Saat Ahli Kanker Dunia Tumplak di Singapura

169
JAWAB. dr. Caroline Josephine Simon (kiri) dan dr. Cheah Yee Lee dalam sesi tanya jawab simposium onkologi di Lecturer Theatre, Gleneagles Hospital, Singapura, Sabtu (21/11). BAYU SAKSONO/JAWA POS RADAR BANYUWANG

eQuator – Para pakar onkologi (kanker) dari Amerika Serikat dan Asia berkumpul di Lecturer Theatre, Gleneagles Hospital, Singapura, Sabtu (21/11). Mereka memaparkan berbagai metode baru untuk mengobati kanker dan tumor. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi Bayu Saksono yang baru pulang dari Singapura.   

SUASANA lobi utama di lantai dasar Gleneagles Hospital, Singapura, pagi itu lebih ramai daripada hari biasa. Beberapa perempuan berblazer hitam tampak mondar-mandir di tempat yang sejuk itu. Ketika dua bus rombongan pakar onkologi tiba di areal parkir, para petugas perempuan langsung menyambut.

Mereka mengawal para tamu itu menjadi dua bagian. Para ahli pengobatan kanker tersebut diajak melihat fasilitas yang terkait dengan kanker dan tumor.

Salah satu ruangan yang dikunjungi adalah fasilitas Asian American Radiation Oncology. Setelah 20 menit berkeliling melihat fasilitas terkait, para pakar onkologi itu langsung menuju Lecturer Theatre di lantai 3 kompleks gedung Gleneagles Hospital.

Ruangan Lecturer Theater itu memang tidak terlalu besar. Maksimal berkapasitas sekitar 100 orang. Tata letak kursinya di bagian depan lebih rendah dan terus naik meninggi ke belakang. Kursi-kursinya otomatis terlipat dan masing-masing dilengkapi meja lipat layaknya bangku kuliah.

Memang, pertemuan para oncologist kali ini hanya diikuti sekitar 50 ahli pengobatan tumor dan kanker. Mereka berasal dari AS, India, Sri Lanka, Bangladesh, Malaysia, Vietnam, tuan rumah Singapura, dan tentu saja beberapa dokter dari Indonesia.

Di barisan terdepan sebelah kiri yang agak terpisah, terdapat sepuluh kursi khusus untuk kalangan media. Hanya ada lima jurnalis yang mengikuti acara bertajuk International Symposium on Minimally Invasive Oncology: State of The Art tersebut. Yaitu, seorang dari Daily Star Bangladesh, seorang dari Malaysia, dan sisanya dari Medan, Jakarta, serta Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Pertemuan pakar onkologi kali ini dimotori Asian American Medical Group (AAMG). Mereka mempertemukan dua kutub kekuatan medis dunia, yakni AS yang merupakan representasi pengobatan maju serta modern dan kalangan medis Singapura yang merupakan wakil dari Asia.

Sebagai pembuka, ada sambutan dari ketua panitia simposium Dr Tan Kai Chah yang juga executive chairman AAMG. Disusul sambutan Presiden UPMC International USA Charles E. Bogosta dan sambutan CEO Gleneagles Hospital Dr Vincent Chia.

Setelah para pejabat memberikan sambutan, kesempatan pertama diberikan kepada narasumber perempuan, Dr Cheah Yee Lee, ahli bedah Asian American Liver Centre (AALC) Singapura. Dia memaparkan pembedahan pada liver dengan metode laparoskopi (operasi dengan satu sayatan kecil) berikut indikasi dan hasilnya.

Narasumber kedua adalah Dr Melissa Hogg yang merupakan asisten profesor Gastrointestinal Surgical Oncology Division, University of Pittsburgh School of Medicine, AS. Melissa menyampaikan topik menarik seputar penggunaan teknologi robotic dalam pembedahan kanker pankreas.

Menurut dia, metode robotic dalam bidang medis sebelumnya diadopsi dari dunia militer. Kali ini teknologi robot dimanfaatkan untuk membantu operasi pengangkatan kanker dengan metode laparoskopi.

“Biasanya, operasi laparoskopi tetap dijalankan dengan menggunakan dua tangan. Tangan kanan dan tangan kiri. Namun, kali ini operasi dilakukan oleh teknologi robot agar hasilnya lebih baik,” jelas perempuan yang memiliki sederet gelar akademik itu.

Melissa menambahkan, hasil teknologi tersebut cukup bagus. Dari seratus kasus terakhir, angka mortalitas (kematian) pasien dalam jangka waktu 90 hari hanya berkisar 3 persen. Namun, operasi laparoskopi pengangkatan kanker pankreas dengan metode robotic memerlukan setidaknya dua anggota tim dokter. Seorang bekerja di dalam console dan seorang lagi bekerja di dekat pasien.

Para dokter dan tenaga medis tersebut, kata Melissa, harus menjalani training lebih dahulu. Sebab, menjalankan teknologi itu tidaklah mudah. Harus orang yang tepat dan punya skill yang sesuai.

Melissa mengakui, salah seorang pasien kanker pankreas yang ditanganinya kini telah menjalani hidup yang lebih baik. Pasien tersebut adalah seorang perempuan berumur 34 tahun yang berprofesi guru di North Pensylvania, AS.

Awalnya, pasien tersebut sangat terganggu oleh kanker pankreas yang dideritanya. Namun, setelah menjalani operasi dengan metode robotic tersebut, kondisi guru perempuan itu berangsur membaik.

“Setelah enam bulan, dia bahkan bisa melakukan traveling mengunjungi keluarganya di Selandia Baru,” ungkap Melissa.

Selanjutnya, pakar Singapura sebagai representasi Asia lebih mengandalkan terapi radiasi yang superpresisi (tepat). Menjelang jeda siang, giliran pakar dari Asia menyampaikan paparan yang diwakili Dr Daniel Tan Yat Harn MBBS FAMS, direktur medis fasilitas Asian American Radiation Oncology (AARO) Singapura.

Daniel juga diberi kesempatan menjelaskan metodenya kepada para jurnalis dan medical representative dari berbagai negara selama sekitar 30 menit di ruangan tersendiri. Kali ini, dia didampingi Prof Dr Dwight E. Heron dari AS dan CEO Gleneagles Hospital Dr Vincent Chia.

Menurut Daniel, pengobatan tumor tidak hanya butuh keakuratan dan konsistensi. Dia menjelaskan, akurat adalah tepat sasaran. Namun, kata dia, akurat belum tentu konsisten. Sebaliknya, konsisten adalah terus-menerus, tetapi belum tentu tepat sasaran.

Karena itu, lanjut dia, yang diperlukan adalah metode pengobatan yang presisi. Radiasi tubuh secara presisi itu tidak ditembakkan ke seluruh tubuh.  “Ibaratnya kita menggunakan senapan mesin otomatis, sasaran akan mati. Namun, kerusakan dan kesakitan yang ditimbulkan akan luar biasa. Berbeda dengan radiasi yang presisi, yang ditembak itu dijamin tepat sasaran langsung ke tumornya saja sehingga mereduksi sakit dan kerusakan tubuh,” jelasnya.

Agar tembakan presisi, Daniel dan timnya bekerja keras di ruang Asian American Radiation Oncology, Gleneagles Hospital. Ada dua ruangan untuk radiasi. Yang satu berpintu pink dan satu lagi berpintu kuning. Tampaknya, ruangan berpintu pink untuk pasien perempuan dan pintu kuning untuk pasien laki-laki.

Di dalam ruangan itu, mereka menggunakan metode stereotactic body radiation therapy (SBRT) untuk menjinakkan bermacam tumor. Sebelum disinari, setiap pasien akan memakai semacam topeng plastik berlubang-lubang persegi. Dengan bantuan alat radiasi tersebut, posisi tumor akan diketahui secara presisi. Selanjutnya, tindakan medis akan lebih mudah dilakukan. Apakah nanti diputuskan untuk tindakan terapi radiasi, operasi pengangkatan, dan seterusnya, semua akan jauh lebih mudah dan tepat. (Jawa Pos/JPG)

2 Komentar

  1. Ko!mentarapa yg di pelari sudah bagus dan ada kemajuan,tetapi tdk semua kanker dapat digunakan alat itu.
    1.technologi bukan alat untuk menyembuhkan penyakit.
    2.betapun canggih alat tdk bisa mematikan sel kanker.
    3 orang sakit butuh obat bukan techologi.
    4.orang islam ahli obat
    5.sebenarnya kanker itu sagat mudah diobati kalau dia ahlinya.
    6.jagalah organ tubuh sangat beharga jangan mudah diamputasi.

  2. Ahli kedokteran sibuk mencari bagaimana cara bisa menyembuhkan kanker,seolah olah itu penyakit baru padahal sejak dulu sdh ada kalau memang ada sekarang pasti zaman dulu ada,kalau dari dulu ada pasti ada obatnya kanker itu .sama dengan penyakit HIV sejak dulu sudah ada ketika nabi lut bahkan umat nabi lut ditenggelamkan semua hanya sisa satu kapal aja yg ikut nabi lut. Cuma yang tau hanya orang islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here