Semangat Kebangsaan Generasi Milenial

13
Klasik. Salah satu cuplikan film Wage. Istimewa

 

eQuator.co.id –Film Wage mengeksplorasi perjalanan kepahlawanan Wage Supratman dalam menelurkan lagu-lagu kebangsaan. Aksi-aksi kepahlawanan Wage Supratman diharapkan bisa diteladani oleh generasi milenial.

Generasi milinial sebutan populer untuk Generasi Y—kelahiran sekitar tahun 1981-1995—menjadi bidikan film Wage. Direktur PT Opshid Media Untuk Indonesia Raya, Ivan Nugroho mengatakan, pemikiran pembuatan film Wage, berdasarkan apresiasi yang disematkan untuk pahlawan Wage Supratman tidak berbanding lurus dengan jasa besar beliau untuk bangsa Indonesia. “Maka film tentang Wage Supratman dibuat sebagai sepantas-pantasnya penghargaan untuk beliau, yang juga ditujukan sebagai pelurus sejarah mengenai kisah hidupnya,” kata Ivan dikutip dari Indopos.

Selain itu, dia berpendapat, bahwa kunci menuju bangkitnya bangsa Indonesia, tertutama generasi muda atau milenial, adalah kembali ke jatidiri bangsa. “Ada banyak nilai-nilai luhur jatidiri bangsa yang terkandung di dalam lagu Indonesia Raya, dan juga proses sang komponis Wage Supratman untuk mewujudkannya. Dengan mengemas nilai-nilai luhur tersebut dalam media film Wage, diharapkan dapat menjadi pemicu untuk membangkitkan rasa cinta tanah air serta moral luhur bangsa Indonesia, mengeksplorasi rasa kebangsaan dan Keindonesiaan dalam konteks anak muda,” ujarnya.

Dalam proses produksinya, seleksi yang cukup ketat dilakukan untuk aktor dan peran lainnya. “Kami seleksi dengan melakukan riset serta pembedahan yang menyeluruh, untuk memastikan bahwa karakter tidak jatuh pada pemeran yang kurang tepat, mengingat minimnya data mengenai tokoh-tokoh seperti Wage itu sendiri,” ujar Ivan.

Proses pemilihan aktor untuk peran Wage pun tidak didasarkan pada besarnya nama yang dimiliki sang aktor, maupun banyaknya kecocokan kualifikasi secara teknis antara peran dan pemeran. Aktor terpilih untuk peran Wage dipilih berdasarkan potensinya, baik di bidang seni peran maupun caranya untuk eksplorasi karakter.

Demikian halnya dengan proses produksi, juga berada dalam supervisi dari eksekutif produser, untuk memastikan jalannya film tidak melenceng dari visi misi Opshid yang asli.

Ivan menjelaskan, pesan-pesan perjuangan bukanlah sesuatu yang klasik. Pesan-pesan perjuangan masih dapat diaplikasikan, sekalipun di masa sekarang yang serba modern. “Rasa cinta tanah air harus dipertahankan bahkan hingga setelah bangsa Indonesia merdeka, karena itulah satu-satunya benteng yang melindungi Indonesia dari kehancuran. Seperti Wage, rasa cinta tanah airnya lah yang akhirnya menuntunnya pada takdir besar bangsa Indonesia,” imbuh Ivan.

Terkait dengan target penonton, Opshid Media mematok angka minimal 1 juta penonton. Hal tersebut dilihat bukan dari segi money oriented, tetapi memang karena pada dasarnya Opshid Media memiliki visi misi yang harus disampaikan kepada publik, sehingga semakin banyak yang menonton semakin baik.

Film Wage menghabiskan dana sekitar Rp16 miliar. Dana tersebut selain produksi film juga digunakan untuk riset dan biaya pemasaran yang besar. “Edukasi dan pesan yang ingin disampaikan harus jelas dan tepat ke sasaran,” katanya. (idp)