Pilkada, Percetakan Lokal Sepi Orderan

Kontras dengan Misi Visi Paslon, Timses Malah Pesan ke Jawa

33
KERJAKAN PESANAN. Owner Deepositive, Ilham (kaos biru) dan karyawannya mengerjakan pesanan pelanggan di Jalan Putri Candramidi, Senin (16/4). Nova Sari-RK
KERJAKAN PESANAN. Owner Deepositive, Ilham (kaos biru) dan karyawannya mengerjakan pesanan pelanggan di Jalan Putri Candramidi, Senin (16/4). Nova Sari-RK

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Meski momen Pilkada serentak, tidak meningkatkan usaha percetakan. Selain usaha percetakan banyak bermunculan, persaingan harga turut menjadi penyebabnya.

Semakin banyaknya jasa percetakan yang mulai bermunculan, membuat beberapa pelaku usaha jasa percetakan mulai meredup,.

Owner Percetakan Deepositive, Ilham mengatakan, dalam momen Pilkada kali ini, usahanya sepi.

“Tahun ini tidak banyak pesanan, bahkan saya hanya dapat pesanan kaos, kalau untuk cetak lain-lain belum ada orderan,” ujarnya ketika ditemui di tempat usahanya Jalan Putri Candramidi, Pontianak, Senin (16/4).

Menurut pria 32 tahun ini, sepinya pelanggan kali ini lantaran sudah semakin banyaknya jasa percetakan. Bahkan harga yang ditawarkan jauh lebih murah, khsususnya di pasar online. Sehingga tak sedikit bagi Timses di Pilkada lebih memilih memesan di luar daerah.

“Rata-rata Timses sudah pintar membanding-bandingkan dengan harga online. Di samping itu, mereka juga lebih memilih produk dari Jawa ketimbang buatan lokal kita,” katanya.

Padahal jika dilihat dari visi misi dari pasangan calon kepala daerah sendiri, hal tersebut sangat bertolak belakang. Karena seharusnya lebih mengutamakan produk atau hasil karya anak daerah sendiri. “Seharusnya memberdayakan usaha lokal, utamanya industri kreatif yang menjadi satu diantara indikator majunya sebuah daerah/bangsa dapat dilihat dari perkembangan industri kreatifnya, maka dari itu demi kemajuan bersama gunakanlah produk dari pengusaha lokal,” terangnya.

Sejauh ini kata Ilham, yang membedakan dari produk lokal dan luar hanya dari segi harga. Namun apabila dilihat dari segi kualitas, jasa percetakan Kota Pontianak tidak kalah dengan hasil produk luar.

“Kendalanya kami hanya tidak ada kesempatan, karena jarang kami dapatkan. Kemudian bahan baku, teknologi yang masih kurang,” sebutnya.

Dia berharap, masa kampanye Pilkada ini dapat dijadikan kesempatan bagi pelaku usaha lokal lebih berkembang.

“Bagaimana mau majukan daerah sendiri, untuk langkah awal kampanye saja belum memberikan kesempatan bagi pengusaha lokal, kalau mahal sedikit tidak apa-apa, toh ini juga untuk anak-anak daerah juga,” tukas Ilham.

Sepi pesanan juga dirasakan oleh Maya. Ibu beranak dua yang membuka usaha jasa percetakan dengan berbagai jenis, baliho, kartu nama, kaos, serta stiker. Berbeda dari tahun sebelumnya ibu rumah tangga 28 tahun ini merasakan pendapatannya sedikit merosot di momen Pilkada.

“Tadinya saya nggak sabaran, mau pPlkada nih pasti udah banjir aja orderan, tapi sampai sekarang belum ada,” katanya.

Senada disampaikan Maya, sepinya usaha jasa percetakan lantaran semakin banyaknya masyarakat yang membuka usaha yang sama. Terlebih yang menawarkan jasa lewat online, berani banting harga.

“Jadi kita jatuhnya di situ, kalau kita juga ikut banting harga kita nggak dapat untung. Nah, dari sinilah kita mulai mencari solusi apa lagi yang bisa dikembangkan,” pungkasnya.

 

Laporan: Nova Sari

Editor: Arman Hairiadi