Pemkot Lahirkan Juru Pemantau Jentik

18
Ilustrasi DBD-net

eQuator.co.id –Pontianak. Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Pontianak tercatat naik tahun ini. Tapi kenaikan tersebut tidak signifikan. Musim pancaroba dianggap sebagai faktor utama timbulnya DBD.

Pada 2016, tercatat penderita DBD di Kota Pontianak sebanyak 85 orang. Jika dibandingkan, pada 2017 sampai September, terjadi kenaikan. Jumlah penderita sebanyak 79 orang.

“Masih ada interval waktu selama tiga bulan. Kami bertekad, jumlah penderita tidak naik sampai akhir tahun,” kata Saptiko M.Med Ph, Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Kota Pontianak, baru-baru ini.

Menurut Saptiko, perubahan cuaca yang ekstrem membuat grafik DBD naik. Secara umum, pihaknya sudah berupaya menciptakan lingkungan sehat dan bebas penyakit. Buktinya, selama beberapa tahun terakhir, kasus DBD tidak mengalami kenaikan.

“Kadang-kadang masyarakat lupa bahaya DBD. Jadi perlu diingatkan lagi. Saran saya, setiap warga harus jadi juru pemantau jentik di rumahnya masing-masing,” ucapnya.

Pemerintah Kota Pontianak pernah membuat program keliling rumah. Setiap seminggu sekali masyarakat diminta untuk keliling rumah tetangga guna melihat kondisi lingkungan.

“Rumahnya dicek, apakah ada jentik-jentik atau tidak. Kalau ada, langsung dibasmi,” ungkapnya.

Melihat fenomena alam saat ini, Dinas Kesehatan Kota Pontinak ingin menggalakan lagi program yang pernah ada. Keliling rumah warga untuk mengecek kondisi. Tapi dengan formula baru. Yakni melahirkan ‘Juru Pemantau Jentik’.

Kader juru pemantau jentik adalah masyarakat. Mereka secara sosial tergerak untuk turun langsung ke rumah-rumah masyarakat, membasmi pertumbuhan DBD. Setiap minggu. Tugasnya, melihat kondisi lingkungan di pemukiman warga.

“Kader-kader juru pemantau jentik ini juga bekerja memberikan penyuluhan-penyuluhan terhadap pasien-pasien yang datang ke Puskesmas dan masyarakat,” jelas Saptiko.

Jadi, selain memantau jentik dan memberikan sosialisasi, mereka juga memberikan larvasida yang ditaburkan di tempayan atau tempat penampungan air milik masyarakat. “Setiap kegiatan, mereka didampingi petugas Puskesmas,” kata Saptiko.

Juru pemantau jentik disebar di setiap kecamatan Kota Pontianak. Penyebarannya sebanyak 10 kader setiap kelurahan. “Setiap minggu mereka berpindah-pindah. Dari satu gang ke gang lainnya. Untuk keliling, begitu,” jelasnya.

Hingga detik ini, Dinkes Kota Pontianak terus memberikan pemahaman dan sosialisasi ke masyarakat tentang DBD. Caranya dengan turun langsung ke pemukiman warga. Juga melalui media sosial (medsos). (dsk)