Suami Pecinta Berat Karaoke Tiap Hari Dikejar-kejar Purel

2443

Sudah benar jika Karin, wanita 39 tahun, melepaskan suami hidung belang seperti Donjuan, pria 43 tahun. Sudah sabar bertahun-tahun, ternyata hobi njajan purel (ladies club/LC) sang suami tidak pernah sembuh.

Sebagai pekerja di kantor pajak, memang Karin bisa dikatakan wanita karir yang sibuk. Setiap harinya dia harus berangkat lebih pagi dibanding Donjuan, dan pulang lebih akhir dari laki-laki yang sudah memberinya dua anak itu.

Nah, ketika istrinya sibuk banting tulang, ternyata sang suami senang cari hiburan lain, dengan menghambur-hamburkan uang bersama para purel setiap malam.

“Awalnya ya nggak sampai tahu kemana sering pulang larut malam. Tapi, akhirnya saya jadi sering kepo orang yang suka hubungi Donjuan. Malam begitu telepon, tapi kalau ada saya dimatikan. Sering begitu itu,” curhat Karin.

Parahnya, lanjut dia, yang sering menelepon itu berganti-ganti namanya di Ponsel Donjuan. Mulai dari Maria, Sofia, Carissa sampai beberapa nama yang Karin sudah tidak ingat lagi, karena saking banyaknya.

Yang diingat Karin, setiap mendapat panggilan dari sejumlah perempuan itu, pasti malamnya Donjuan tidak akan menghabiskan sore dan malam di rumah.

Donjuan yang berprofesi sebagai pimpinan tenaga IT (information technology) di salah satu radio di Surabaya ini, langsung capcus. Ngacir entah ke mana.

“Tapi, akhirnya ya saya tahu. Karena perempuan itu ngejar-ngejar terus. Ternyata perempuan itu adalah purel langganan Donjuan di salah satu karaoke plus-plus di kawasan Gentengkali. Wes nggak kakean babibu, tak tanyakan ke teman-temannya Donjuan,” ulas Karin.

Dan betapa hancurnya wanita berjilbab ini, saat tahu bahwa justru suaminyalah yang jadi biang keroknya. Donjuan adalah orang yang ngajak plus ngebosi teman-temannya untuk njajan purel bareng.

Bahkan, dalam satu pekan, uang yang rela Donjuan kucurkan untuk hobi bejatnya itu sampai Rp9 juta. Belum kalau perjalanan ke luar kota, sudah pasti Donjuan menyempatkan diri untuk mencicipi pelacuran di setiap kota yang dihampiri.

“Kalau sudah begitu itu penyakit. Kalau parah gitu, pulang ke rumah sampek bau Miras (minuman keras). Saya itu paling bueennnnci ada laki-laki kayak gitu. Kok ternyata saya malah melihara suami yang kayak gitu juga. Anak-anak saya mau jadi apa, kalau tahu bapaknya model begitu,” tegas Karin.

Dibegitukan, bukan berarti Karin diam saja. Ia sempat menegur, sampai menyita sejumlah fasilitas yang dipunyai Donjuan. Seperti keluar kota nggak boleh bawa ATM dan mobil. Bahkan, Karin juga tidak memberikan kuasa pada Donjuan untuk mengelola uang.

Tapi kembali lagi, menurut Karin, kebiasaan njajan di luar sudah jadi penyakit yang tak bisa sembuh dari Donjuan. Sehingga ia memutuskan untuk menggugat cerai Donjuan ke Pengadilan Agama (PA), Jalan Ketintang Madya Surabaya.

“Wong purel-purelnya sampek ada kontaknya di BBM. Ngejar-ngejar terus ke Donjuan. Siapa yang tahan,” pungkasnya. (Radar Surabaya/JPG)