Perempuan Harus Punya Keterampilan dan Mandiri

Lia Arifin/Pengusaha Salon

435
Lia Setia Ningsih Arifin

Lia Arifin, perempuan kelahiran Ciamis, Jawa Barat, 5 Agustus 1974 silam ini fokus membangun bisnis di bidang salon rambut dan kecantikan.

Meski lahir sebagai perempuan, namun sejak kecil dirinya dididik oleh orangtua untuk bisa mandiri dan jangan bergantung apalagi sampai memberatkan orang lain.

Keinginan untuk membuka usaha pun sudah ditekadkannya sejak masih duduk di bangku SD. Sehingga wajar saja setelah tamat SMA, pemilik LIA Salon ini lebih memilih kursus salon ketimbang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Baginya, kala itu tidak sedikit kawan-kawan yang mengantongi ijazah sarjana justru menganggur. Karena kebanyakan hanya berpatokan pada ijazah mereka.

Bagaimana profil usaha perempuan yang mempunyai nama lengkap Lia Setia Ningsih Arifin ini. Berikut wawancara selengkapnya bersama Rakyat Kalbar;

+Bisa Anda jelaskan seputar usaha salon Anda dan sejak kapan memulainya?

-Lia Salon didirikan sejak tahun 2000. Saat ini ada dua lokasi, satu di Pontianak di Jalan KH Ahmad Dahlan, samping Gang Margosari Pontianak. Satunya lagi di Jakarta di Pasar Baru Metro Plaza, lantai dua.

Saat ini saya memiliki karyawan sebanyak 16 orang, di Pontianak ada 10 orang, lebih sebenarnya hanya yang selebihnya freelance. Untuk di Jakarta ada 6 orang. Kami buka mulai pukul 10.00 dan pukul 19.00.

+Secara umum, apa motivasi Anda terjun ke dunia usaha. Apa atau siapa yang memotivasi Anda?

-Saya dari dulu memang punya niat usaha. Kebetulan, saya ini kalau sekolah kurang mau fokus belajar. Dari kecil orangtua saya mendidik saya bahwa perempuan itu harus punya keterampilan dan harus mandiri. Sampai akhirnya, saya disuruh kursus salon sama orangtua, tapi saya tidak mau waktu itu. Tapi karena disuruh terus, saya akhirnya mau.

+Setelah itu, bagaimana akhirnya Anda mau dan bisa membuka salon sendiri seperti sekarang? 

-Setelah disuruh orangtua masuk kursus, ya sudah saya jalani saja. Saya nikmati saja, lama kelamaan saya belajar, saya jadi suka. Kemudian, saya tahu kalau bakat saya di bidang ini. Setelah saya mengerti dan tahu keahlian saya di bidang salon, saya membuka salon pada tahun 2000. Jadi ini memang usaha pertama saya.

Untuk melengkapi kemampuan, saya menjalani pendidikan kursus di Jakarta. Diantaranya, di Martha Tilaar dan Peter F Serang Academy. Selebihnya, saya belajar langsung dari pengalaman dan terjun langsung menangani konsumen.

+Jasa apa-apa saja yang ditawarkan Lia Salon kepada konsumen?

-Kalau jasa ya seperti menggunting, kerimbat dan sebagainya. Di samping itu, kami juga menerima layanan untuk weeding dan lainnya. Biasanya konsumen langsung datang ke salon kami atau menghubungi kami melalui HP: 0821-2494-1737 dan kami yang datang ke tempat yang bersangkutan.

+Untuk acara-acara khusus, seperti apa varian tarif yang dikenakan pada konsumen?

-Kalau kita sangat variatif ya, karena banyak pikihan juga. Tergantung seperti apa permintaannya, disesuaikan tingkat kesulitannya dan sebagainya serta disesuaikan dengan budget mereka, karena kita ada beberapa variasi kelas.

+Bagaimana pandangan Anda mengenai prospek atau peluang ekonomi dari usaha yang Anda jalankan ini?

-Kebetulan salon adalah bidang saya dan saya pikir salon adalah usaha yang menguntungkan. Salon adalah usaha yang sangat prospek dan sangat berkembang pada saat ini. Karena saya melihat, salon ini juga menjadi kebutuhan masyarakat saat ini. Walaupun ekonomi lagi turun, orang tetap akan datang gunting rambut.

+Dalam menggeluti usaha ini, apakah Anda pernah gagal?

-Kalau gagal tentu saja pernah saya alami. Sebenarnya saya sudah membuka empat salon. Selain dua ini, saya juga pernah buka di Harco, di Mall Pasar Baru Square, namun karena tidak ada yang handle akhirnya tutup.

Saat itu, saya kurang melihat pasar dan modal yang terbatas. Tapi saya tetap semangat dan selalu optimis.

+Apa kira-kira hambatannya menjalani usaha ini. Tadi Anda juga menyinggung soal modal. Bukankah saat ini Perbankan cukup membuka ruang dengan bunga relatif rendah?

-Hambatan yang pertama mungkin masalah skill karyawan, karena kemampuan karyawan yang menentukan salon kita bisa bersaing dengan salon lainnya.

Soal modal. Menurut saya, saat ini sebaiknya yang ada saja saya upayakan. Ekonomi lagi sulit, jangan berhutanglah, nanti malah tambah sulit.

+Selain salon, apakah Anda punya aktifitas lainnya?

-Tidak ada, cuman dulu saya pernah menjadi guru, mengajar di bidang kecantikan di Jakarta, di Peter F Serang Academy Salon di Johnny Andrean.

+Setelah ini, apa rencana Anda selanjutnya?

-Saya sebenarnya punya banyak rencana untuk membuka usaha lain, tapi saya juga mengukur kemampuan modal. Kalau pun ada modal, saya akan membuka cabang baru.

Reporter: Fikri Akbar

Redaktur: Andry Soe