Penderita ISPA di Puskesmas Lingga Naik 50 Persen

ISPU Pontianak Normal, Kubu Raya Sedang

15
GANGGUAN PERNAFASAN. Pasien ISPA sedang menjalani perawatan di Puskesmas Rasau Jaya, Kubu Raya, Rabu (2/8). Syamsul Arifin/RK.

eQuator.co.id – Kubu Raya-RK. Kabut asap yang pekat mulai menelan korban. Beberapa Puskesmas Kabupaten Kubu Raya butuh bantuan dari Dinas Kesehatan setempat, terutama dalam menangani penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

“Kalau di Puskesmas kami di Rasau Jaya, penderita ISPA sebanyak 8-10 pasien perhari,” ungkap Kepala Puskesmas Rasau Jaya, Wulyono, Rabu (2/8) siang.

Ia menambahkan, pihaknya butuh perhatian dari Dinas Kesehatan Kubu Raya, “Salah satunya masker, itu untuk dibagikan ke masyarakat, terutama warga Desa Rasau Jaya,” ucapnya.

Meski begitu, kata dia, tidak terjadi lonjakan penderita ISPA di Rasau. Hingga kini belum ada yang menjalani rawat inap, hanya diberi obat ISPA.

“Tapi ada yang lama (dirawat), terutama yang gangguan pernapasan (asma), itupun tidak sampai nginap. Kami harap kalau warga keluar rumah agar menggunakan masker,” pinta Wulyono.

Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang. Juni 2017, penderita ISPA di sana mencapai sekitar 174 orang. Laki-laki 92 orang, perempuan 82 orang. Kabut asap yang memburuk menambah jumlah penderita sebulan kemudian. Pada Juli 2017 mencapai 310 korban asap kabut, laki-laki 169 orang dan perempuan sebanyak 141 orang.

“Naik hampir 50 persen, kami menggandeng beberapa sekolah, tokoh agama, untuk melakukan sosialisasi, terutama untuk pemakaian masker,” ungkap Kepala Puskesmas Desa Lingga, dr. William Daniel Napitulu.

Ia berharap upaya itu bisa menurunkan penderita ISPA. “Mudah-mudahan, dengan kerja keras kami, masyarakat bisa mementingkan kesehatan, terutama menggunakan alat (masker) saat berpergian,” tuturnya.

Dikonfirmasi, Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Berli Hamdani, meminta masyarakat tidak sering keluar rumah sementara ini. “Karena kabut asap ini akan mengganggu kesehatan. Jika ingin keluar rumah, diharapkan agar menggunakan masker, supaya kesehatan tetap terjaga,” pintanya.

Jika sudah menderita ISPA, segeralah ke Puskesmas serta Pustu terdekat. ”Kami juga meminta semua Puskesmas, terutama di Kubu Raya, agar cepat menangani penderita ISPA. Kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, segera dirujuk ke tempat yang lebih lengkap peralatannya,” tegas Berli.

Lain di Kubu Raya, lain di daerah tetangganya, Kota Pontianak. Usai diguyur hujan, kualitas udara di Kota Pontianak kembali normal. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Pontianak, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dalam kategori baik.

“ISPU Kota Pontianak pada Rabu 2 Agustus 2017 menyentuh angka 0-50. Udara kita sudah sehat,” tutur Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Sri Sujiarti kepada Rakyat Kalbar, Rabu (2/8).

Beberapa hari lalu, kualitas udara di Kota Pontianak dinyatakan tidak sehat. Namun, usai hujan memerciki langit ibu kota Kalbar, kondisi udara membaik.

“Pencermaran udara saat ini berada di level baik,” jelasnya.

Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Pontianak punya cara untuk mengukur kualitas udara. Yakni dengan Air Quality Monitoring Sistem (AQMS) yang dipasang di kawasan Pontianak Tenggara.

“Alat ini bisa mengukur hingga radius lima kilometer,” jelas Sujiarti.

Masyarakat Kota Pontianak juga bisa melihat secara langsung level kualitas udara. Pemerintah memasang papan display di kawasan Pontianak Kota. Tepatnya di perempatan Jalan Jenderal Ahmad Yani dan Jalan K.H Wahid Hasyim.

“Display outdoor itu bisa menunjukan ISPU,” terangnya.

Ia membenarkan, meski Pontianak sudah membaik, tidak bagi Kabupaten Kubu Raya. Berdasarkan hasil pemantauan BMKG setempat, ISPU masih diangka 501-100. Wilayah Kubu Raya masih dalam kondisi sedang.

Menurut Sujiarti, semakin banyak titik api, maka kualitas udara makin jelek. “Makanya kita selalu berkordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah  untuk mengetahui jumlah titik api,” jelasnya.

Meski sudah dalam keadaan baik, bukan tidak mungkin kabut asap melanda langit Kota Khatulistiwa. Oleh sebab itu, Sujiarti menyarankan masyarakat melihat kondisi terkini supaya bisa mengantisipasi.

“Warga bisa mengakses Pontianak Interaktif Center. Kami memberikan informasi terkini,” ujarnya.

Dinas Lingkungan Hidup juga akan terus berkordinasi dengan Dinas Kesehatan Pemkot Pontianak. “Kalau keadaan tiba-tiba tidak sehat, kita langsung sampaikan ke Dinkes,” terang Sujiarti. ”Waktu keadaan tidak sehat kemarin, kami sudah mendistribusikan masker ke masyarakat,” imbuhnya.

Ada empat titik pembagian masker. Yakni di persimpangan Ahmad Yani (Kota Baru), Bundaran Untan, Patimura-Gajah Mada dan Imam Bonjol arah Jembatan Kapuas. “1500 masker yang kami bagikan. Karena keadaan sudah membaik, kami berhentikan pembagiannya. Tapi kami selalui siaga,” demikian Sri Sujiarti.

Di sisi lain, kualitas udara di Kota Pontianak yang sempat memburuk beberapa hari lalu tidak menghentikan aktivitas peserta didik di sekolah-sekolah.

“Belum ada instruksi (libur) dari Wali Kota,” ucap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Kota Pontianak, Mulyadi, kepada Rakyat Kalbar, Rabu (2/8).

Tahun lalu, fenomena kabut asap memaksa anak-anak di Kota Pontianak libur sekolah. “Karena sudah ada hujan juga. Jadi kondisi tidak terlalu buruk. Tapi kita masih belum tahu ke depan,” ujarnya.

Wali Kota Sutarmidji biasanya mendapat laporan dari Dinas Lingkungan Hidup terkait kualitas udara. “Kalau udara tidak sehat, DLH akan sampaikan ke Pak Wali dan beliau akan instruksikan Dinas Pendidikan untuk meliburkan,” jelas Mulyadi.

 

Laporan: Syamsul Arifin, Deska Irnansyafara

Editor: Mohamad iQbaL

 

Facebook Comments