Tak Mau Kalah, Iwan ‘Dikeroyok’ Tiap Hari

Tempat Membentuk Pria-pria Jantan di Kalbar (Bagian 4-Habis)

193
PEDE. Iwan Zoda berfoto bersama wartawan Rakyat Kalbar, Syamsul Arifin di Markas Besar TNI AU Lanud Supadio, Selasa (1/3) lalu. Deska Irnansyafara/RK

Iwan Zoda tak mau mengecewakan pendukung setianya. Pria berjuluk ‘Sniper’ itu tak rela kalah di tanah kelahirannya. Usai menjinakkan petinju Thailand Phupa Por Nobnom di Pontianak, dia memilih tak beristirahat. Iwan langsung intensif mengasah kemampuannya.

 

Deska Irnansyafara, Pontianak

 

Sang pelatih Damianus Yordan mengawal latihan Iwan sejak awal Januari 2016. Fisik, mental, dan taktik Iwan terus digenjot. Pria dengan sapaan akrab Dami itu mengatakan, latihan umum di Sasana Kayong Utara diatur periodenya.

“Bulan pertama, petinju latihan fisik, seperti penguatan kaki. Bisa dilakukan dengan sprint (lari cepat), loncat kodok, atau dumbbell,” terang Dami ditemani Mayor Yudi Setyawan di kawasan Suprapto, Pontianak Selatan, Ahad (6/3).

Petinju memang harus melatih kakinya. Karena kaki berfungsi sebagai penopang badan untuk bergerak. “Misalnya, badan Iwan 50 kilogram, kakinya harus menopang 50 kilogram juga sesuai berat badan dia,” paparnya.

Setelah itu, latihan meningkat ke daya tahan. “Jika otot kaki sudah kuat, stamina perlu ditingkatkan. Supaya jantung stabil, saya suruh Iwan lari jarak jauh sampai tujuh kilometer atau sprint 100 kilometer tapi enam set,” beber Dami. Dilanjutkan memukul sansak sampai 10 ronde.

Bulan kedua, Iwan masuk latihan kecepatan. Sedari pagi, pria kelahiran Kayong Utara itu harus sprint sepanjang 10 meter yang meningkat 20 sampai 60 meter. “Kalau daya tahan sudah ada, tinggal perkuat kecepatan,” ulasnya.

Setiap sore di bulan kedua, Iwan mesti belajar teknik dan taktik. Sesi ini, Iwan meningkatkan akurasi pukulan dan antisipasi. Seandainya lawan memukul ke tubuh bagian atas, dibalas dengan memukul bagian perut.

“Jadi latihannya lebih ke teknis. Supaya mendapatkan taktik bertanding. Setelah fisik kuat dan stamina jalan, taktik penting didapat,” terang Dami.

Januari-Februari lalu, Iwan sudah menyelesaikan latihan rutinnya. Maret ini, ia menjalani proses sparring (latih tanding) selama sebulan penuh. Ada tiga pertemuan dalam seminggu, Senin, Rabu, dan Jumat.

“Sparring 10 ronde setiap hari. Target saya, Iwan melakukan 170 ronde dalam persiapannya. Minimal 120 ronde,” ujarnya.

Lawan sparring Iwan juga petinju yang punya kemampuan mumpuni. Di Sasana Kayong Utara ada Muhammad Wahid, Eiger, Irvan, bahkan Daud Yordan. “Dalam 10 ronde sparring, Iwan akan dikeroyok empat petunju secara bergantian. Dengan sistem 2 ronde-2 ronde,” ungkap Dami.

Tujuannya untuk mengukur kemampuan Iwan bertahan di atas ring. Karena lawan berganti, otomatis punya stamina lebih oke. “Kita juga membiasakan reaksi dia supaya cepat memukul dan membalas. Kalau teelatih kan menjadi hal biasa,” tukasnya.

Seminggu sebelum bertanding di GOR Pangsuma 2 April mendatang, Iwan akan tiba di Pontianak. Ia membiasakan diri dengan area GOR. So, siap-siap saja menunggu gelegar Sang Sniper dalam perebutan gelar Juara Dunia IBF melawan Szilveszter Kanalas dari Hungaria di Air Force Boxing Championship 2016. (*)