PT SSA Kembangkan Jagung Hibrida di Bengkayang

680
BERIKAN BANTUAN. Pengusaha asal Bengkayang, Edison menyer- ahkan bantuan pupuk kepada petani jagung. KURNADI

eQuator – Dusun Segonde, Desa Pisak, Tujuh Belas—Bengkayang merupakan kawasan yang berpotensi menjadi produsen jagung hibrida. Selain tanahnya yang subur untuk jagung, juga berpotensi untuk pengembangan pabrik pengelolaan jagung.

Teknical Agronomis PT SSA (Sinka Sinye Agrotama) M Sinambela, dan Tono Trilaksono selaku Manager Pemasaran AHSTI (Asian Hibrid Seed Teknologi Indonesia) selaku Produsen Pupuk Organik Petroganik PT SSA, siap mengembangkan areal jagung di kawasan Segonde. Perusahaan ini akan memberikan bantuan pupuk petroganik untuk menyuburkan tanah.

“Pupuk Petroganik merupakan merek dagang pemerintah dari pupuk subsidi PetroKimia Gresik. Kemudian diizinkan untuk diproduksi di Singkawang sebagai pemasaran wilayah Kalbar,” kata Sinambela saat sosialisasi pemanfaatan Pupuk Petroganik kepada Warga Dusun Segonde, Senin (16/11). Hadir juga saat sosialisasi, warga Kampung Sumpin, Kampung Merasap dan Kampung Simpang Segonde.

Pupuk produksi Singkawang ini juga dipasarkan di Pulau Jawa dan Bangka Belitung. Manajemen pemasarannya bekerjasama dengan Pusri (Pupuk Sriwijaya Indonesia).

Setiap satu hektare lahan jagung hanya memerlukan dua ton pupuk sebagai pengganti pupuk kandang. Satu musim tanam dan dipadukan juga dengan pupuk kimia agar berimbang, maka satu hektare wajib menggunakan dua ton Pupuk Petroganik.

“Ada delapan faktor yang memengaruhi hasil budidaya jagung, yaitu benih hibrida, pengolahan tanah yang baik, teknik budidaya, pupuk tepat dosis dan waktu, musim yang tepat, pengairan dan drainase yang baik. Kemudian pengendalian hama dan penyakit yang efektif, maka panen dan pasca panen bisa dilakukan tepat waktu,” kata Sinambela.

Pupuk Petroganik harganya terjangkau. karena mendapatkan subsidi. Artinya HET (Harga Eceran Tertinggi) bisa dijangkau masyarakat dengan harga Rp500 per kilogramnya.

“Desa Pisak Dusun Segonde sangat produktif untuk produksi jagung. Merupakan peringkat tertinggi di Kalbar, jika  Bengkayang mampu memperoleh hasil minimal 4,5 ton per hektare dikalikan 20.000 hektare lahan yang tersedia atau 90.000 ton panen per musim tanam,” ungkap Sinambela.

Jika dibandingkan dengan kebutuhan Negara Korea yang hanya 60.000 ton per tahun, maka Bengkayang bisa menyiapkan 90.000 ton per tahun. Jadi masih surplus 30.000 ton untuk kebutuhan dalam negeri, jika jagung diekspor ke Korea.

“Bayangkan saja dengan harga Rp4.000 per kilogram, jika dihasilkan produksi 90.000 ton, maka petani akan menghasilkan Rp360 miliar per 92 hari, dengan masa kerja efektifnya cukup 21 hari.

Pengusaha Bengkayang, Edison alias Akong yang hadir di Desa Pisak Dusun Segonde, membentuk Kelompok Tani Berusaha Membangun Diri Mandiri. Dia menjadi donatur penyumbang bantuan dana pembelian bibit, pupuk dan perawatan tanaman jagung.

“Untuk kelompok tani bergerak di bidang perkebunan jagung hibrida, saya mencoba bantu dengan memberikan bantuan pinjaman modal kepada anggota berupa bibit, pupuk serta pengawasan dan PPL,” kata Edison. Setelah panen pada 92 hari ke depan, maka pinjaman dipotong langsung dan bagi hasil.

Edison membantu dua ton Pupuk Petroganik, 80 Zak Ponska, bibit jagung hibrida sebanyak 500 kilogram. Nantinya akan terus disuplai sesuai dengan kebutuhan dan luasnya lahan warga yang ditanami jangung.

Warga Dusun Segonde, Paulus Sukirto, 33, menyambut baik niat baik Edison membantu masyarakat memberikan pinjaman bantuan pupuk, bibit dan alat-alat perkebunan jagung.

Senada juga disampaikan Enggeng, 70, tokoh masyarakat Desa Pisak Dusun Segonde. “Kami bersyukur, karena dimasa yang sulit, ada poengusaha yang bersedia memberikan pinjaman lunak, dengan bentuk kerjasama. Pinjaman dibayar setelah hasil panen jagung. Artinya dalam waktu 95 hari ke depan setelah panen, baru dikembalikan atau dibayar. Jelas ini sangat membantu,” kata Enggeng.

Kepala Desa Pisak, Thomas Susanto mengatakan, dari Empat Dusun di Desa Pisak, yaitu Dusun Segonde, Segiring, Dawar dan Semadum, semuanya berpotensi untuk produksi jagung. “Lahan di wilayah Segonde sangat subur,” katanya.

Dari jumlah penduduk Desa Pisak sebanyak 867 kepala keluarga (KK), jika 50 persen saja bercocok tanam jagung, maka dipastikan Bengkayang umumnya dan Kecamatan Tujuh Belas khususnya, akan maju dan berkembang dengan hasil jagungnya.

“Saya selaku Kepala Desa Pisak bersyukur, karena ada pengusaha Bengkayang yang bersedia membantu masyarakat dalam memberikan bantuan, terutama untuk menghasilkan jagung,” jelas Thomas.

Ketua Kelompok Tani Desa Pisak, Nikolaus Nito, mengatakan, pengusaha membantu warganya patut mendapat dukungan Pemkab Bengkayang. Khususnya dalam upaya menghasilkan produksi jagung. “Masyarakat Desa Pisak diberikan bantuan modal usaha, ini harus didukung dan masyarakat Desa Pisak juga,” ujar Nito. (kur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here