Petani Tak Berani Tanam Padi

Ketersediaan Air Minim

68
MAU TAK MAU. Meski kekurangan air di lahannya, salah seorang petani berusaha tetap menanam benih padi di sawahnya, Desa Sukamaju, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Senin (4/1). Jaidi Chandra

eQuator – Ketapang-RK. Hingga saat ini masih banyak petani yang belum berani menanam padi lantaran curah hujan yang tak menentu. Ketersediaan air di lahan-lahan petani seperti di Desa Sukamaju, Kecamatan Muara Pawan Ketapang, masih minim.

Kalapun terpaksa menanam, petani harus mengeluarkan biaya lebih untuk menyediakan pompa air. Biaya produksi pun bertambah, jika nekat menanam sekarang. “Curah hujan masih belum menentu,” kata Yudo 55, petani di Desa Sukamaju Kecamatan Muara Pawan, Senin (4/1).

Padahal kata dia, seharusnya di Januari sudah memasuki musim penghujan. Ia mengaku terpaksa menggunakan pompa air untuk mengairi sawahnya. “Sehari untuk mengisi solar di pompa air mau 5 liter, harganya 10 ribu perliter sebab beli eceran. Mau beli di SPBU jauh, jadi untuk nanam padi kita harus mengeluarkan ongkos tambahan buat nyedot air ke lahan, itupun tidak sampai satu hektar,” ungkapnya.

Sementara Kepala Desa Sukamaju, Kecamatan Muara Pawan, Syaiful Bahri membenarkan, saat ini para petani di desanya terkendala ketersedian air. Hal ini diperparah dengan terlambatnya musim tanam akibat kemarau panjang beberapa bulan terakhir.

“Kendala kita irigasi dan kurangnya pintu air. Jadi ketika air masuk langsung cepat keluar. Apalagi sekarang curah hujan tak menentu jadi petani memang kekurangan ketersedian air untuk menanam,” katanya.

Padahal, ia mengungkapkan, lahan pertanian di Desa Sukamaju sangat besar dan sangat berpotensi, namun kendala yang kerap dihadapi persoalan ketersedian air. Ia menjelaskan di desanya lahan yang sudah sering ditaman atau Existing sekitar 1.200 hektar sedangkan lahan baru dibuka sebanyak 1.400 hektar.

“Bantuan pemerintah ada, seperti sumur pantek, hanya saja sampai saat ini baru 4 buah sumur pantek yang kita dapat, sedangkan lahan 2.600 hektar lahan, jadi belum bisa menangani secara keseluruhan, karena persoalan ketersedian air ini,” akunya.

Selain itu, bantuan mesin pompa menyedot air juga ada, tetapi belum memadai. Ditambah biaya operasional pengoperasian mesin tersebut juga cukup besar. Ia menilai kemungkinan besar hasil produksi para petani di desanya berkurang, lantaran selain kendala air, juga karena keterlambatan tanam pertama, akibat musim kemarau beberapa waktu lalu.

“Kemungkinan besar produksi di Desa Sukamaju berkurang dari tahun sebelumnya,” ujarnya.

Untuk itu, ia berharap kedepan di desanya dapat dibangun waduk penampuangan air, sehingga persoalan ketersedian air yang dihadapi para petani dapat teratasi dan petani dapat bertaman sesuai jadwal tanpa menunggu cuaca.

“Sudah kita usulkan ke Bappeda untuk pembangunan waduk, katanya sudah masuk program nasional, tapi belum ada realisasinya. Makanya kita berharap pembangunan waduk dapat terealisasi di Desa kita, karena potensi pertanian didesa kita besar,” pungkasnya.

 

Reporter: Jaidi Chandra

Editor: Kiram Akbar