Siswi SMK Dipaksa Nenggak “P” di Sekolah

618
ilustrasi. net

eQuator – Surabaya-RK. Kasus kenakalan siswa kembali terjadi di SMK Adhikawacana, Surabaya. Sebelumnya, dua siswa SMK tersebut terancam di-drop out (DO) karena tepergok merokok di lingkungan sekolah. Kali ini, ada lima siswa tepergok membawa obat-obatan yang diduga masuk golongan psikotropika.

Seorang di antara lima siswa yang terbelit kasus itu dan mengaku menjadi korban kenakalan teman-temannya adalah Melinda Permatasari. Kemarin Melinda ditemani ayahnya, Sugiono, menjelaskan permasalahan yang terjadi.

Siswa kelas X Akuntasi tersebut mengaku dipaksa dua teman sekelasnya, Riska dan Melinia, untuk minum obat berbentuk pil.

”Saya dibentak-bentak. Kalau nggak diminum, saya mendapat berbagai ancaman,” ujar siswa 15 tahun tersebut. ”Itu berlangsung sejak akhir Oktober,” lanjutnya. Melinda menjelaskan, obat tersebut berwarna pink.

Di tengahnya ada huruf P. Dia mengaku dipaksa minum obat tersebut hingga tiga kali. ”Saya tidak tahu jenis pil tersebut. Saya hanya dipaksa,” ujarnya.

Pada paksaan pertama, Melinda meminum 2 pil dan yang kedua diberi 3 pil. Pada kali ketiga, dia harus minum 4 pil. ”Saya minum obat itu sampai muntah-muntah,” papar siswa yang berdomisili di Surabaya Timur itu.

Melinda tidak sendiri menjalani paksaan tersebut. Ada dua siswi lain yang juga dipaksa minum pil tersebut. Dengan begitu, total ada lima pelajar yang mengonsumsi pil itu.

Pihak sekolah akhirnya mengetahui perbuatan mereka setelah menyita handphone Riska saat ujian harian. ”Di HP dia (Riska) ada foto obat itu dan nama kami berlima,” ungkap Melinda.

Pihak sekolah menindaklanjuti temuan itu dengan memanggil lima siswa kelas X tersebut. Menurut Melinda, SMK Adhikawacana memaksa lima siswa tersebut mengundurkan diri dari sekolah. Dengan begitu, sekolah tidak bakal memiliki tanggungan kelanjutan pendidikan mereka.

Sejak awal November, empat di antara lima pelajar itu mengundurkan diri sesuai dengan permintaan sekolah. Tinggal Melinda yang masih berusaha bertahan dengan alasan menjadi korban. ”Saya masih ingin sekolah di sini. Saya ingin belajar dengan benar,” tegas siswa kelahiran 9 Mei 2000 tersebut.

Kamis kemarin Melinda dipanggil pihak sekolah. Dia mengaku dibentak guru BK dan tidak boleh ikut UAS besok (hari ini, Red). ”Nama saya sudah dicoret dari absen. Orangtua saya datang ke sekolah,” kata Melinda dengan mata berkaca-kaca.

Ketika dikonfirmasi ke SMK Adhikawacana, tidak ada guru maupun kepala sekolah yang mau berkomentar. Salah seorang staf SMK Adhikawacana menyatakan bahwa kepala sekolah dan semua guru sudah pulang. ”Saya tidak dapat memberikan komentar,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya Ikhsan menegaskan, penanganan terhadap persoalan tersebut tetap harus mengutamakan kepentingan peserta didik. Pertama, yang harus dilakukan adalah berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk menentukan tindakan yang sesuai.

”Kami akan kroscek ke sekolah untuk mengetahui masalahnya, kemudian berkonsultasi ke BNN,” jelas alumnus Unair itu. (Radar Surabaya/JPG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here