Tak Pakai Meteran Bayar Listrik Bengkak

216
TANPA METERAN. Irwan menunjukkan aliran listrik dari tegangan tinggi yang masuk ke rumahnya di Parit Haji Tambong, Desa Jungkat, Kecamatan Siantan—Mempawah tanpa meteran, Sabtu (26/12). OCSYA ADE CP

eQuator – Mempawah-RK. Sejak 1999, tiang listrik di Parit Haji Tambong, Desa Jungkat, Kecamatan Siantan—Mempawah, hanya menggunakan kayu biasa. Parahnya lagi, ditemukan rumah warga yang tidak memiliki meteran listrik.

Diantaranya sepuluh warga harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar tagihan listrik di kantor PLN cabang setempat yang membengkak setiap bulannya.

“Untuk bulan ini saya bayar Rp130 ribu lebih,” kata Dahrus, 60, warga di RT 01 RW 17, Parit H Tambong, ditemui di kediamannya, Sabtu (26/12) lalu.

Kesalnya, lanjut Dahrus, di rumah sederhananya itu ia hanya menggunakan energi listrik untuk tiga lampu pada malam hari, televisi yang hanya beberapa jam dinyalakan dan penanak nasi. “Cuma itu saja yang kami pakai. Kulkas tidak ada,” ujarnya.

Warga lainnya, Irwan, 33, juga sama. Setiap bulan selama empat bulan terakhir, membayar tagihan listrik yang membengkak, diatas Rp100 ribu. Bapak dua anak inipun sama dalam pemakaian energi listrik. “Kami cuma pakai listrik untuk TV, dua lampu dan penanak nasi saja. Tapi bayarnya mahal,” kesalnya.

SUPLAI LISTRIK YANG RISKAN. Beginilah penyuplaian listrik di Parit Haji Tambong, Desa Jungkat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah yang masih memprihatinkan. Selain menggunakan kayu seadanya untuk menyangga kabel, sambungannya juga asal-asalan. OCSYA ADE CP
SUPLAI LISTRIK YANG RISKAN. Beginilah penyuplaian listrik di Parit Haji Tambong, Desa Jungkat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah yang masih memprihatinkan. Selain menggunakan kayu seadanya untuk menyangga kabel, sambungannya juga asal-asalan. OCSYA ADE CP

Kendati demikian, bagi dia hal itu memang harus dilakukan. Ketimbang mereka harus gelap gulita. Terlebih untuk anak-anak mereka belajar pada malam hari. “Sebelumnya nyantol (menumpang) rumah tetangga. Kemudian mengajukan listrik sendiri, tapi sampai sekarang belum diberi meteren dari PLN. Mau tak maulah, daripada gelap,” kesal Irwan disambung istrinya yang menyebutkan empat bulan terakhir mereka bayar listrik sebesar Rp600 ribu.

Ismail, Ketua RT setempat membenarkan, soal pembayaran listrik yang membengkak, memang terjadi pada sepuluh rumah warganya. Disebutkannya, sejak 1999 penyuplaian listrik di RT-nya memang sangat memprihatinkan. “Sepuluh rumah warga itu mengambil aliran listrik di tengah hutan yang masuk kawasan Peniti. Nah, di sana ada satu meteran atas nama surau. Dari situlah aliran listrik mereka belakangan ini,” kata Ismail.

Jadi kata Ismail menjelaskan, ada satu orang koordinator yang juga warganya membayarkan tagihan rekening listrik atasnama surau tersebut ke Kantor Cabang PLN. Berapa besarannya, dibagi sepuluh rumah. “Mungkin juga karena jangkauan aliran listrik jauh dan sambungan kabel yang asal-asalan, membuat tagihan membengkak. Bukti pembayaran dari warga ada,” papar Ismail.

Memang, jika dilihat langsung, kabel-kabel aliran listrik di Parit H Tambong itu sangan riskan dan membahayakan. Bayangkan saja, listrik dari gardu langsung itu hanya disangga dengan kayu. Kayunya pun bukan yang kuat dan tinggi. Begitu juga sambungan yang asal-asal. Di salah satu rumah warga, kayu penyangga kabel itu hanya setinggi semeter lebih, dan terdapat tepat di jalan masuk ke rumah pula.

Menurut Ismail, hal itu sudah menjadi resiko warganya yang berada di pinggiran kota. Dijelaskannya, di Parit H Tambong, ada 50 tiang listrik yang pakai kayu. Kayu dan kabel, semua swadaya masyarakat. “Kami warga di sini maunya penerangan, jadi tidak mikir resiko lagi,” kata Ismail.

Permohonan kepada PLN, agar dapat memasang tiang dan aliran listrik yang sesuai standar, bukan sekali dilakukan. “Tapi kata PLN suruh ada 60 KK dulu,” kata Mail kerap disapa. Intinya, kata Mail, warga berharap aliran listrik di daerahnya layak.

Laporan: Ocsya Ade CP

Editor: Hamka Saptono