Pejuang Miskin

93
Ilustrasi.NET

eQuator – “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan”. Kalimat bijak dari Proklamator sekaligus Presiden RI pertama, Ir Soekarno atau Bung Karno ini begitu populer hingga kini.

“Penampakan” kalimat mengagumkan ini terutama saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI atau peringatan Hari Pahlawan. Dari berbentuk penghias pidato hingga Display Picture (DP) BlackBerry Messenger (BBM).

Maksud dari “jasa para pahlawan” tersebut, tentunya berupa kemerdekaan ini. Sehingga untuk menghargainya, generasi penerus bangsa diharapkan untuk mengisi kemerdekaan ini dengan tekun belajar, bekerja keras, menggalakkan pembangunan serta…bla…bla…

Sayangnya, hanya “jasanya” yang dihargai bangsa ini, sementara “pahlawannya” diabaikan begitu saja. Lihat saja, berapa banyak pejuang kemerdekaan yang hingga kini hidup dalam kemiskinan.

Dari sekian banyak pejuang yang hidup melarat di era kemerdekaan ini, beberapa di antaranya sempat muncul ke permukaan melalui beberapa media massa di tanah air. Tetapi, belum mampu mengetuk hati para penikmat kemerdekaan.

Para pejuang yang hidup melarat itu sebut saja di antaranya Mbah Suma di Pekanbaru yang menjadi pembongkar tanah timbun, Misnan di Jember yang menjadi pedagang es, Mbah Darmono yang berharap dari anaknya yang kerja serabutan.

Kemudian ada pula Silam di Lamongan yang menjadi Tukang Sapu Gereja dan Balai Desa Pelang. Gunawan di Jambi yang menjadi sopir alat berat, serta Samsuri di Jawa Tengah yang menjadi pedagang permen jahe dan jamu keliling.

Tentunya masih banyak lagi para pejuang kemerdekaan yang hidup miskin, tetapi tidak muncul ke permukaan. Mereka “pejuang yang miskin”, tidak tersentuh “para pejuang kaum miskin” di zaman kemerdekaan ini. Miris (mordiadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here