RTK Tersedia di Setiap Kecamatan

Semua Pelayanannya Gratis

14
Ketua TP-PKK Kabupaten Melawi memotong pita ketika launching RTK Sayang Ibu Kecamatan Nanga Pinoh
POTONG PITA. Ketua TP-PKK Kabupaten Melawi memotong pita ketika launching RTK Sayang Ibu Kecamatan Nanga Pinoh, Jumat (29/9). Dedi Irawan-RK

eQuator.co.idNanga Pinoh-RK. Ibu-ibu hamil di pedalaman, tidak perlu repot lagi bolak balik ke fasilitas kesehatan ketika menunggu waktu persalinan atau setelahnya. Pasalnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Melawi telah menyediakan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) di setiap kecamatan.

“RTK ini bukan tempat melahirkan. Namun hanya rumah singgah. Sehingga ibu-ibu yang mau melahirkan, bisa mempersiapkan diri, terutama kesehatan sebelum waktu kelahiran tiba,” kata Ahmad Jawahir, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Melawi, ketika Launching RTK Sayang Ibu Kecamatan Nanga Pinoh, Jumat (29/9).

Penyediaan RTK menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) ini, jelas Jawahir, untuk memberikan tempat bagi warga dari hulu atau pedalaman, yang tidak mempunyai rumah di Ibu Kota Kecamatan.

Dia mengungkapkan, di RTK ini ada bidan selama 24 jam dan peralatan peralatan untuk menangani kehamilan. Dilengkapi pula alat masak. Sehingga ibu hamil bersama keluarganya bisa tinggal dan masak-masak sambil menunggu waktu bersalin.

“Ketika sudah mau melahirkan, bidan di RTK yang membawa ibu hami itu ke tempat pelayanan kesehatan yang dituju. Kalau berrisiko tinggi dibawa ke Rumah Sakit,” jelas Jawahir.

Letak RTK ini, tambah dia, memang harus di dekat Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atau Rumah Sakit (RS). Contohnya RTK Sayang Ibu Kecamatan Nanga Pinoh ini, di dekat RS. “Sehingga ketika waktu melahirkan tiba, mudah dan bisa cepat menjangkau RS,” jelas Jawahir.

RTK bukan hanya untuk ibu-ibu yang akan melahirkan. Namun juga bisa digunakan setelah melahirkan, yakni ketika keluar dari Puskesmas atau RS, sebelum pulang ke rumah atau ke kampungnya.

“Pelayanan di RTK ini semuanya gratis. Kecuali kalau ada dari pihak keluarga yang ingin membeli bahan makanan untuk masak-masak di RTK, mereka mesti beli sendiri,” ucap Jawahir.

Tahun ini, jelas Jawahir, RTK disediakan di setiap kecamatan. Bangunannya rata-rata sewaan. “Untuk jangka panjangnya, kami akan menggunakan bangunan Puskesmas lama, dibenahi untuk RTK. Karena tiap kecamatan sudah memiliki bangunan Puskesmas Rawat Inap yang baru semua,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Melawi, Ny Nurbetty Ekamulyastri Panji mengatakan, dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), setiap persalinan memang harus ditolong tenaga kesehatan yang kompeten. “Karena itu, setiap ibu hamil harus memperoleh akses yang mudah terhadap pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Kenyataannya, banyak ibu hamil kesulitan mengakses fasilitas pelayanan kesehatan. Di antaranya karena kendala geografis, ketiadaan tenaga kesehatan, budaya yang tidak mendukung atau tidak punya biaya.

“Sehingga diperlukan suatu yang dapat menjebatani agar ibu hamil dapat bersalin dengan pertolongan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, terutama bagi ibu hamil yang mempunyai risiko tinggi yang membutuhkan pertolongan medis spesialistik,” papar Nurbetty.

Dia menambahkan, setiap ibu hamil mempunyai risiko kegawatdaruratan obtetri saat persalinan. Makanya, ibu hamil diharapkan dapat didekatkan ke fasilitas kesehatan beberapa hari menjelang persalinan.

“Dari kampung-kampung biasanya sering berisiko tinggi. Tetapi mereka bingung mau ke kota, tempatnya di mana dan biayanya seperti apa. Dengan adanya RTK ini mudah-mudahan bisa mengurangi beban mereka,” harap Nurbetty.

Dia juga berharap, dengan adanya RTK ini bisa mengurangi AKI dan AKB di Kebupaten Melawi. “Walaupun ibu hamil mempunyai risiko tinggi, tetapi saat persalinan, ibu yang melahirkan bisa terselamatkan, termasuk bayinya yang dilahirkan juga terselamatkan,” tutup Nurbetty.

Laporan: Dedi Irawan

Editor: Mordiadi