Tafsir

124

eQuator – Pandangan seseorang terhadap agama, pada dasarnya merupakan tafsirannya terhadap ajaran agama itu sendiri. Agama yang kita warisi saat ini, diakui atau tidak, merupakan hasil dari tafsiran para pendahulu yang memiliki sejarah panjang.

Lantaran merupakan tafsir, tidak mengherankan bila pandangan terhadap ajaran agama antara satu dengan yang lainnya (berpotensi) untuk berbeda. Hal ini sepatutnya dipahami dengan baik.

Ketika Nabi Muhammad Saw masih hidup, beliau merupakan penafsir tunggal dari doktrin Islam. Ajaran Islam terepresentasikan oleh pribadi beliau. Hal ini sesuai dengan pernyataan Aisyah Ra (isteri Muhammad Saw) ketika ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad. “Kaana khulukuhul quran” (Akhlak Rasulullah adalah Alquran). Sehingga beliau disebut-sebut sebagai ‘Alquran yang hidup’.

Sebagai tokoh sentral Islam, segala tindak-tanduk, ucapan, bahkan diamnya (taqrir) Muhammad Saw menjadi acuan bagi para pengikutnya, yang belakangan disebut sunnah (kebiasaan).

Apapun yang tidak dicontohkan Muhammad Saw dianggap sebagai penyimpangan. Sosoknya menjadi rujukan utama dan satu-satunya bagi umat Islam kala itu. Terlebih dalam keyakinan umat Islam, Muhammad Saw adalah seorang yang maksum (terpelihara dari dosa).

Teks-teks Alquran yang diturunkan pun tidak perlu repot-repot ditafsirkan para sahabat (orang yang hidup sezaman dengan Muhammad Saw), karena mereka bisa langsung bertanya pada Nabi, termasuk persoalan yang bersifat duniawi (profan).

Dialog antara sahabat dan Nabi Muhammad ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab hadist mu’tabar (terkenal) semacam Sahih Bukhari, Muslim, Tirmizi, dan lainnya.

Hal itu kemudian dijadikan rujukan, jika mengalami persoalan serupa di kemudian hari. Umat Islam ketika itu seperti ‘dimanjakan’ oleh kehadiran sosok Sang Nabi.

Namun, perbedaan pandangan di antara sahabat mulai muncul beberapa saat setelah beliau wafat (632 M). Bahkan belum lagi jenazah Muhammad Saw dikubur, perbedaan tajam terjadi soal siapa yang berhak mengganti (khalifah) posisi Muhammad Saw sebagai pemimpin. Tentu saja yang dimaksud sebagai pemimpin politik atau pemimpin negara, bukan sebagai pemimpin spiritual apalagi nabi.

Peristiwa yang dikenal dalam sejarah dengan peristiwa Tsaqifah itu akhirnya menimbulkan beberapa faksi (firqah). Tidak semua sahabat satu suara dalam mendukung Abu Bakar ra, sebagai khalifah. Bahkan Saad bin Ubadah, yang awalnya menjadi pesaing utama Abu Bakar, hingga meninggal tetap enggan ber-baiat (berjanji setia).

Sebenarnya, banyak sekali perbedaan pandangan antara sahabat Nabi ketika itu. Satu di antaranya yang paling terkenal, peristiwa ketika Umar bin Khattab mengusulkan untuk membukukan Alquran, lantaran banyak sahabat-sahabat penghafal Alquran yang wafat.

Abu Bakar kala itu menentangnya, dengan alasan hal itu tidak pernah dicontohkan Nabi. Memang semasa Nabi hidup, Alquran tidak pernah ditulis dalam media kertas apalagi berbentuk mushaf, Alquran tulis di pelepah kurma, tulang atau batu, dan selebihnya ada dalam hafalan para sahabat.

Lantaran mendapat desakan, Abu Bakar akhirnya menyetujui, walaupun proyek besarnya baru dilakukan pada zaman Khalifah Utsman ra, yang kita kenal dengan istilah Mushaf Utsmani.

Sejak masa sahabat, Islam terus mengalami perkembangan pesat, memasuki Afrika, Persia dan sebagian Eropa, dan kian lama kian pesat. Seiring dengan itu, persoalan yang dihadapi pun kian kompleks. Sementara jumlah ayat Alquran maupun hadits Nabi, dirasa tidak mencukupi untuk menjawab permasalahan yang kompleks itu.

Era sahabat pun mulai berganti dengan era tabi’in. Jumlah pemeluk Islam pun bukan hanya dari kalangan bangsa Arab. Islam semakin berkembang dan mulai bersentuhan dengan budaya selain Arab.

Tidak hanya secara geografis, ilmu pengetahuan pun terus berkembang, termasuk tafsir terhadap teks-teks agama untuk menghadapi tantangan zaman. Lahirlah ulama-ulama sekaliber Hasan al-Bashri, Junaid al-Baghdadi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Ahmad bin Hambal dan banyak lagi.

Dalam ilmu tafsir Quran, kita mengenal Ibnu Jarir at-Thabari, Jallaludin as-Suyuthi dan lainya. Bagi yang mempelajari sejarah Islam, tentu tidak heran dengan nama-nama itu. Akan terlalu panjang jika kita rinci satu persatu di sini.

Seperti saya kemukakan di awal, perbedaan tafsir terhadap teks-teks keagamaan tidak ujuk-ujuk muncul tanpa melalui proses sejarah panjang. Nabi, sahabat, dan tabi’in sudah wafat, sementara perkembangan zaman terus berlanjut dengan beragam persoalannya yang semakin kompleks.

Meski tetap bersumberkan Alquran dan Hadits, mereka berbeda dalam penafsiran. Dan ini merupakan sesuatu yang wajar-wajar saja. Satu sisi para ulama itu juga tetap menghormati pendapat yang berbeda.

Banyak faktor yang mempengaruhi perbedaan itu. Di antaranya, kondisi sosio kultural, disiplin ilmu dan tingkat keilmuan maupun kecenderungan dari si penafsir itu sendiri.

Maka sungguh mengherankan, jika ada sekelompok orang yang justeru ingin menyeragamkan tafsir keagamaan. Menganggap di luar golongan mereka sesat bahkan kafir. Padahal disadari atau tidak, apa yang mereka pahami tentang agama sebetulnya tafsir mereka terhadap ajaran agama.

Lebih celaka lagi, justeru ada yang tidak bisa membedakan antara ajaran dan tafsir terhadap ajaran. Argumentasi yang sering dikemukakan biasanya adalah bahwa Islam itu satu. Ya, namun penafsirannya bisa beragam.

Kita hidup di zaman yang berbeda dengan Nabi Muhammad Saw. Dan banyak persoalan-persoalan yang ditemukan sekarang tidak ada pada zaman Nabi. Di sinilah pintu ijtihad terbuka.

Penafsiran yang beragam itu harus dipahami sebagai upaya manusia dalam memahami dan menangkap pesan-pesan agama. Sekali lagi, sekalipun berdasarkan Alquran dan Hadits, tafsir manapun dan dari siapapun tidak menutup kemungkinan salah. Artinya kesalahan tafsir tidak berarti kesalahan pada sumbernya, Alquran dan Hadits. Di sinilah perlu dibedakan, antara ajaran dan tafsir terhadap ajaran.

Menghakimi, apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan, bukan jalan untuk memurnikan ajaran agama. Dengan belajar dan terus belajar serta mengelaborasi sumber-sumber keagamaan, justeru memperkaya pemahaman, menajamkan akal dan hati, yang menjadi spirit agama. (Kiram Akbar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here