Pahlawan

76
Ilustrasi.NET

eQuator – Bila berbincang-bincang dengan anak-anak atau remaja saat ini, cobalah untuk menanyakan, siapakah tokoh pahlawan yang diidolakannya, atau paling tidak, siapa yang diketahuinya.

Jawabannya sudah pasti berbeda-beda. Tetapi tetap saja seputar tokoh-tokoh animasi atau karakter dalam film. Misalnya, Naruto, Ultraman, Superman, Batman, Spiderman, X-Man, dan superhero lainnya.

Selain karakter produk luar tersebut, tentunya ada pula yang mengidolakan “produk” lokal, sebut saja Ganteng Ganteng Serigala, Putri Duyung dan lainnya yang sedang “in” saat ini.

Dapat dipastikan, sebagian besar anak dan remaja saat ini lebih mengenal para pahlawan khayalan tersebut. Mungkin sangat sedikit sekali yang mengenal pahlawan yang telah berjasa bagi Indonesia, walaupun gambarnya sudah dipasang di setiap lembaran Rupiah.

Bukan hanya soal mengidolakan, mengetahui atau mengenal, bicara tentang kemampuan pahlawan pun, para pahlawan Indonesia selalu tersisihkan dari benak anak dan remaja saat ini. Mereka lebih mengerti kemampuan superhero ketimbang pahlawan nasional.

Apa yang salah? Apakah dikarenakan kesalahan memahami kata “Pahlawan”, atau dikarenakan kurang kreatifnya para pemangku kepentingan dalam memperkenalkan para pahlawan yang telah berjasa bagi Indonesia?. Ini tentu menjadi tantangan bersama.

Pemahaman tentang siapa pahlawan itu memang perlu diluruskan. Bahwa pahlawan itu bukan sekedar sakti mandraguna atau mempunyai kekuatan super yang tidak dimiliki masyarakat pada umumnya, dan membela yang lemah. Pahlawan lebih dari itu.

Seperti diketahui, kata “Pahlawan” berasal dari bahasa Sanskerta, phala-wan, yakni orang yang menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara dan agama. Keberaniannya lebih menonjol dan pengorbannya pun tidak diragukan lagi dalam membela kebenaran.

Sehingga tidak berlebihan, bila bangsa Indonesia yang “makan jasa” para pahlawan yang sebenarnya, mesti meneladani, atau paling tidak, menghargai dan mengenang jasa-jasanya. Tetapi bagaimana mungkin bisa mengenang para pahlawan nasional, kalau generasi penerus lebih sering melihat dan mendengar superhero rekaan?

Ini merupakan tantangan bagi para para kreator di negeri ini, bagaimana agar para pahlawan Indonesia kembali diidolakan, tidak tersisih oleh superhero khayalan para pembuat film. Selamat Hari Pahlawan 10 November. (mordiadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here