Sabar Menanti January Effect

68
ilustrasi. net

eQuator – Jakarta-RK. INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengawali tahun ini di jalur positif. Pasar modal akan mendapat limpahan berkah lanjutan dari Window Dressing. Di mana, lazim terjadi, pada Januari ledakan (apresiasi harga) saham tidak terelakkan. Momen itu kemudian dikenal oleh pelaku pasar sebagai January Effect.

Secara historis, January Effect didahului Window Dressing di penghujung tahun lalu. Kala itu, fund manager melakukan serangkaian aksi jual terhadap portofolio saham berpenampilan buruk. Itu dilakukan untuk mempercantik kinerja jelang tutup buku.

Setelah pelepasan saham berkinerja negatif rampung, kemudian dilanjut dengan aksi beli pada Januari. ”Di samping itu, tidak sedikit pemodal membelanjakan bonus akhir tahun untuk mengoleksi saham,” tutur praktisi pasar modal Ellen May.

Begitu pun di Amerika Serikat (AS), January Effect terjadi menyusul aksi beli sejumlah perusahaan. Tidak jauh beda dengan pemodal domestik, investor negeri Paman Sam itu memborong saham setelah akhir tahun melepas saham dengan preforma negatif.

Saat menjual Saham akhir tahun itu, misi utama investor menghindari pajak (tax loss selling). Lalu apakah January Effect selalu menghampiri pasar? Berdasar data kurun sepuluh tahun terakhir, January Effect intens menyapa market.

Tercatat sejak edisi 2004, 2005, 2006, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013 dan 2014 January Effect tidak pernah absen. Hanya untuk periode 2008, 2009 dan 2011, January Effect tersaji dalam waktu singkat dengan kisaran 1-3 hari. Bahkan pada fase 2008 January Effect disusul koreksi tajam sepanjang tahun. Praktis, January Effect tidak menyambangi pasar pada kalender 2003 dan 2007.

”Pasar merosot tajam pada Januari kala itu,” tegas Ellen.

Bagaimana dengan Januari tahun ini? menilik penutupan akhir tahun, tanda-tanda positif sejatinya telah mencuat. Indeks sukses mentas dari level psikologis 4.500, nyaris menjebol dan melangkahi posisi 4.600. Kondisi itu ditambah rencana pemerintah memberlakukan harga baru bahan bakar minyak (BBM) efektif Selasa (5/1) besok.

Penyesuaian harga BBM bakal menjadi sentimen positif karena dapat mengerem laju inflasi. ”BI (Bank Indonesia) juga komitmen mengawal suku bunga di kisaran 7,5 persen,” ucap pengampu ellenmayinstitute itu.

Dengan menyodorkan harga baru, BBM jenis premium dipasaran akan dibanderol Rp 7.150 per liter dari Rp 7.300 per liter, dan solar menjadi Rp 5.950 per liter dari sebelumnya Rp 6.700 per liter. Harga baru itu akan menjadi katalisator positif untuk sejumlah sektor. Otomotif terutama akan mendapat dampak signifikan dalam hal ini Astra International (ASII).

Lalu, sektor perbankan dengan proyeksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit tahun ini bisa tumbuh 14.1 persen berdasar rencana bisnis bank (RBB) dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 12,7 persen.

”Melihat gerakan akhir tahun lalu, Indeks masih sangat kuat dan berpotensi mengawali perdagangan pekan ini di area positif,” tambah analis Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya.

Indeks bilang William potensial menggapai level resistance 4.657. Pola pergerakan menunjukkan arah uptrend dtunjang posisi nilai tukar cenderung stabil, gerak market global dan regional terlihat bergairah menyambut edisi 2016. Sejumlah saham laik koleksi antara lain Kalbe Farma (KLBF), bank Negara Indonesia (BBNI), Kimia Farma (KAEF), Astra International (ASII), Wijaya Karya (WIKA), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), Matahari Putra Prima (MPPA), Unilever (UNVR) dan Indofood Sukses Makmur (INDF). (INDOPOS/JPG)