. Zahratussyifa hanya minta susu dan air putih, tapi tidak cerewet. “Bimbang kita, ibaratnya cemas dengan si kecil,” ucapnya.

Senin (15/1), keluar kompromi. Zahratussyifa diperiksakan ke Puskesmas Pal 3. Begitu sampai di Puskesmas, anaknya langsung ditangangi petugas. Ketika darah Zahratussyifa di cek, dinyatakan positif DBD.

Merasa kurang puas, pihak orangtua kembali memeriksakan Zahratussyifa ke dokter anak di Jalan Setia Budi. “Dicek dan hasilnya juga positif DBD,” ujarnya.
Sebagai orangtua, tentu saja Muhammad cemas terhadap kondisi abaknya tersebut. Sore itu juga sekitar pukul 15.00 WIB, ia langsung membawa si buah hati ke RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak di kawasan Jeruju. Sambil menggendong anaknya, Mohammad duduk di depan ruangan tunggu rumah sakit milik Pemerintah Kota Pontianak itu, tidak ada tindakan langsung dari petugas medis. Petugas mengatakan, ruangan penuh dan tidak ada tempat.
“Jadi terserah bapak, kita cuma bisa bantu nomor (rumah sakit) Bhayangkara. Itupun saya sendiri yang menelpon di Bhayangkara ternyata penuh. Jadi dia bilang terserah bapak mau dibawa kemana,” ujar Muhammad yang melakukan perawatan dengan biaya umum itu.

Kemudian Muhammad menghubungi atasan di tempatnya bekerja via selular. Akhirnya atas Muhammad menelpon pihak rumah sakit. Setelah ditelepon itu, barulah anaknya diberikan tindakan medis, dipasang infus. Begitu di telepon lagi Zahratussyifa dibawa masuk ke dalam ruangan.

Zahratussyifa ditempatkan di ruang sementara di RSUD SSMA Kota Pontianak. di rumah sakit milik Pemkot Pontianak itu, sang bocah hanya satu malam. Sang ayah mengatakan, anaknya di kompres dengan air hangat.

Sesudah itu, Zahratussyifa berencana mau dirujuk ke RSUD Soedarso, tapi sayang tak ada juga ruangan. Muhammad pun dianjurkan untuk memilih rumah sakit lainnya. Saat dihubungi rumah sakit tersebut untuk menanyakan apakah ada ruang kosong, Muhammad mencoba menelpon atasannya. Pihak ketiga itu lantas menghubungi atasan RSUD SSMA Kota Pontianak.

Saat itu, Muhammad kembali menanyakan ke perawat apakah rumah sakit lain yang dianjurkan tadi ada ruangan. Tiba-tiba mendapatkan jawaban ke RSUD Soedarso. Dia kembali bertanya, apakah ada ruangan ICU, lalu dijawab ada. Akhirnya buah hati Muhammad dirawat di RSUD Soedarso. Namun Tuhan berkehendak lain, Rabu (17/1) sekira pukul 02.00 WIB Zahratussyifa menghembuskan nafas terakhir. Kendati mengiklaskan kepergian buah hatinya, Muhammad masih bertanya-tanya apakah seperti itu pelayan yang diberikan pihak rumah sakit terhadap masyarakat?

Menanggapi keluhan warganya, Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan, RSUD SSMA tidak boleh membedakan status sosial pasien. Rumah sakit Pemkot itu mendapatkan penghargaan inovasi gara-gara tanpa kelas, pelayanan terbaik. Sehingga mendapat apresiasi dan roll model. Kalau manajemen membedakan, percuma mendapatkan penghargaan rumah sakit terbaik se Indonesia dan percontohan.
“Jadi saya minta menejem harus mengawasi dan evaluasi pelayanan, siapapun masyarakat baik itu kaya miskin, tua muda harus dilayani sesuai dengan jenis penyakitnya,” tegasnya, Kamis (18/1).

Awalnya petugas mengatakan kamar kosong, tetapi ketika atasan orangtua pasien menghubungi lalu mendapatkan kamar. Menurut Edi, seandainya kosong katakan kosong, tidak ada istilah pelayanan istimewa. Dirinya berjanji akan melakukan evaluasi dan monitoring kinerja pelayanan RSUD SSMA.

Terkait wabah DBD, Edi mengimbau dan mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Seperti menimbun kaleng-kaleng dan ban bekas. Pastikan tidak ada genangan yang dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Apabila ada masyarakat yang anaknya terserang DBD segera melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan agar lingkungannya di fogging.

Menurut Edi, nyamuk DBD hidup tidak hanya di lingkungan kumuh. Tapi bisa juga di lingkungan mewah.  “Ada daerah rumah mewah karena tidak dihuni ada kaleng bekas dan genangan air bisa menimbulkan kembang biaknya, nyamuk ini terbang kemana mana,” pungkas Edi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu menjelaskan, secara umum kasus DBD di Bumi Khatulistiwa jumlahnya tidak mengalami lonjakan. “Setiap minggu pasti ada kasus DBD, tidak melonjak tidak ada lonjakan yang tajam. 2017 ada 200 lebih kasus. Tahun ini tidak ada lonjakan, laporan dari staf dan rumah sakit tidak ada lonjakan,” jelasnya.

Kendati begitu, setiap hari penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti ini harus diwaspadai. Jangan menunggu kasusnya tinggi. “Tahun 2017, ada dua korban jiwa. Di daerah Sungai Jawi dan Pontianak Utara,” ungkapnya.

Handanu menjelaskan, gejala DBD sekarang sudah tidak khas. Bisa waktu tiga hari langsung syok. Sebelumnya teori lama lima hari, tapi kalau tiga hari tidak ditangani bisa masuk syok. “Tergantung berat ringannya virus. Itu sebenarnya yang harus diwaspadai. Jadi ketika demam di hari pertama hari kedua itu harus segera diperiksakan darahnya,” pesannya.

Terkait adanya keluhan masyarakat dengan penanganan terhadap pasien yang lamban di RSUD SSMA, Handanu berjanji akan menindaklanjutinya. Dia akan menggelar pertemuan dengan pihak rumah sakit untuk melihat sejauh mana keterlambatan penanganannya.
“Rumah sakit kota mempunyai 20 tempat tidur, 20 bed. Jadi kalau memang posisinya penuh barang kali rumah sakit memberikan alternatif. Ini ruangannya penuh, jadi belum bisa masuk, harus antre dulu dirawat di UGD atau rumah sakit lain, yang mungkin ya pikiran saya begitu. Tapi kalau rumah sakit menolak
pasien, itu tidak mungkin,” paparnya.

Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan dalam kasus yang ada kata dia, kalau belum masuk rumah sakit, mungkin belum dicek. Sehingga belum tau kalau itu DBD. Penanganan DBD memang harus dirawat di rumah sakit, karena virus dan belum ada obatnya. “Jadi penanganan yang bagus itu adalah mengatur cairan pasien agar tidak mengalami dehidrasi dan jatuh pada kondisi syok,” jelas handanu.

Ketika dikomfirmasi, Direktur RSUD SSMA Kota Pontianak Yuliastuti Saripawan mengklaim pihaknya sudah menjalankan sesuai SOP. Saat itu memang ICU RSUD SSMA sedang penuh. Dari awal petugas sudah menyarankan agar dirujuk ke tempat lain. Karena waktu itu rumah sakit lain juga penuh, akhirnya diambil pertolongan pertama. Pasien dinaikkan ke atas.

“Kondisi ini memang kita tangani, karena kasus DBD kan, pasien datang ke rumah sakit kota itu sudah dalam keadaan presyok, kondisi sebelum syok. Saya tadi sudah rapat. Pada prinsipnya kita selalu evaluasi pelayanan, pada prinsipnya teman-teman sudah kerja semaksimal mungkin. Dan yang menelepon rujuk ke Soedarso pun kita yang mencarikan ruangan untuk ICU,” terangnya.

Lanjut dia, “Kalau soal telepon, atasan, saya juga gak mengerti, dia tidak telepon ke ibu, dia telepon ke siapa, saya juga tidak mengerti. Karena saya tidak juga terima,” sambung Yuliastuti.

Atas keluhan warga, dia mengatakan ada laporan kronologisnya. Secara keseluruhan intinya dia berpendapat petugas RSUD SSMA telah bekerja semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien. Hanya saja, posisinya harus masuk ICU. “Lantaran penuh, tetapi tetap diusahakan ditolong dulu, tapi akhirnya dapat ruang ICU di Soedarso,” pungkasnya.

Saat dirujuk ke RSUD Soedarso, pasien terlebih dahulu memang masuk rumah sakit Kota. Dokter sudah memastikan pasien harus masuk ICU yang disampaikan ke pihak keluarga.
“Kita yang memfasilitasi ke Soedarso, memang SOP seperti itu. Kapasitas kita, ventilator hanya ada tiga, untuk bernapas, yang dibutuhkan untuk saat itu adalah ventilator. Kalau orang sakit pun, perlakuannya tetap sama,” tuntas Yuliastuti.

 

Laporan: Maulidi Murni

Editor: Arman Hairiadi