Prancis Tutup Perbatasan Inilah Skenario Teror Paris

132

eQuator – Aksi teror di Paris—Prancis Jumat (13/11) malam waktu setempat langsung mengguncang dunia. Aksi serentak di enam lokasi itu telah mengakibatkan tak kurang 120 orang tewas.

Bahkan delapan pelaku tewas dalam aksi teror itu. Di antara mereka ada yang mengenakan sabuk berisi bom dan meledakkan diri. Pertanyaan pun muncul, siapakah pelakunya? Sejauh ini belum ada kelompok yang bisa dipastikan menjadi pelaku penyerangan. Namun, spekulasi mulai beredar. Ada skenario untuk menebak-tebak pelaku dalam aksi keji itu.

Skenario pertama dari Negara Islam Irak Suriah (ISIS). Kelompok radikal pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi itu bisa saja mengirim tim masuk ke Prancis untuk melakukan aksi teror. Atau, bisa juga merekrut warga di negara pemilik Menara Eiffel itu untuk melakukan serangan.

Sebagaimana diberitakan Guardian, ada 520 warga negara Prancis yang bergabung dengan ISIS di Syria. Dari angka itu, 250 di antaranya disebut-sebut sudah kembali ke Prancis.

Skenario kedua yang juga dicurigai, adanya keterlibatan Alqaeda yang bekerjasama dengan ISIS. Kecurigaan itu merujuk pada penyerangan ke kantor majalah Charlie Hebdo di Paris pada Januari tahun ini.

Pelakunya adalah Cherif Kouachi yang pernah berkunjung ke Yaman pada 2011. Otoritas Prancis mencatat Kouachi terlibat kontak dengan Alqaeda di Yaman.

Sedangkan skenario ketiga, murni dilakukan oleh warga Prancis. Saat ini, negeri yang dipimpin Francois Holande itu ibarat menjadi kolam yang dipenuhi anak-anak muda muslim yang erasing, marah dan frustasi.

Sebagian dari mereka memang ingin pergi untuk bertempur di Suriah. Namun, sejauh ini mereka nyaris tak pernah beraksi di negeri sendiri.

Tutup Perbatasan

Teror Paris memaksa Prancis melipatgandakan keamanan. Sabtu (14/11) pemerintahan Presiden Francois Hollande menutup seluruh perbatasannya. Sejumlah besar pos pemeriksaan darurat didirikan di titik-titik strategis. Kendati demikian, pengetatan keamanan itu tidak mengganggu rute keluar masuk Prancis.

Total 11 bandara yang ada di Kota Paris tetap buka. Penerbangan dari dan ke ibu kota Negeri Menara Eiffel itu juga masih normal. Tapi, memang ada beberapa maskapai yang memilih untuk menghentikan operasional penerbangan di Paris untuk sementara waktu. Salah satunya adalah American Airlines. Maskapai Amerika Serikat (AS) itu membekukan seluruh penerbangannya ke Paris.

Sedangkan, maskapai-maskapai yang lain sama sekali tidak mengubah jadwal penerbangan. Misalnya, United, Delta, Air France, KLM, atau Royal Dutch Airlines. Rusia pun menegaskan bahwa jadwal penerbangan ke Paris tidak berubah. “Rosaviatsiya tidak berpikiran ke sana (membekukan penerbangan),” terang jubir operator penerbangan Rusia tersebut.

Alih-alih menyerah pada teroris dan menghentikan penerbangan ke Paris, Kremlin menegaskan bahwa Rusia justru akan meningkatkan pengamanan. Tidak hanya di bandara, melainkan juga di pesawat-pesawat yang hendak menerbangkan warga Rusia ke mancanegara. “Kami bekerja sama dengan maskapai, bandara dan otoritas penerbangan untuk memberikan jaminan keamanan,” terangnya.

Dalam edara resminya, Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan bahwa teror tidak mengganggu aktivitas perhubungan Prancis. “Seluruh bandara di Paris tetap beroperasi normal. Tapi, sudah pasti keamanannya dilipatgandakan,” terang Kementerian Luar Negeri Prancis. Selain bandara, sistem transportasi darat di Paris juga masih tetap normal.

Rute kereta api yang menghubungkan ibu kota dengan kota-kota lain di Prancis dan belahan Eropa lainnya tetap normal. Termasuk, eurostar yang menjadi sarana transportasi favorit warga Prancis dan Inggris. Sempat terganggu pada Jumat malam lalu, eurostar sudah beroperasi normal kemarin.

Sementara itu, selain transportasi, sektor perekonomian lain yang langsung menanggung akibatnya adalah pariwisata. Kemarin, pemerintah pusat memerintahkan seluruh tempat hiburan atau obyek wisata tutup. Demikian juga halnya dengan sekolah-sekolah, pasar, museum dan sejumlah kantor. Itu berkaitan dengan hari berkabung nasional Prancis yang bakal berlangsung selama tiga hari.

“Hari ini, seluruh fasilitas (umum) di kota ini tutup,” terang Balai Kota Paris pada laman depan situs resminya kemarin. Kolam renang, lapangan tenis, pasar buah dan gedung-gedung olahraga juga tidak beroperasi. Nyaris seluruh kantor lembaga pemerintah juga tutup kemarin. Satu-satunya kantor yang buka adalah catatan sipil. Sebab, mereka tetap harus mencatat pernikahan atau kelahiran dan kematian.

Terpisah, Kementerian Olahraga Prancis juga mengimbau agar federasi olahraga membatalkan seluruh agendanya akhir pekan ini. Di antaranya pertandingan rugby untuk memperebutkan Piala Juara Eropa. Selain agenda olahraga, acara musik juga banyak yang batal. Termasuk, konser grup musik rock asal Irlandia, U2.

Indonesia Kutuk Teror Paris

Serangan teror besar-besaran di Prancis membuat pemerintah Indonesia bersimpati. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyempatkan untuk menyampaikan bela sungkawa dan duka atas nama seluruh rakyat Indonesia untuk keluarga korban, pemerintah dan rakyat Perancis. “Kami mengutuk keras serangan teror di Perancis,” ujarnya dalam jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Sabtu (14/11).

Meski dibuat sedih dengan peristiwa itu, Jokowi tetap memilih untuk bertolak menuju Antalya, Turki, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tersebut. Dia juga berjanji akan mengajak semua negara untuk mencari solusi yang tepat. Menurutnya, terorisme dalam bentuk apapun tidak dapat ditolerir. “Kami mengajak dunia internasional untuk memerangi terorisme,” katanya.

Dalam KTT G20, Presiden Jokowi didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro. Serangan teror juga tidak mengganggu rencana keberangkatan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ke KTT APEC di Manila, Filipina, pada 17 – 20 November nanti.

Di tempat sama, Wakil Presiden JK juga mengutuk keras serangan teror di Paris. Dia menyebut, Indonesia yang juga pernah beberapa kali mengalami serangan teror, memberikan dukungan moril bagi seluruh rakyat Perancis. “Selain itu, tentu saja di dalam negeri kita harus perketat pengamanan,” ucapnya.

Menurut JK, hingga kemarin pemerintah Indonesia juga belum mendapat informasi seputar siapa pelaku di balik teror Paris. Namun demikian, pemerintah berjanji untuk melakukan langkah antisipatif, termasuk dengan mengoptimalkan kemampuan intelijen untuk mendeteksi gerakan teroris. “Yang juga penting, jangan sampai radikalisme masuk dalam pendidikan kita,” ujarnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin turut bersuara atas aksi terror yang terjadi. Lukman menegaskan, tindakan kekerasan yang terjadi di Paris tidak bisa dibenarkan, apapun motif dan alasannya.

“Tindak kekerasan yang terjadi di Paris yang mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa dan luka-luka, sama sekali tidak bisa dibenarkan. Kita semua harus menentang tindakan yang menista martabat kemanusiaan seperti itu,” tuturnya.

Selain itu, Lukman berpesan agar semua pihak bisa menahan diri untuk tidak mengaitkan tindakan kekerasan itu dengan agama tertentu. Karena, menurutnya, tak ada satupun agama yang mentolerir praktik pemaksaan kehendak dengan kekerasan.

Atas kejadian itu, Menag berharap tokoh-tokoh, pemuka, dan umat beragama tidak mudah terprovokasi dengan saling menyalahkan yang justru akan memperkeruh keadaan. “Karena tak ada urgensi dan relevansinya (mengaitkan dengan agama, red), serta tak perlu sama sekali adanya aksi balasan dengan cara-cara kekerasan yang mengatasnamakan agama,” ungkapnya.

Lukman berharap, Pemerintah Perancis dapat segera mengusut peristiwa tersebut. Sehingga, pelaku dan pihak-pihak dibalik kejadian itu bisa segera diproses secara hukum.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti yang ikut mengantar keberangkatan Presiden Jokowi, mengakui jika analisis sementara dari dunia internasional mengarah pada dugaan keterlibatan kelompok ISIS dalam serangan di Paris. “Kita terus koordinasi apakah memang ada kaitan dengan ISIS,” katanya.

Menindaklanjuti permintaan untuk memperketat pengamanan di dalam negeri, Badrodin mengatakan jika salah satu prioritas peningkatan keamanan adalah kantor-kantor Kedutaan Besar negara sahabat, baik pengamanan tertutup maupun terbuka. “Khusus untuk pengamanan luar, akan kita tambah (pasukan),” ucapnya.

Hal tersebut sudah diterapkan di Kedutaan Perancis di Jalan Thamrin, Jakarta. Sekitar empat polisi dari unit Direktorat Pengamanan Objek Vital (Dit Pam Obvit) berjaga. Duta Besar Prancis untuk Indonesia Corinne De Breuze pun mengapresiasi bantuan dari pemerintah Indonesia dalam pernyataan singkatnya kemarin.

“Kami berterimakasih terhadap pesan bela sungkawa dari Presiden Joko Widodo dan jajaran menteri. Kami juga sangat menghargai bantuan pengamanan dari kepolisian,” terangnya.

Sesuai dengan arahan pemerintan Perancis, lanjut dia, baik Kedutaan Perancis di Indonesia dan institusi terkait bakal tutup selama tiga hari kedepan. Hal tersebut untuk menghargai status berkabung nasional. “Saat ini pemerintah kami telah menetapkan state of emergency dan akan menutup perbatasan,” terangnya.

Tak hanya simpati yang datang dari publik Indonesia, namun keresahan dari keluarga warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal atau sedang berkunjung di Paris. Pejabat fungsi konsuler KBRI Paris Yosep Tutu mengatakan, sejak peristiwa kemarin KBRI memang langsung membuka hotline untuk mengumpulkan laporan-laporan terkait.

Hotline tersebut antara lain +33621122109 untuk KBRI Paris, +33618221289 untuk KJRI Marseille, dan +6281289009045 untuk Kementerian Luar Negeri. Sampai saat ini, pihaknya belum menemukan adanya laporan terkait WNI yang terdampak serangan tersebut.

“Saat Jumat kemarin, memang situasinya agak mencekam dan banyak telpon dari orang tua karena kebanyakan WNI disini adalah pelajar. Namun, hari ini (14/11), sebagian besar keluarga saudah bisa menghubungi WNI disini. Kami pun masih mencoba memastikan keselamatan beberapa orang,” terangnya.

Dia memastikan, ketegangan di lingkup paris pada Sabtu pagi sudah menurun. Hal tersebut dikarenakan penjagaan yang lebih ketat dan tidak ada serangan susulan. Namun, keresahan masyarakat masih belum pudar. Hal tersebut karena serangan tersebut terjadi meskipun penjagaan otoritas Perancis sudah masuk kategori siaga satu.

“Sejak insiden penembakan staff majalah Charlie Hebdo Januari kemarin pemerintah sudah menetapkan status siaga satu. Sampai sekarang, status tersebut sama sekali belum dicabut. Namun, penjagaan tersebut akhirnya ditingkatkan lagi karena insiden ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, pihak KBRI Paris pun sudah memberikan himbauan untuk WNI disana. Sesuai anjuran pemerintah Perancis, warga diminta tak tinggalkan rumah jika memang tak ada keperluan penting. WNI pun dianjurkan mengabari kerabat dan teman jika ingin keluar.

“Pihak kepolisian pun sudah memberikan perimeter keamanan. Saya harap WNI bisa patuhi anjuran ini. Apalagi, beberapa institusi seperti sekolah dan universitas juga diliburkan selama tiga hari kedepan,” terangnya.

 Terkait travel warning, Yosep Tutu mengaku masih belum menemukan instruksi untuk memberlakukan itu. Meski pemerintah sudah menetapkan state of emergency dan mengklaim menutup perbatasan, dia mengaku bahwa perbatasan masih belum terutup. Hanya saja, penjagaan disana diperketat berkali-kali lipat.

“Untuk travel warning, itu sudah kewenangan dari pemerintah pusat (Kementerian Luar Negeri),” imbuhnya.

Pada kesempatan berbeda, pengamat hubungan luar negeri Hikmahanto Juwana menegaskan, pemerintah Indonesia harus mengambil peran aktif usai insiden ini. Hal tersebut bisa dilakukan dengan memanfaatkan agenda pertemuan kepala negara yang memang banyak sepanjang akhir tahun ini. Mulai dari G20 di Turki, KTT APEC di Fillipina, sampai KTT ASEAN di Malaysia.

“Meski ini pertemuan ekonomi, isu teror di Paris pasti akan muncul. Karena itu pemerintah Indonesia seharusna mengusulkan agar dunia bisa perhatikan soal penganggulangan terorsime dan label islam. Dunia harus mencari solusi dan mengubah pola pikir bahwa terorisme bersumber dari Islam atau Timur Tengah,” ungkapnya. (Jawa Pos/JPG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here