Sudah Evakuasi 19 Ekor Orangutan

97
EVAKUASI. Bahriah menyerahkan Boy kepada Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW I Ketapang, Jumat (25/11). OCSYA ADE CP

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Selama 2016, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar sudah mengevakuasi 19 ekor orangutan yang dipelihara warga.

Evakuasi terakhir dan teranyar, Jumat (25/11), dari tangan Bahriah, warga Desa Air Hitam Hilir, Kendawangan, Ketapang. Orangutan yang baru dievakuasi ini berjenis kelamin jantan. “Usianya sekitar setahun dan lamanya dirawat sekitar 10 bulan,” kata Sustyo Iriono, Kepala BKSDA Kalbar kepada Rakyat Kalbar, Minggu (27/11).

Berdasarkan pengakuan Bahriah, lanjut Sustyo, sekira sepuluh bulan lalu,  menemukan seekor anak orangutan ketika pergi ke ladang. Bayi orangutan ini terpisah dari induknya. Oleh Bahriah, orangutan itu diberi nama Boy.

Atas kesadarannya, Bahriah menyerahkan Boy kepada petugas Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW I Ketapang yang didampingi Polsek Kendawangan dan YIARI Ketapang.

Saat diterima tim, kata Sustyo, satwa ini dalam kondisi sehat. “Namun telah berkurang sifat liarnya, karena selama dipelihara, diperlakuan seperti anak manusia,” jelas Sustyo.

Sebagai upaya animal welfare, satwa ini langsung dititiprawatkan untuk direhabilitasi di YIARI Ketapang. Hingga nantinya dapat dilepasliarkan kembali di habitat aslinya. Sama dengan satwa-satwa lain yang sebelumnya dievakuasi.

Sustyo mengatakan, orangutan menjadi satwa favorit untuk dipelihara. Maka dari itu, tim gabungan yang terdiri dari Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Seksi Konservasi, kepolisian serta LSM lingkungan terus melakukan penanganan dan evakuasi, demi pencegahan kepunahan satwa bernama latin Pongo Pygmaeus ini. “Setidaknya kita berhasil mengevakuasi 19 orangutan selama tahun 2016 ini,” papar Sustyo.

Evakuasi yang dimaksud, dalam bentuk penyerahan secara sukarela dari masyarakat yang memelihara. Banyaknya penyerahan ini, mengindikasikan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian satwa di habitat alamnya.

“Ini juga mencerminkan hasil dari upaya kegiatan konservasi. Baik secara preventif-persuasif seperti patroli, sosialisasi atau penyuluhan, maupun represif penegakan hukum yang selama ini terus dilakukan,” tegas Sustyo.

 

Laporan: Ocsya Ade CP

Editor: Hamka Saptono