Startup Founder Harus Siap Gagal

73
JADI PEMBICARA. Empat pembicara yang sedang menyampaikan materi dan pengalamannya dalam membangun Startup Founder, Rabu (23/11) malam di Jalan Purnama 2 Pontianak. Gusnadi-RK

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Pontianak resmi menggelar Road to Gerakan Nasional 1000 Startup Digital di Canopy Center, Rabu (23/11) malam. Kegiatan tersebut sekaligus mensosialisasikan agenda tersebut pada Maret 2017 mendatang.

“Yang sudah Kota Medan, Denpasar dan Makassar, dan Pontianak saat ini,” ujar Guntur Sarwohadi, salah seorang pakar startup digital dalam kegiatan di Jalan Purnama 2.
Tujuan kegiatan tersebut untuk menyebarluaskan sampai ke pelosok negeri. Mengajak generasi muda Pontianak tergerak menciptakan solusi untuk berbagai permasalahan yang ada di sekitar melalui teknologi.

“Dengan keterampilan serta talenta muda Pontianak diharapkan mampu memanfaatkan teknologi dengan menciptakan startup digital yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Dalam hal itu untuk menjawab kebutuhan tersebut,” terangnya pada kegiatan yang dihadiri sekitar 180 peserta ini.

Menurutnya, seorang startup founder harus siap menghadapi resiko gagal. Jika tidak mau gagal, maka jangan menjadi startup founder.

“Mental yang siap gagal harus segera dibangun dari diri sendiri. Sumber masalah hanya dari diri sendiri, solusinya ya diri sendiri juga,” lugasnya.

Dalam membangun startup digital, fokus utamanya terletak pada solusi. Kuncinya, bangunlah startup digital yang dapat menyelesaikan masalah.

“Di samping itu, harus juga perhatikan segala kemungkinan, apabila terjadi kegagalan di tengah jalan, kita harus segera bangkit dan belajar dari kegagalan itu,” jelas Guntur.

Di tempat sama, Yopi setiawan, penggerak Gerakan Nasional 1.000 Starup Digital di Pontianak mengatakan, Pontianak potensial dalam gerakan Nasional 1000 startup.
“Prospek di Pontianak bisa kita lihat, seperti Angkuts, Tripy, yang memang memiliki konsep  bagus, dan kita ingin bantu bisnis plannya,” ungkapnya.

Hanya saja, ia melihat dalam perjalanan bisnis yang ada, terdapat kendala. Bagaimana masalah itu bisa ditangani dan menjadi pelajaran ke depannya.

“Problem lain adalah kadang kita terlalu cepat puas, sehingga lupa untuk mengembangkan potensi yang sudah dimiliki. Maka dari itu, kita akan berusaha untuk membimbing membangun mentalitas sampai ke proses pendanaan, hingga mereka benar-benar siap,” lugasnya. (agn)