Ratusan Rumah Terendam

Ujung Timur Kalbar Dikepung Banjir

37
TAK BERANI MENEROBOS. Warga berkumpul di Jalan Ahmad Yani Putussibau berharap air segera surut. Tampak dua pelajar berusaha mengeluarkan air yang masuk di knalpot lantaran nekat menerjang banjir, Selasa (28/11). Andreas-RK

eQuator.co.idKalbar-RK. Intensitas hujan yang tinggi belakangan ini mengakibatkan kawasan ujung timur provinsi Kalimantan Barat dikepung banjir, Selasa (28/11). Ratusan rumah di Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang dan Melawi terendam.

Di Kabupaten Kapuas Hulu, kedalaman air terbilang signifikan. Sebelumnya jarang terjadi banjir menggenangi sebagian besar pemukiman warga dan beberapa ruas jalan protokol di Putussibau, Selasa (28/11). Ketinggian air diperkirakan mencapai 50-70 cm. Banjir terutama melanda permukiman yang berada tidak jauh dari bantaran sungai Kapuas.

Banjir terjadi lantaran sepekan terakhir ini hujan mengguyur sebagian besar wilayah Kapuas Hulu. Intensitas hujan begitu tinggi, terjadi saat siang maupun malam. Perlahan debit air sungai Kapuas naik, sehingga meluap ke permukiman.

Dari pantauan Rakyat Kalbar di lapangan, ruas jalan protokol yang tergenang diantaranya di Jalur Lintas Selatan. Tak jauh dari simpang masuk ke SMA Negeri 2 Putussibau ketinggian air mencapai 50 cm. Kemudian di Jalan Ahmad Yani, tepatnya depan Sekolah Karya Budi Putussibau ketinggian air hampir 70 cm.

Kondisi banjir tersebut membuat sebagian pengendara sulit melintas. Sebelumnya nekat menerobos, akhirnya memutar balik. “Ini kayaknya naik terus airnya, tadi malam belum seberapa,” tutur Purwanto, warga Kedamin yang berjualan makanan keliling.

Sementara warga Sejiram, Wandi yang hendak mengikuti kegiatan di Putussibau mengaku kesulitan melintas di Jalan Ahmad Yani. Padahal sebelumnya ia sudah menerobos beberapa titik banjir. Ternyata air di ruas beberapa jalan protokol cukup dalam. Akhirnya dia pun ragu menerobos banjir di Jalan Ahmad Yani.

“Saya tadi dari Sejiram, ada beberapa daerah yang banjir, rencana ada pertemuan, tapi kalau melihat banjir ini malah semakin naik, jadi kegiatan juga ndak terkejar,” kata Wandi.

Banjir menyebabkan sejumlah sekolah tak bisa melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Bukan hanya bangunan sekolah yang terendam, para guru dan siswa juga kesulitan keluar rumah maupun menerjang banjir. Selain itu, instansi pemerintah juga kesulitan beraktivitas lantaran banjir merendam sejumlah fasilitas umum dan perkantoran di Kota Putussibau.

Tampak aparat kepolisian dan TNI serta Tagana membantu memandu warga yang hendak melintas. Sebab tidak sedikit sepeda motor warga mogok karena kemasukan air. Banjir hebat menggenangi ruas jalan di wilayah Putussibau diperkirakan sejak subuh. Hingga berita ini diturunkan air belum juga surut.

“Saya dari tadi nunggu di sini, takut lewat apalagi pakai motor rendah pasti masuk air,” ungkap Salmah, warga Putussibau.

Banjir juga melanda kawasan pasar Pagi Putussibau. Akibatnya puluhan pedagang sayur dan daging memadati Jalan Diponegoro Putussibau. Para pedagang memindahkan lapaknya di badan jalan tersebut lantaran kawasan Pasar Pagi tempat mereka berjualan terendam. Alhasil, Jalan Diponegoro pun dipadati warga yang melakukan transaksi jual beli kebutuhan harian. Akibatnya arus lalu lintas tersendat.

Salah seorang pedagang, Ida mengatakan, dirinya harus berjualan walaupun lesehan di antara genangan badan Jalan Diponegoro. Jika tidak berjualan, khawatir sayur-sayuran miliknya busuk. “Kami memang harus cepat jualnya, kalau tidak maka busuk ini sayur-sayurnya, kami yang rugi,” ungkapnya.

Ida mengatakan, terpaksa berjual di jalan tersebut karena lokasi yang ada di pasar pagi sudah terendam. Ketinggian air sudah mencapai satu meter lebih. “Kalau kami jual di dalam siapa yang mau beli, tentu tidak ada,” ucapnya.

Disinggung harga sayur mayur yang dijualnya, Ida menuturkan harga masih sama, tidak ada perubahan. Menurutnya, pedagang lain juga demikian. “Harga tetap sama sih, kita ngejar lakunya. Kalau harga mahal, tidak ada yang beli, sama juga akan busuk,” ujar Ida.

Banjir juga merendam beberapa kecamatan di Kapuas Hulu. Diantaranya di Kecamatan Embaloh Hulu. Warga Desa Ulak Pauk Kecamatan Embaloh Hulu A. Lenggong mengatakan, jalan poros di sana tak bisa dilewati baik kendaraan roda dua maupun empat. Jalan poros di Desa Ulak Pauk merupakan akses keluar ke jalan negara lintas utara.

“Ada jembatan yang arah menuju keluar ke jalan negara tadi mobil dan sepeda motor sudah tidak bisa lewat. Sekolah-sekolah dan rumah warga juga terendam banjir,” ungkapnya ketika dihubungi via selular.

“Sebenar tadi rencana mau turun ke Putussibau, tapi lihat jalan banjir cukup dalam nggak mampu lewat,” timpal Lenggong.

Terpisah, Kapolres Kapuas Hulu AKBP Imam Riyadi mengatakan, pihaknya membantu masyarakat dengan melakukan patroli di titik-titik banjir. “Kita patroli juga di tempat-tempat masyarakat menyimpan kendaraannya. Jadi banjir bukan jadi halangan kita untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tegas Kapolres.

Banjir juga menerjang beberapa kecamatan di Kabupaten Sintang. Penyebab banjir juga sama, yaitu akibat curah hujan dengan intensitas tinggi beberapa waktu lalu.

Berdasarkan catatan pihak kepolisian, terdapat tiga kecamatan yang mengalami  bencana banjir sejak Minggu (26/11) hingga Senin (27/11). Yaitu meliputi Kecamatan Serawai, Kayan Hulu dan Kayan Hilir.  Meski kini debit air sudah menurun, namun tetap meninggalkan bekas bagi warga setempat. Pasalnya, di Kecamatan Kayan Hulu sekitar 70 rumah yang berada di bantaran sungai Tebidah terendam. Kondisi yang sama juga terjadi di Serawai. “Kurang lebih ada 70 rumah yang terendam di Kayan Hulu,” kata Paur Subbag Humas Polres Sintang Iptu Hariyanto.

Menurutnya, banjir di Kayan Hulu akibat sungai Kayan dan Tebidah meluap. Rumah warga yang berada di bantaran kedua sungai tersebut terendam dengan ketinggian 50 cm hingga 150 cm. “Debit air sudah mulai surut. Sebagian ruang warga juga sudah tidak terendam lagi,” ungkapnya.

Kendati begitu, Hariyanto mengimbau warga agar tetap waspada jika sewaktu waktu air sungai naik atau meluap. Sebab kondisi cuaca saat ini tidak bisa di tebak. “Kalau curah hujan dengan intensitas tinggi kembali melanda Kecamatan Kayan Hulu dan Serawai, dipastikan rumah warga akan kembali terendam,” jelas Hariyanto.

Anes, warga Nanga Tebidah di bantaran sungai Tebidah mengaku khawatir dengan kondisi cuaca saat ini. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, kemungkinan besar hujan akan masih terjadi. “Kalau sudah hujan, debit air anak sungai Kayan dan Melawi pun akan kembali naik, rumah kami sudah pasti ikut terendam lagi,” katanya.

Pria 36 tahun ini mengaku belum ada perhatian dari pemerintah terkait kondisi banjir yang kerap terjadi di daerahnya. Bencana banjir seperti ini bukan yang kali pertamanya. Untuk tahun ini saja, ini sudah yang keempat kalinya. “Ini yang keempat kalinya banjir di tahun 2017,” sebut Anes.

Terpisah, Anggota DPRD Sintang Hardoyo meminta Pemda cepat dan tanggap menangani banjir di Serawai, Kayan Hilir dan Kayan Hulu. Senada disampaikannya, banjir ini sudah kesekian kalinya terjadi. “Kalau sudah hujan deras, debit air sungai Melawi dan Kayan meluap drastis. Hasilnya rumah warga banyak yang terendam,” kata Hardoyo.

Dia menilai, Pemkab Sintang tidak memiliki langkah konkrit dalam penanggulangan bencana. Dalam kondisi ini seharusnya BPBD segera turun ke lapangan dan melakukan pendataan terhadap korban banjir.

“Saya rasa BPBD Sintang sudah tidak aktif lagi. Kalau masih aktif mereka tanggap dan cepat mengambil langkah. Yang ada malah pihak kepolsiian yang update data. Bahkan yang melakukan proses evakuasi warga juga dilakukan pihak kepolisian,” tuturnya.

Hardoyo menyanyangkan peran BPBD Sintang yang terkesan tidak bekerja disaat bencana melanda sebagian wilayah Kabupaten Sintang.

“Sangat kita sayangkan sekali. Padahal langkah-langkah teknis dalam penanggulangan bencana ada di tangan BPBD. Tetapi mereka sendiri yang tidak aktif atau tidak turun tangan,” kesal Hardoyo.

Kondisi sama terjadi di Kabupaten Melawi. Curah hujan yang tinggi belakangan membuat puluhan rumah sejumlah desa di persisir sungai Melawi kebanjiran. Akibatnya, sejumlah warga yang rumahnya terendam mengungsi ke kediaman sanak keluarga di daerah dataran tinggi. Desa yang mulai terkena banjir diantaranya Tanjung Arak, Kebebu, Nanga Man, Tebing Kerangan dan Sungai Pinang. Banjir juga menerjang sejumlah desa lainnya yang berada di pesisir sungai Melawi.

Kepala Desa Tebing Kerangan, Sekoi mengatakan, air semakin tinggi. Puluhan rumah warga sudah terendam.

“Warga yang rumahnya terendam banjir sudah mengamankan harta bendanya dengan membuat panggung di dalam rumahnya, sementara warga sendiri harus mengungsi ke rumah keluarganya yang tidak terkena banjir,” terangnya via WhatsApp

Sekoi berharap, air segera surut. Namun begitu, ia berharap pemerintah jauh-jauh hari sudah mengantisipasi termasuk bantuan atau suplai makanan ke warga. Sebab banjir yang melanda membuat warga tidak bisa bekerja. Puluhan haktare kebun karet yang menjadi mata pencarian warga terendam.

Sementara di wilayah pusat Kecamatan Nanga Pinoh, khususnya di daerah pesisir sungai sudah mengalami banjir. Khususnya di jalan-jalan poros, seperti Jalan M. Nawawi Desa Paal, Jalan Kenanga dan jalan-jalan yang berada di pesisir sungai.

“Pemerintah jauh-jauh hari juga harus sudah siap. Jangan tunggu banjir surut baru nyalurkan bantuan, sementara sewaktu banjir kami warga kami kelaparan. Kalau pasca banjir baru menyalurkan bantuan, itu sama tak bual,” kata Sekoi.

Banjir ini mengharuskan sejumlah sekolah yang berada di peisisr sungai Melawi meliburkan muridnya. Seperti SMA Negeri 1 Menukung, terpaksa meliburkan siswanya lantaran banjir terjadi sejak beberapa hari lalu. Kebijakan ini diambil pihak sekolah lantaran ruang kelas sudah mulai terendam air. “Ya sekolah SMAN 1 ini banjir, sekolah diliburkan mulai hari ini,” kata Febby Rahmana warga yang bertugas di kecamatan Menukung di Media Sosial.

Banjir ini juga menggangu akses ke lima desa di kecamatan Menukung. Sehingga warga harus mencari alternatif jalan lain dengan jarak yang jauh. “Kalau menyeberang menggunakan rakit harus bayar Rp15 ribu,” kata warga lainnya di Menukung.

Sebelumnya, Kepala BPBD Melawi, Syafaruddin jauh-jauh hari sudah mengimbau agar masyarakat waspada terhadap banjir. Terutama saat memasuki musim hujan November-Desember.

“Masyarakat harus waspada terhadap bahaya tanah longsor, petir dan banjir yang bisa saja melanda, utamanya saat musim hujan seperti sekarang. Saluran air harus diperhatikan agar tidak terjadi banjir,” ungkap Syafarudin.

Diakui Syafarudin, di Melawi memang ada beberapa daerah yang awan banjir. Berdasarkan imbauan dan informasi BMKG Kalbar dalam beerapa hari kedepan, potensi hujan sedang dan lebat disertai angin kencang masih dapat terjadi di Kabupaten Melawi “Jadi kita mengimbau kepada masyarakat agar mewaspadai terjadinya bencana alam berupa banjir, angin kencang dan tanah longsor,” imbaunya.

Jika ada bencana, masyarakat dapat segera melaporkan ke aparat desa. Nantinya pihak desa bisa melaporkan ke kecamatan yang kemudian diteruskan ke BPBD. “Kalau banjir biasa tidak masalah, namun yang kami khawatirkan sampai ada korban jiwa. Nah, ini yang perlu kita antisipasi jangan sampai terjadi,” ucapnya.

 

 

Laporan: Andreas, Achmad Munandar, Dedi Irawan

Editor: Arman Hairiadi