Sutarmidji: Dompet Tebal Orang Sepok

Seminar Pontianak Fintech Day

25
KEYNOTE SPEAKER. Sutarmidji berfoto bersama beberapa pembicara dalam seminar Pontianak Fintech Day di Aula Keriang Bandong Kantor BI Perwakilan Kalbar, Selasa (10/10). Humas Pemkot for RK

eQuator.co.id –PONTIANAK-RK. Ibu kota provinsi Kalbar dengan jumlah penduduk sekitar 660 ribu jiwa yang mengandalkan perdagangan dan jasa, Pontianak tentunya erat kaitannya dengan pembiayaan atau pembayaran. Untuk itu, sudah semestinya warga Kota Pontianak selangkah lebih maju dalam hal transaksi non tunai atau cashless.

Menurut Wali Kota Pontianak H Sutarmidji SH MHum, terkadang masih banyak orang yang mengantongi uang tunai dalam dompet. Sehingga sakunya terlihat tebal. Padahal, jika menggunakan satu kartu yang disebut e-money, mereka tidak perlu lagi membawa lembaran-lembaran uang di dalam dompet. “Makanya, ikon untuk kampanye penggunaan kartu e-money yang saya gaungkan, ‘kalau dompet masih tebal berarti termasuk golongan sepok’. Artinya, dia tidak mengikuti perkembangan teknologi terutama teknologi finansial,” terangnya saat menjadi pembicara sekaligus membuka seminar Pontianak Financial Technology (Fintech) Day di Aula Keriang Bandong Kantor Bank Indonesia Perwakilan Kalbar, Selasa (10/10).

Seminar Pontianak Fintech Day digelar kerja sama antara Pemkot Pontianak, BI dan Pertamina. Seminar ini menghadirkan beberapa pembicara, termasuk salah satunya Sutarmidji sebagai keynote speaker. Kemudian ada Kepala Kantor BI Perwakilan Kalbar Dwi Suslamanto, Marketing Branch Manager Kalbar dan Kalteng PT Pertamina Teuku Johan Miftah, CEO celengan.id Arie Liyono, serta Partnership Manager kitabisa.co.id Erwin Handono. Bahkan ada pembicara dari luar negeri, Aisling Ni Chonaire sebagai Lead Research Advisor Behavioral Insights Team Singapore Office.

Fintech hangat diperbincangkan saat ini. Konsep Fintech mengadaptasi perkembangan teknologi yang dipadukan dengan bidang finansial diharapkan bisa menghadirkan proses transaksi keuangan yang lebih praktis, aman serta modern. Model pembayaran atau transaksi dilakukan dengan teknologi, baik menggunakan kartu maupun smartphone.

Sutarmidji menerangkan, digelarnya seminar Pontianak Fintech Day ini sebagai salah satu upaya dalam rangka mensosialisasikan ke masyarakat sehingga terbiasa bertransaksi non tunai atau menggunakan e-money. Meskipun menurut dia, masyarakat yang mendapatkan fasilitas seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) itu juga salah satu bentuk penggunaan e-money. “Sebenarnya penggunaan e-money ini untuk menghindari pembayaran secara tunai. Saya berharap ini bisa diterapkan di Pontianak,” harapnya.

Penerapan Fintech atau transaksi non tunai kata dia, akan melahirkan startup-startup di bidang pembiayaan. Dirinya berharap, startup yang lahir di Kota Pontianak nantinya bisa menjadi contoh bagi pelaku usaha pemula lainnya. Startup tersebut bisa seperti sebuah holding kecil yang bergerak perorangan. Di mana startup itu yang membiayai, mereka juga ikut memasarkan, membantu manajemennya. Sehingga dari penghasilan yang mereka peroleh itu bisa dipungut pajaknya.

Pemerintah sudah semestinya mendorong kemajuan startup. Sebab transaksi di bidang Fintech yang digunakan startup bukanlah jumlah yang kecil. Sementara mereka tidak dipungut pajak. “Sekarang ketika itu sudah berkembang pesat, baru pemerintah memikirkan untuk menarik pajaknya,” jelasnya.

Sebelumnya lanjut dia, ketika mereka dari nol hingga berkembang seperti sekarang ini, seolah-olah keberadaannya tidak ditoleh. “Bila startup-startup Fintech ini kian berkembang, bukan tidak mungkin akan menjadi saingan bagi perbankan,” ulasnya.
Diakui Sutarmidji, sejatinya penggunaan kartu e-money ini di Kota Pontianak sudah terlambat dua langkah. Sebab di negara-negara maju sudah menggunakan smartphone maupun scan deteksi wajah dalam bertransaksi. Namun demikian, dirinya berharap, setiap ada perubahan dalam sistem transaksi, Kota Pontianak harus selangkah lebih cepat dan menjadi yang pertama menerapkan sistem tersebut seperti halnya e-money.

Menurutnya, transaksi e-money di seluruh Indonesia tercatat hanya senilai Rp35 juta. Demikian pula di Kota Pontianak, transaksi menggunakan e-money masih terbilang kecil. Namun pihaknya terus berupaya memasyarakatkan penggunaan e-money ini. Semua itu kata Sutarmidji, tidak terlepas dari peran pihak perbankan dalam mempromosikan penggunaan transaksi e-money. “Kita juga nanti akan mengembangkan beasiswa dalam bentuk kartu, kemudian insentif pegawai dalam bentuk e-money dan sebagainya,” pungkas Sutarmidji.

Laporan: Maulidi Murni
Editor: Arman Hairiadi