Politik itu Seni Merebut Kekuasaan

20
Bupati Landak, Karolin Margret Natasa membuka Sosialisasi Pendidikan Politik bagi Generasi Muda
SOSIALISASI. Bupati Landak, Karolin Margret Natasa membuka Sosialisasi Pendidikan Politik bagi Generasi Muda, di Aula Utama Kantor Bupati Landak, Rabu (27/9). Antonius-RK

eQuator.co.idNgabang. Seringkali orang-orang menyebut “politik itu kotor”. Anggapan ini muncul karena politik merupakan seni merebut kekuasaan, baik secara konstitusional maupun nonkonstitusional.

“Secara konstitusional itu berarti mengikuti aturan. Sedangkan nonkonstitusional di antaranya melalui kudeta dan lainnya,” kata dr Karolin Margret Natasa, Bupati Landak, ketika membuka Sosialisasi Pendidikan Politik bagi Generasi Muda, di Aula Utama Kantor Bupati Landak, Rabu (27/9).

Bagi kalangan politikus, pernyataan Karolin tersebut, merupakan sesuatu yang lumrah. Tetapi jelas saja membuat sejumlah siswa SMA sederajat di Ngabang yang mengikuti sosialisasi tersebut, nampak terbengong-bengong.

Wajar saja para siswa tersebut nampak bengong. Lantaran selama di bangku sekolah, mereka hanya mendapatkan pemahaman, bahwa politik itu berasal dari kata “politika” (Bahasa Yunani) yang berarti “berkaitan dengan negara”.

Penjelasan yang diterima di bangku sekolah itu tentunya tidak terlalu menarik bagi para siswa. Apalagi bagi mereka yang selama ini cenderung antipati terhadap perpolitikan, karena mereka beranggapan politik itu semata berkaitan dengan Partai Politik (Parpol) dan Pemilihan Umum (Pemilu).

Sebagai pemilih pemula, tentunya para siswa tersebut sangat tertarik dengan pernyataan Karolin terkait politik yang terdiri atas opsi secara ‘baik’ atau ‘buruk’ itu.

“Tinggal bagaimana kita di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu mengaturnya sedemikian rupa. Sehingga segala sesuatunya itu konstitusional untuk kepentingan bersama,” ucap Karolin.

Setelah sukses menarik perhatian para siswa tersebut, apalagi sebelum memberikan arahan dibarengi kuis seputar politik berhadiah uang tunai, Karolin pun mengajak para pemilih pemula tersebut untuk berpartisipasi aktif dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 maupun Pemilu lainnya.

“Sebab, sistim politik kita memang memerlukan partisipasi seluruh warga negara untuk menciptakan pemimpin yang semakin baik dari hari ke hari, untuk masyarakat yang semakin maju di masa datang,” jelas Karolin.

Dalam kesempatan tersebut, Karolin juga mengungkapkan, pada Pilkada Landak lalu, terdaftar sekitar 11 Ribu pemilih pemula di Bumi Intan ini. Tingkat partisipasinya diharapkan lebih baik lagi pada Pilgub Kalbar 2018. “Pemilih pemilih di Landak untuk Pilgub mendatang masih dalam proses pendataan,” katanya.

Penjelasan seputar politik dan partisipasi pemilih yang disampaikan Karolin ini memang sejalan dengan tujuan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kebupaten Landak untuk menggelar Sosialiasi Pendidika Pendidik, yakni untuk meningkatkan kesadaran politik generasi muda.

Di tempat yang sama, Anggota DPRD Landak, Cahyatanus yang menjadi narasumber dalam sosialisasi tersebut, menyampaikan materi mengenai perspektif pemula dalam Pemilu. “Kita memmotivasi generasi muda, khususnya pemilih pemula untuk dapat menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu,” ungkapnya.

Ia mengakui, potensi pemilih pemula sangat besar. Apalagi mereka memiliki karakteristik tersendiri. “Mereka masih memiliki daya ingin tahu yang tinggi, rasional dan tidak pragmatis. Artinya, mereka benar-benar ingin memilih dengan tujuan orang yang dipilih itu benar-benar memimpin daerahnya,” jelas Cahyatanus.

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kabupaten Landak, Benipiator mengatakan, sosialisasi ini meningkatkan pemahaman generasi muda tentang politik guna menghadapi Pilkada 2018. “Selain untuk meningkatkan kesadaran dalam politik, juga untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang etika politik,” katanya.

Laporan: Antonius

Editor: Mordiadi