Siapkan Pengobatan Massal Kaki Gajah

Sambas wilayah Endemik Filariasis

30
Grafis: Denis/RK

eQuator.co.id– SAMBAS-RK. Dari hasil bulan survei darah yang dilakukan dinas kesehatan setempat, diketahui bahwa larva Filaria sudah lama berada di dalam tubuh sejumlah warga Kabupaten Sambas yang diriset. Mau tak mau, pengobatan dalam jangka panjang terhadap larva penyebab penyakit kaki gajah (Filariasis) itu mesti dilaksanakan.

“Diketahui bahwa nilai parasit rate dalam darah warga yang ikut survei darah memperlihatkan bahwa Sambas itu daerah endemis, dan memang harus dilakukan pengobatan massal selama 5 tahun,” tutur Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr. I Ketut Sukarja, Selasa (3/10).

Filariasis adalah penyakit parasit yang ditularkan melalui darah, dari vektor Arthropoda, terutama lalat hitam dan nyamuk. Setidaknya ada sekitar 8 jenis Nematoda atau cacing yang berbentuk seperti benang yang menyebabkan Filariasis. Sebagian besar kasus Filaria disebabkan oleh parasit yang dikenal sebagai Wuchereria Bancrofti.

“Parasit rate artinya kandungan cacing parasit yang diambil dari sampel darah warga dan itu menunjukkan hasil yang mengharuskan dilakukan pengobatan massal. Berapa persen nilainya, itu ada datanya di bidang Program Pencegahan Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Sambas,” terang Sukarja.

Pada Oktober 2016, pihaknya telah melaksanakan pengobatan massal. Dan Oktober 2017 ini, pengobatan massal tahun kedua akan dilakukan.

“Kenapa 5 tahun, karena berdasarkan pakar penyakit kaki gajah, tidak ada obat apapun yang mampu membunuh cacing dewasa Nematoda. Cacing dewasa ini akan mati secara alamiah setelah 5 tahun,” ungkapnya.

Nah, lanjut Sukarja, dengan pemberian obat setiap tahun, diharapkan anak cacingnya (Micro Filaria) dapat dibunuh. “Nanti, setelah 5 tahun tidak ada lagi, otomatis yang dewasa akan mati, dia tidak akan menular. Itu yang menurut ahli kenapa harus 5 tahun dikasih obat terus-menerus,” paparnya.

Ia menegaskan, Kabupaten Sambas memang wilayah endemis penyakit kaki gajah. Ditemukan di beberapa kecamatan di Kabupaten Sambas.

“Namun tidak semua, dari 19 kecamatan hanya beberapa kecamatan saja. Kami kan melihat persentase kandungan parasit rate dalam darah, karena kriteria untuk layak diadakannya pengobatan massal itu kan parasit rate-nya,” jelas Sukarja.

Pada tahun 2016, menurut dia, pengobatan massal yang diberikan pihaknya cukup berhasil. “Untuk tahun 2017 ini, kami sudah siap melakukan pengobatan massal, sudah melakukan sosialisasi, dan sudah memberikan pelatihan kepada dokter-dokter bagaimana jika timbul keluhan efek samping obat, dan persiapan-persiapan lainnya,” bebernya.
Obat-obatan tersebut diberikan gratis. Didatangkan langsung oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan.

“Sudah datang obat-obatnya, sudah ada sebagian. Jadi sekarang sudah siap logistiknya, tinggal pada hari H di bulan Oktober kami langsung action saja,” tutur Sukarja.
Dengan pengobatan massal yang rutin bagi warga Sambas yang menunjukkan gejala penyakit ini, ia berharap terjadi pengurangan jumlah warga yang mengidap penyakit kaki gajah. “Ada dua macam obat yang diberikan untuk membunuh cacing perut dan cacing darah, sasarannya kan anak berusia di atas 2 tahun,” tandasnya.

Memang, setiap Oktober ditetapkan Kementerian Kesehatan sebagai Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga). Awalnya pada 2015, ditetapkan sekitar 105 juta orang sebagai sasaran pemberian obat pencegahan masal (POPM). Targetnya akan tuntas 2020 nanti. Hingga tahun ini, diperkirakan masih ada 34,1 juta orang yang belum POPM.

Dari data yang dimiliki Kementerian Kesehatan, 236 kabupaten se Indonesia masih menjadi endemis filariasis. Dari jumlah tersebut, 150 kota/kabupaten yang melaksanakan POPM.

Pemerintah pun telah mencanangkan percepatan eliminasi filariasi di Indonesia. ”Kami memberikan obat pencegahan massal filariasi setahun sekali. Hal itu rutin dilakukan setiap tahun sejak 2015,” jelas Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, M. Subuh, kepada Jawa Pos.

Laporan: Sairi, JPG
Editor: Mohamad iQbaL