Sotong Boleh Sama, Racikan Cabai Beda-beda

Sopang, Kuliner Khas Pontianak Saat Ramadan

35
SOPANG. Ipit membuatkan sotong pangkong untuk pelanggannya, Rabu (14/6) malam di Jalan Merdeka, Pontianak. Gusnadi-RK

Kota Pontianak memiliki kuliner khas, yaitu sotong pangkong (Sopang). Kuliner berbahan dasar sotong (cumi) yang dikeringkan ini banyak dijual khususnya saat Ramadan.

Gusnadi, Pontianak

eQuator.co.idPusat penjualan Sopang ada di Jalan Merdeka. Ramainya penikmat kuliner selama bulan puasa, menjadi berkah tersendiri bagi penjualnya. “Sopang ini ada saat Ramadan saja,” kata Ipit, salah seorang penjual Sopang di Jalan Merdeka, Rabu (14/6) malam kepada Rakyat Kalbar.

Perempuan 30 tahun ini, sudah lama menggeluti usaha Sopang. Sejak masih mengenyam sekolah dasar ia telah membantu orangtuanya berjualan. “Barulah sekarang saya yang meneruskan,” ujarnya.

Menurut perempuan berkerudung ini, dulu keuntungan berjualan Sopang sangat besar. Semalam bisa mengantongi jutaan rupiah. Karena ketika itu cuma ada dua atau tiga yang berjualan. Tidak seperti sekarang, melihat usaha ini menjanjikan ada puluhan pelaku usaha serupa. Maka jadilah kawasan Jalan Merdeka ini sebagai pusat kuliner Sopang.  “Makanya bisa dapat Rp100 ribu per hari kita udah bersyukur,” sebutnya.
Sebelum disajikan, sotong terlebih dahulu di bakar. Kemudian dipukul-pukul atau di pangkong – bahasa Melayu Kota Pontianak –  hingga remuk. Tujuannya agar testur sotong jadi lembut, sehingga mudah di nikmati.

Dasar penyajiannya inilah, kuliner tersebut dinamai sotong pangkong. Sopang dinikmati menggunakan kuah khusus. Utamanya bahan-bahan kuahnya cabai rawit, kacang tanah yang dihaluskan, cuka dan air.

Dijelaskan Ipit, kendati bahan utama sama-sama sotong, namun racikan kuahnya yang bikin beda antara penjual. Racikan kuah ini pun menjadi strateginya menghadapi persaingan usaha Sopang yang kian ramai. Ipit menyediakan dua jenis kuah, berbahan kacang dan udang ebi. Selain kualitas sotong, rasa kuahnya ini tetap ia pertahankan untuk menarik minat pembeli. “Jadi biar tetap laris kita meracik cabai harus seenak mungkin. Makanya saya memiliki pelanggan tetap yang tiap bulan puasa selalu datang ke mari,” ungkap Ipit.

Senada disampaikan penjual Sopang lainnya, Ratih. Ibu satu anak ini juga mengaku telah lama berjualan Sopang, yaitu hampir 20 tahun. Ia menjual berbagai jenis ukuran Sopang, mulai harga Rp10 ribu hingga Rp35.000. “Kalau dulu kita menjualnya dengan memotong-motong sotongnya dengan bentuk kecil-kecil, sekarang dalam bentuk per ekor berdasarkan ukuran,” ungkapnya.

Dijelaskan perempuan 32 tahun ini, modal untuk membeli 1 kilogram sotong beserta bahan-bahan kuahnya sebesar Rp300 ribu. “Jika dagangan habis laku, baru beli lagi,” jelasnya.

Sebelumnya, per hari dia bisa menjual habis satu kilogram Sopang. Lantaran banyaknya saingan, bisa sampai 3 hari baru habis terjual. “Sekarang sudah susah,” ucapnya.

Sama seperti Ipit, dia juga memiliki kuah rahasia, sehingga Sopang miliknya diminati pengunjung. “Racikan cabainya menjadi nilai jual agar menarik pengunjung. Ada yang pedas dan tidak pedas, tergantung selera,” tukas Ratih.(*)

 

Facebook Comments